Jurgen Sparwasser Pahlawan Sepakbola Jerman

Reporter : Redaksi
Jurgen Sparwasser

Nanti, kalau saya mati, jangan tulis nama saya di batu nisan. Cukup tulis 'Hamburg 1974'. Semua orang akan tahu siapa yang terkubur di bawahnya." Itulah kalimat kelakar namun menyayat hati dari Jurgen Sparwasser. 

Pria yang hanya dengan satu tendangan, mengubah sejarah Perang Dingin, mempermalukan Jerman Barat di kandangnya sendiri, dan secara tak sengaja menghancurkan sisa hidupnya. 

Baca juga: Daftar Peserta Piala Dunia 2026

Tanggal 22 Juni 1974. Piala Dunia di Hamburg, Jerman Barat. Laga paling berdarah dalam sejarah ideologi: Jerman Barat (Kapitalis) vs Jerman Timur (Komunis). Di menit ke-77, Sparwasser (striker Jerman Timur) menerima bola, melewati dua bek Jerman Barat, dan merobek gawang Sepp Maier. 

Jerman Timur menang 1-0! Gol itu menjadikan Sparwasser sebagai "ikon propaganda bagi rezim K0munis Jerman Timur. Ia dianggap pahlawan kelas pekerja yang menaklukkan kaum borjuis. Tapi tahukah kalian apa yang terjadi pada Sang Pahlawan setelah ia pulang ke negaranya? NERAKA. 

Alih-alih dielu-elukan, hidup Sparwasser berubah jadi mimpi buruk. Rumor hoaks menyebar di Jerman Timur bahwa ia diberi hadiah mobil mewah dan rumah oleh pemerintah. Rakyat pun cemburu dan berbalik membencinya. 

Di setiap stadion, ia dicemooh dan disiuli oleh bangsanya sendiri! "Bonus yang saya terima cuma 2.500 Mark. Saya nggak pernah dikasih rumah atau mobil. Itu fitnah," bantahnya getir. Pemerintah K0munis (Stasi/Polisi Rahasia) mulai mengeksploitasi ketenarannya. 

Sparwasser dipaksa menjadi alat propaganda. Ketika ia menolak perintah untuk menjadi manajer klub FC Magdeburg, ia dihukum brutal. Dikucilkan, dilarang kuliah, dan hanya diberi pekerjaan serabutan rendahan! Muak hidup dalam sangkar diktator, pada 10 Januari 1988, Sparwasser mengambil keputusan paling nekat. 

Memanfaatkan sebuah pertandingan reuni veteran di perbatasan, ia dan istrinya kabur menyeberang ke Jerman Barat! Seketika itu juga, Sang Pahlawan Komunis dicap sebagai "Pengkhianat Negara Nomor Satu". 

Baca juga: Raja Playboy yang Memilih Pemain Skuad Timnas Rumania Untuk Piala Dunia

Pemerintah Jerman Timur murka! Mereka menyandera dan menginterogasi putri Sparwasser (yang sedang hamil besar dan tak ikut kabur) selama 12 jam non-stop. Polisi rahasia mengancam akan mengusir putrinya dari rumah, memecatnya dari pekerjaan, dan memaksa suaminya masuk wajib militer. 

Beruntung, Sparwasser yang bersembunyi di Jerman Barat menggunakan koneksi jurnalis koran Bild untuk mengancam balik rezim Jerman Timur melalui artikel pedas di media. 

Tekanan media Barat itu akhirnya membuat pemerintah Komunis ketakutan dan melepaskan putrinya. Ironisnya, gol kemenangan Sparwasser di tahun 1974 itu sebenarnya justru menguntungkan Jerman Barat. Gara-gara kalah, Jerman Barat terhindar dari "Grup Neraka" (Belanda & Brasil) di ronde kedua, dan justru melenggang mudah hingga akhirnya keluar sebagai juara dunia 1974! 

Bahkan legenda Jerman Barat, Franz Beckenbauer, sambil tertawa pernah berkata : "Tolong berikan medali emas Piala Dunia ekstra untuk Sparwasser!" 

Baca juga: Joao Havelange Membuat FIFA dan Piala Dunia Menjadi Komersil

Setahun setelah pelarian Sparwasser (1989), Tembok Berlin runtuh. Jerman kembali bersatu. Namun trauma Sparwasser tak pernah benar-benar hilang. 

Di usia tuanya, ia menolak untuk membaca dokumen rahasia Stasi tentang dirinya. Ia takut jika membaca dokumen itu, ia akan menemukan fakta bahwa sahabat-sahabat karibnya di klub dulu ternyata adalah mata-mata yang mengkhianatinya. 

Satu gol di Piala Dunia membuat namanya abadi, namun harga yang harus ia bayar adalah kehilangan kebebasan dan rasa percayanya pada manusia. (*)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru