In Memoriam KH Wahid Hasyim

Reporter : Redaksi
K.H. Wahid Hasyim

Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim (1914-1953), seorang pemimpin-ulama Nahdlatul Ulama (NU) dan putra Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, ayah dari Gus Dur Presiden ke-4 Republik Indonesia, anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan (BPUPK) dan pembina Partai Masyumi

Kedudukan K.H. Wahid Hasyim semasa hidup sangat dihormati dan disukai banyak orang. Bukan semata-mata karena nasabnya tersambung dengan sang ayah yang juga seorang kiai besar melainkan karena kemuliaan pribadinya.

Baca juga: Pendiri Yayasan Panca Wahana Tuding Pemilihan Rektor UNUBA Cacat Hukum

Pada awal masa kemerdekaan Indonesia, K.H. Wahid Hasyim membidani kelahiran Partai Politik Islam Masyumi (1945) bersama K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Prawoto Mangkusasmito, dr Abu Hanifah, Mohammad Mawardi, dan kawan-kawan.

Meski akhirnya Nahdlatul Ulama berpisah dengan Partai Masyumi pada tahun 1952. Para fungsionaris Masyumi dan Nahdlatul Ulama masih menjaga hubungan persahabatan yang baik terutama dengan K.H. Wahid Hasyim

Usianya tidak terlampau panjang. Ayah dari Gus Dur ini wafat pada usia yang terbilang muda yakni 39 tahun. Ketika beliau wafat, Moh. Natsir sangat terkejut hingga menangis tersedu-sedu. Buya Hamka menjadi saksi yang mengenang kesedihannnya :

“Hampir lima menit Natsir berurai air mata. Setelah dia tenang kembali, Natsir berkata, "Suatu kehilangan besar buat kita, sudah berkurang lagi seorang teman seperjuangan yang bertukar pikiran dengan baik persesuaian maupun perselisihan."

Mengiringi kewafatannya, sebagai bentuk penghormatan, Suara Partai Masjumi memasang foto K.H. Wahid Hasyim pada salah satu sampul edisinya serta menulis obituari untuk mengenangnya. 

"Seorang keluaran pesantren jang semata-mata dididik dengan pengetahuan agama belaka, achirnja dapat djuga mendjadi orang terkemuka, orang besar. Mendjadi pemimpin dalam partai politik. Mendjadi menteri dalam negara. Ini adalah suatu keistimewaan. Djarang bertemu dan sukar didapat. Ia tak pernah menempuh sekolah, walau apa sadja namanja."

Redaksi juga menguraikan keseharian, cara berbusana, dan kepribadian K.H. Wahid Hasyim yang unik dan patut dijadikan teladan oleh para pembacanya sebagai berikut :

Baca juga: Pelantikan Pengurus Nahdlatul Ulama Burneh Bangkalan

"Kehidupannja jang biasa berlaku sehari-hari, djuga memperlihatkan keutuhan dan keuletan. Kesukaannja berpakaian bersih dan mentereng. Terdiri dari bahan-bahan jang mahal, dasinja berkilat-kilat. Badannja gemuk sehat. Hidupnja ramah-tamah. Suka bergaul dan ahli pidato jang mahir djua. Pendiriannja kuat, tak mudah dilemahkan. Djiwanja besar, tjita-tjitanja tinggi"

Sosoknya cinta pada keindahan dan masagi sebagai seorang figur teladan umat yang membanggakan.

"Seorang jang gemar sekali kepada keindahan dan kebersihan. Mempunjai djiwa pemimpin jang besar. Ia ahli agama, ulama besar, ahli politik, ahli dagang, dan djuga mempunjai djiwa wartawan."

Usaha dan jasanya dikenang dalam bingkai kebaikan.

Baca juga: Surat Terbuka untuk Gus Ulil dari Social Movement Institute

"Inilah usaha Wahid Hasjim jang tak dapat diketjilkan sedikit djuga. Dalam gelanggang perdjuangan jang besar, ia hampir senantiasa mendjadi perintis dan pelopornja. Namanja tjukup mendjadi djaminan, untuk kepertjajaan ummat Islam. Walaupun usianja masih sangat muda, maka selain mendjadi anggota Pengurus Besar Masjumi, ia dipilih pula mendjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masjumi. Di dalam kabinet pertama (Kabinet Sukarno) jang dibentuk bulan September 1945, ia dipilih mendjadi Menteri Negara."

Tak ada gading yang tidak retak, begitu juga dengan perjalanan karier K.H. Wahid Hasyim, berkenaan dengan hal ini, redaksi menceritakan pengalaman pahit yang dirasakannya ketika masih menjabat sebagai Menteri Agama di Kabinet Soekiman. Saat itu, jamaah haji Indonesia gagal berangkat ke Tanah Suci pada tahun 1952.

Redaksi majalah mengenang perpisahan antara Masyumi dengan Nahdlatul Ulama. Tatkala membahas bagian tersebut, sama sekali tidak dijumpai nada yang menyudutkan ayah Gus Dur ini. Obituari ini dipungkas dengan sebuah doa, "Mudah-mudahan Allah memberkahi segala amalnja. Amin." (*)

*) Source : Naufal Al-Zahra (Peneliti Sejarah Partikelir)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru