Pelabuhan Klaipėda sudah siap. Terminal-terminalnya beroperasi, infrastrukturnya tersedia, dan logika komersial di balik pengiriman potas Belarusia melalui Lithuania pun masih tetap ada. Satu-satunya yang kurang hanyalah izin politik. Demikian disampaikan oleh Algis Latakas, Direktur Jenderal Otoritas Pelabuhan Laut Negara Klaipėda, yang menyatakan bahwa dimulainya kembali transit tersebut akan bergantung pada keputusan Uni Eropa dan iklim geopolitik.
Dengan kata lain, meskipun derek-derek pelabuhan mungkin sudah siap, keputusan untuk memberikan lampu hijau bukan berada di tangan pihak Klaipėda.
Baca juga: Dari Minsk ke New Orleans, Potas Belarus Diekspor ke Amerika Serikat
Latakas menegaskan bahwa sanksi Uni Eropa terhadap Belarusia masih berlaku hingga Februari 2027. Menurutnya, Lithuania tidak dapat mengambil keputusan sepihak untuk memulai kembali perdagangan tersebut. Hal ini menempatkan persoalan ini di luar kendali operator pelabuhan maupun perusahaan logistik, dan sepenuhnya berada di tangan para pembuat kebijakan Eropa.
Apakah tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dapat mengubah perhitungan tersebut? Posisi Washington telah bergeser.
Pada Maret 2026, Amerika Serikat menghapus Belaruskali dan perusahaan perdagangannya, Belarusian Potash Company (BPC), dari daftar SDN (Specially Designated Nationals)—daftar yang sebelumnya mencantumkan keduanya sejak Agustus 2021.
Pada pertengahan September 2026, Alexander Lukashenko menyatakan bahwa pengiriman potas Belarusia ke AS telah dimulai kembali menyusul dicabutnya sanksi Amerika Serikat. Namun, pelonggaran pembatasan oleh Amerika Serikat tidak secara otomatis membatalkan langkah-langkah Uni Eropa, dan juga tidak mewajibkan Lithuania untuk membuka kembali jalur yang telah ditutup berdasarkan kerangka hukum dan politiknya sendiri.
Lithuania mengakhiri kontrak transit dengan Belaruskali pada 1 Februari 2022. Sebelum jalur tersebut ditutup, Klaipėda biasanya menangani hampir seluruh ekspor tahunan potas Belarusia, yang mencapai sekitar 10–11 juta ton. Melalui BPC, Belaruskali mengekspor volume tersebut ke 107 negara, yang mencakup lebih dari 20% ekspor potas global.
Baca juga: Donald Trump Rebranding Artificial Intelligence Menjadi Super Intelligence
Sejak jalur melalui Lithuania ditutup, Belarusia mengalihkan pengirimannya melalui pelabuhan-pelabuhan Rusia dan juga memasok kebutuhan China melalui jalur kereta api.
Sinyal-sinyal politik yang muncul pun masih beragam. Menteri Luar Negeri Lithuania, Kęstutis Budrys, menyatakan bahwa transit tidak dapat dilanjutkan, sementara Perdana Menteri Mindaugas Sinkevičius mengatakan bahwa Vilnius belum menerima permintaan dari Amerika Serikat untuk mengizinkan pengiriman melalui wilayah Lithuania.
Di sisi lain, Latakas menyebutkan bahwa pihak pelabuhan sendiri sudah siap, namun keputusan akhir berada di tangan para politisi.
Baca juga: Langkah Baru Trump Terkait Potas Bikin Kanada Kecewa
Hal ini menjadi ujian bagi daya tawar Donald Trump. Menghapus sebuah perusahaan dari daftar sanksi AS mungkin dapat membuka satu pintu, tetapi langkah tersebut tidak serta-merta membuka semua pintu di sepanjang rantai pasok. Jika Washington menginginkan potas asal Belarusia dapat dikirim melalui Klaipėda, maka diperlukan perubahan sikap dari pihak Eropa, bukan sekadar perubahan kebijakan Amerika.
Bagi pasar pupuk global, taruhannya bersifat praktis sekaligus politis. Kembali digunakannya jalur Baltik dapat mengubah logistik, ekonomi pengangkutan, serta posisi kompetitif pasokan dari Belarusia. Namun, selama kebijakan Uni Eropa belum berubah, jalur tersebut hanyalah sebuah kemungkinan di atas kertas, bukan koridor ekspor yang benar-benar berfungsi.
Jadi, bisakah Trump membuka kembali gerbang tersebut? Pihak pelabuhan menyatakan kesiapannya. Lithuania tidak bisa memutuskan sendiri. Dan Brussels-lah yang tetap memegang kuncinya. (*)
Editor : S. Anwar