Menurut laporan New Telegraph pada 28 September 2026, 5 kapal telah tiba di Lagos untuk memuat 150 Ribu ton urea curah dari Dangote Fertiliser selama bulan September. Kapal-kapal tersebut—Deniz M, Letizia, Kevel GS, Fiora Topic, dan MV Manna—masing-masing memiliki kapasitas muat 30.000 ton.
Tujuan pengiriman ke 5 negara, mencakup Brasil, Amerika Serikat, Argentina, Meksiko, Cile, dan pasar lainnya. New Telegraph menaksir nilai kargo tersebut sebesar N133 miliar (atau US$ 98,7 juta) dan mencatat harga urea di Brasil berkisar antara US$ 580–658 per ton.
Baca juga: Brasil Jalin Kerjasama dengan Maroko untuk Pasok Pupuk Fosfat
Angka-angka ini menjadi semakin signifikan jika melihat posisi Nigeria di pasar Brasil. Mengutip data Global Trade Tracker, New Telegraph melaporkan bahwa antara bulan Januari 2026 dan Agustus 2026, Nigeria memasok 26�ri total impor urea curah Brasil, diikuti oleh Oman (16%), Qatar (14%), Aljazair (13%), dan Rusia (12%).
NBS melaporkan bahwa urea menyumbang N1,7 triliun terhadap pendapatan ekspor bahan baku pada kuartal kedua, di tengah gangguan pengiriman dari Timur Tengah. Dangote memproduksi sekitar 3 juta ton urea granul per tahun dari kompleks Lekki senilai US$ 2,5 miliar, dan telah menetapkan tahun 2028 sebagai waktu bagi bisnis pupuknya untuk melantai di bursa saham (go public).
Data NPA sebelumnya menunjukkan adanya pengiriman 90.000 ton urea dari Nigeria ke Brasil, Argentina, Cile, dan Meksiko pada bulan Juli, yang diangkut oleh kapal Dubai Knight, Emma Bulk, dan White Wanderer (masing-masing 30.000 ton).
Data NPA juga mencatat ekspor sebesar 380.180 ton antara bulan Maret dan Mei 2026 menggunakan 13 kapal dengan tujuan Brasil, India, Amerika Serikat, Meksiko, Argentina, dan negara lainnya. Pada bulan Maret, tujuh kapal mengangkut total 200.180 ton: African Swift (30.000 ton), Porto Fiscado (30.000 ton), Binnur C Bluestar (22.000 ton); Antakya M (30.000 ton), C Leopard (28.180 ton), FN Ocean (30.000 ton), dan Xin Hai Tong 62 (30.000 ton).
Baca juga: Produksi Pupuk Urea Azerbaijan Turun Drastis di Tahun 2026
Pada bulan April 2026, terdapat tambahan pengiriman sebesar 90.000 ton yang diangkut oleh kapal Carina, Jasmund, dan Ken Wave (masing-masing 30.000 ton), sementara bulan Mei 2026 mencatat tambahan 90.000 ton melalui kapal Ming XI En Dian, Rishabh, dan Yong Jin (juga masing-masing 30.000 ton). New Telegraph menyebutkan bahwa peningkatan volume pada April 2026 tersebut terjadi menyusul kenaikan harga urea sebesar 89%.
NBS juga melaporkan pendapatan ekspor urea pada kuartal pertama (Q1) tahun 2026 sebesar N1,37 triliun (sekitar US$ 800 juta), meningkat N519 miliar dari angka N855 miliar pada Q1 2025. Indorama Eleme Fertilizer and Chemicals memproduksi sekitar 700.000 ton pada kuartal tersebut, sementara rata-rata produksi Dangote diperkirakan mencapai 750.000 ton.
Quantum Commodity Intelligence menyatakan bahwa ekspor Dangote belakangan ini meningkat seiring upaya pembeli mencari pasokan alternatif, dengan lonjakan permintaan yang terjadi setelah penutupan Selat Hormuz. Sebelum konflik Iran, sekitar seperlima dari ekspor pupuk global melewati jalur tersebut, dan gangguan di sana kini mengancam pasokan ke berbagai negara, termasuk Kenya dan Tanzania.
Baca juga: SABIC AN dan Samsung Teken Kontrak Pembangunan Kompleks Amonia
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pengiriman kargo selama periode Maret–Mei berlangsung di tengah tingginya permintaan, serta mencatat bahwa konflik di Timur Tengah mengancam ketahanan pangan di pasar urea yang bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk—seperti Kenya dan Tanzania—di saat para pembeli mencari sumber alternatif.
Nigeria tidak sekadar mengekspor urea; negara ini kini menjadi sumber pasokan fleksibel yang semakin penting bagi para pembeli yang harus menavigasi pasar global yang sedang mengalami gangguan. (*)
Editor : S. Anwar