Provinsi Kalimantan Timur memiliki tokoh pejuang perempuan yang masih tercatat sampai sekarang ini. Perjuangan dan dedikasinya serta sumbangsihnya sangat besar terhadap bangsa dan negara.
Siapa saja tokoh perempuan itu? Berikut ulasannya.
Baca juga: Pelaku Penambangan Ilegal KHDTK Universitas Mulawarman Ditangkap
1. Aminah Syukur
Lahir di Palembang pada 20 Januari 1901 dengan nama Atje Voorstad, ia kemudian dikenal sebagai Aminah Syukur setelah menetap di Samarinda.
Pada tahun 1928, Aminah bersama suaminya, Mohammad Jacob, mendirikan Meisje School di kawasan Yacob Steg, yang kini menjadi Jalan Mutiara. Sekolah tersebut memberikan akses pendidikan bagi masyarakat pribumi, khususnya anak perempuan.
20 Januari 1901
Selain mengajar di sekolah, Aminah Syukur juga memberikan pelajaran privat dan menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar.
Sejumlah muridnya kemudian menjadi tokoh masyarakat, di antaranya Laslah Sabirin dan Djumantan Hasyim. Jasanya tercatat dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kalimantan Timur.
Aminah Syukur wafat di Jakarta pada 3 Maret 1968 dan makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Samarinda pada 21 April 1970. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan dan sekolah di Samarinda
2. Salbiah
Salbiah merupakan tokoh perempuan Kalimantan Timur yang tercatat dalam sejarah pergerakan kebangsaan di Samarinda pada dekade 1940-an. la menjadi salah satu pengurus Rukun Pemuda Indonesia (Rupindo), organisasi yang berdiri pada 1940 untuk menghimpun kaum muda dalam gerakan kebangsaan.
Salbiah tercatat bersama sejumlah perempuan lainnya, seperti Masriah, Fatimah, Halimatussa'diyah, Norsehah, Sadarlah, dan Aad Sangadji.
Keterlibatan mereka menunjukkan mulai terbukanya ruang bagi perempuan Samarinda dalam organisasi dan kehidupan sosial-politik.
Pada 26-29 Maret 1948, Salbiah menghadiri Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan (Gappika) di Barabai, Kalimantan Selatan. la hadir bersama tokoh pemuda Kalimantan Timur, termasuk Moeis Hassan dan Oemar Dachlan, dalam upaya memperkuat persatuan pemuda di Kalimantan.
3. Djumantan Hasyim
la tercatat sebagai perempuan pertama yang menjadi anggota DPRD Kalimantan Timur sejak 1957, ketika keterwakilan perempuan di politik masih sangat terbatas.
Djumantan memiliki keterkaitan dengan organisasi Aisyiyah dan pernah menjadi murid Meisje School yang didirikan Aminah Syukur di Samarinda. Kiprahnya di DPRD Kaltim tidak hanya menjadi simbol keterwakilan perempuan, tetapi juga terlibat dalam dinamika politik daerah.
4. Dorinawati Samalo
Baca juga: Polres Jepara Gelar Operasi Patuh Candi 2024
Dorinawati Samalo atau Ny. Lo Beng Long merupakan tokoh perempuan yang berperan dalam sejarah awal pendidikan tinggi di Kalimantan Timur. la terlibat dalam pendirian Perguruan Tinggi Mulawarman yang menjadi cikal bakal Universitas Mulawarman pada 1962.
Dalam Yayasan Perguruan Tinggi Mulawarman, Dorinawati dipercaya sebagai bendahara untuk mendukung kebutuhan awal perguruan tinggi. Bersama keluarganya, ia juga menghibahkan rumah panggung di Jalan Flores, Samarinda, untuk digunakan sebagai tempat kegiatan pendidikan dan mahasiswa.
Rumah tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah awal Kampus Flores Universitas Mulawarman.
5. Fatimah Moeis
la lahir di Samarinda pada 8 Juni 1928 dan pernah menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) sebelum terhenti akibat invasi Jepang.
Sejak remaja, Fatimah aktif dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan kemudian bergabung dengan Rukun Pemuda Indonesia (Rupindo) sebagai bendahara bagian keputrian.
Setelah kemerdekaan, ia tetap aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi Wakil Ketua Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian Kaltim periode 1956-1960.
Pada tahun 1963, Fatimah dipercaya menjadi Komandan Korps Sukarelawati Kalimantan Timur dalam menghadapi situasi konfrontasi Indonesia-Malaysia.
6. Lasiah Sabirin
la memiliki kaitan dengan Aminah Syukur, tokoh pendidikan perempuan yang mendirikan Meisje School pada tahun 1928. Berbeda dengan Djumantan Hasyim, Lasiah tidak bersekolah di Meisje School, tetapi mendapatkan pelajaran bahasa Belanda secara privat dari Aminah Syukur.
Pendidikan tersebut membantu Lasiah mengembangkan aktivitasnya di tengah masyarakat. la kemudian dikenal sebagai aktivis Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.
Lasiah juga disebut sebagai salah satu tokoh yang merintis Badan Kerjasama Organisasi Wanita Samarinda.
7. Masriah
la tercatat sebagai bagian dari Rukun Pemuda Indonesia (Rupindo), organisasi kepemudaan yang berdiri di Samarinda keper pada tahun 1940 dan memberi ruang bagi perempuan dalam kepengurusan.
Masriah terlibat bersama sejumlah perempuan lainnya, seperti Salbiah, Fatimah, Halimatussa'diyah, Norsehah, Sadariah, dan Aad Sangadji.
Keterlibatannya menunjukkan bahwa perempuan Samarinda mulai aktif dalam organisasi yang membawa semangat kebangsaan. (*)
*) Source : Arus bawah
Editor : S. Anwar