Pesan Terakhir Mariatni di Kegelapan Subuh

Reporter : Redaksi
Mariatni

Di sebuah rumah di Jalan Prambanan Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat, keluarga Letnan Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono—akrab disapa MT Haryono—menjalani hidup tanpa penjagaan khusus. Sang jenderal, kelahiran Surabaya 20 Januari 1924 itu, dikenal sebagai sosok yang enggan memanfaatkan fasilitas keamanan negara, dengan alasan sederhana : keluarganya tak perlu dijaga. Keputusan itulah yang kelak membuka jalan bagi tragedi yang mengubah hidup istri dan anak-anaknya selamanya.

Firasat yang Datang Sehari Sebelumnya

Baca juga: Pidato Soekarno di Sidang Umum PBB

Sehari sebelum petaka itu tiba, keluarga Haryono sudah merasakan kejanggalan. Seseorang yang diduga tentara sempat bertanya kepada anak-anaknya tentang di mana letak rumah mereka. Malam harinya, putri bungsu MT Haryono, Enda Marina, bermimpi buruk—ayahnya ditusuk tombak oleh orang-orang misterius hingga tak berdaya. Mimpi itu seolah menjadi pertanda dari apa yang akan terjadi hanya beberapa jam kemudian.

Ketukan di Pintu Dini Hari

Sekitar pukul empat pagi, 1 Oktober 1965, serombongan pasukan Cakrabirawa pimpinan Sersan Mayor Boengkoes tiba di depan rumah, mengetuk pintu sembari mengucap salam. Mariatni, sang istri, membukakan pintu dan mendengar alasan kedatangan mereka: Presiden Soekarno memanggil sang jenderal untuk rapat mendadak di Istana Bogor.

Putra ketiga mereka, Rianto Nurhadi, yang kala itu masih berusia sembilan tahun, kelak mengenang bahwa awalnya sang ibu sempat membujuk ayahnya untuk menunda pertemuan itu hingga esok pagi—namun akhirnya tetap membangunkannya juga.

MT Haryono, yang telah menangkap firasat buruk, segera mengunci pintu kamar dan memerintahkan istrinya berpindah bersama anak-anak ke kamar depan. Dalam ketenangan yang menyimpan ketegaran luar biasa, ia mengucapkan kalimat yang menjadi pesan terakhirnya kepada Mariatni: bahwa mereka akan membunuhnya, dan istrinya harus segera menyelamatkan diri bersama anak-anak.

Tak lama setelah itu, ia gugur ditembak dari belakang di rumahnya sendiri.

Baca juga: Biografi Ratna Sari Dewi Soekarno

Menjadi Saksi Kepedihan Sesama Istri Jenderal

Duka itu tak berhenti pada Mariatni seorang. Tak lama setelah kejadian, dengan isak tangis yang tak tertahankan, ia mendatangi rumah Sumirahayu—istri Letjen S. Parman yang juga baru saja kehilangan suaminya di malam yang sama—untuk mengabarkan tragedi yang baru saja merenggut hidup mereka berdua.

Dua perempuan, dua kehilangan, dalam satu malam yang sama.

Dari Air Mata, Lahir Kekuatan

Baca juga: 5 Tokoh Muhammadiyah di Balik Lahirnya Pancasila

Kepergian sang suami tak lantas membuat Mariatni berhenti berjuang. Ia harus membesarkan anak-anaknya sendirian, dan dengan keteguhan luar biasa, ia mulai berjualan anggrek—bunga kesukaan MT Haryono yang dulu mereka rawat bersama—serta membuat dan menjual kue untuk menyambung hidup keluarga.

Perlahan, dari hasil usaha kecil itu, ia bahkan berhasil membangun sejumlah paviliun yang kemudian disewakan, mengubah dirinya dari seorang ibu rumah tangga menjadi tulang punggung keluarga sepenuhnya.

Kisah Mariatni dan anak-anaknya bukan sekadar catatan kelam dalam sejarah bangsa. Ia adalah potret bagaimana kepedihan yang datang di tengah gelapnya subuh bisa berubah menjadi kekuatan yang menopang kehidupan bertahun-tahun setelahnya—sebuah kesaksian bahwa cinta dan ketegaran seorang ibu mampu bertahan, bahkan ketika dunia yang ia kenal runtuh dalam semalam. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru