Harga Sulfur India Melonjak Dua Kali Lipat Sejak Awal Tahun 2026

Reporter : Redaksi
Sulfur India

Menurut The Indian Express, harga sulfur yang sampai di India (landed price) telah melonjak dua kali lipat sejak awal tahun 2026 menjadi US$ 1.050–1.100 per ton. Sebuah sumber industri yang dikutip dalam laporan tersebut menyebutkan harga saat ini berada di kisaran US$ 1.070 per ton, setelah sempat menyentuh angka US$1.150 per ton dua bulan Agustus 2026 lalu.

India mengonsumsi sekitar 3,8–3,9 juta ton sulfur setiap tahun, dengan industri pupuk menyerap 2–2,1 juta ton di antaranya. Secara global, konsumsi sulfur mencapai sekitar 70 juta ton per tahun, dan pupuk menyumbang sekitar 60�ri permintaan tersebut.

Baca juga: Langkah Baru Trump Terkait Potas Bikin Kanada Kecewa

Hanya sekitar 10�ri produksi sulfur global yang diperoleh melalui penambangan langsung. Sebanyak 56% lainnya berasal dari penyulingan minyak bumi dan 34�ri pengolahan gas alam. Dengan kata lain, sebagian besar sulfur yang dibutuhkan sektor pertanian pada dasarnya merupakan produk sampingan dari sistem energi.

Situasi menjadi jauh lebih mengkhawatirkan ketika kilang minyak, kompleks gas, dan fasilitas energi menjadi sasaran serangan. Bagi India, perbedaan sumber ini sangatlah penting. Gangguan di sektor hulu dapat berdampak pada sektor hilir berupa kenaikan biaya pupuk DAP (Diammonium Fosfat), SSP, dan pupuk majemuk (complex fertilizers).

The Indian Express melaporkan bahwa serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan kompleks gas Rusia, ditambah dengan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, telah memperketat ketersediaan sulfur. Rusia juga telah melarang ekspor sulfur dan asam sulfat demi melindungi produksi pupuk dalam negeri, sementara Tiongkok membatasi ekspor asam sulfat.

Dan di sinilah kisah mengenai sulfur berubah menjadi kisah mengenai pupuk.

Baca juga: Rusia dan India Sepakat Bangun Pabrik Urea di Rusia

Sebagian besar sulfur diolah menjadi asam sulfat, yang sangat penting untuk memproses batuan fosfat menjadi bentuk yang larut dalam air agar dapat diserap oleh tanaman. Tanpa sulfur dan asam sulfat, India tidak dapat memproduksi DAP, SSP, ataupun pupuk majemuk utama seperti jenis 20:20:0:13, 10:26:26, dan 12:32:16.

Harga impor sulfur India sebelumnya umumnya berada di bawah US$ 200 per ton, bahkan sempat berada di bawah US$ 100 per ton selama beberapa bulan pada tahun 2019 dan 2020. Selama periode Maret–Juni 2022, harga melonjak hingga kisaran US$400–500 per ton sebelum kembali turun ke bawah US$ 200 per ton dari akhir tahun 2022 hingga awal 2025. Pada Desember 2025, harga sampai di tempat (landed price) telah melampaui US$ 500 per ton.

Saat ini, harga di India berada di kisaran US$ 1.070 per ton. Selain itu, belerang juga memiliki pelanggan lain yang memperebutkan komoditas yang sama: sektor transisi energi.

Permintaan asam sulfat yang terkait dengan pengolahan nikel meningkat dari 3,5 juta ton pada tahun 2021 menjadi 16 juta ton pada tahun 2025; sebagian besar lonjakan ini didorong oleh produksi produk antara nikel (nickel intermediates) di Indonesia yang digunakan untuk baterai kendaraan listrik.

Dengan demikian, komoditas yang dulunya dianggap sepele oleh para produsen pupuk kini berada di titik temu berbagai sektor: pertanian, energi, geopolitik, dan baterai.

Bagi pembeli di India, hal yang meresahkan bukanlah sekadar masalah harga. Masalah utamanya adalah volatilitas harga tersebut serta risiko terjadinya kembali kelangkaan pasokan sebelum stok kembali pulih. Pasar belerang di India telah memberikan pelajaran yang cukup mahal : ketika sebuah "produk sampingan" menjadi komponen vital dalam produksi pangan, komoditas tersebut tidak bisa lagi diperlakukan sekadar sebagai produk sampingan. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru