Fathan Putra Rifito, Putra Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono Peraih Adhi Makayasa

Reporter : Redaksi
Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono dan Fathan Putra Rifito

Pelantikan 2.000 Perwira Remaja (Praja) TNI dan Polri dalam Upacara Prasetya Perwira (Praspa) di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (23/7/2025), dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Hor) (Purn) Prabowo Subianto. Para Perwira Remaja terdiri dari 827 lulusan Akademi Militer (Akmil), 433 dari Akademi Angkatan Laut (AAL), 293 dari Akademi Angkatan Udara (AAU), dan 447 dari Akademi Kepolisian (Akpol).

 Pelantikan ini berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 56 TNI Tahun 2025 dan Keppres Nomor 57 Polri Tahun 2025. Presiden Prabowo juga menyematkan tanda pangkat kepada delapan perwakilan Praja terbaik, penerima penghargaan Adhi Makayasa. Mereka adalah Alim Bimo Pratowo dan Muhammad Afridzal Muchlis (Akmil), Menanda Putra Duta dan Aryya Handaru (AAL), Evan Basith Reswara dan Axel Fahreza Aditama (AAU), serta Muhammad Malik Aditya Kurniawan dan Fathan Putra Rifito (Akpol).

Baca juga: Ipda Panji Arjunsyah Putra, Kapolsek Kota Masohi Meninggal Dunia

Fathan Putra Rifito adalah anak Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono. Selain peraih Adhi Makayasa, Fathan juga meraih Piagam dan mendali Ati Tanggon, sebagai penghargaan atas nilai karakter terbaik selama masa pendidikan di Akademi Kepolisian.

Fathan merupakan putra dari pasangan Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono yang merupakan anggota Polri aktif, dan Hening Fitricia. Barito pernah menjabat Kapolres Konawe, Sulawesi Tenggara pada tahun 2014.

Saat masih Sekolah Dasar (SD), Fathan Putra Rifito menempuh pendidikan di Kecamatan Unaaha, Konawe. Fathan Putra Rifito alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Nusantara Magelang angkatan 2022. Prestasi yang diraih Fathan Putra Rifito ini tampaknya tak lepas dari didikan sang ayah. Irjen Barito dikenal sebagai perwira intelektual karena menulis sejumlah buku.

Lahir di Jakarta pada 18 November 1974, jejak Barito sudah menunjukan keunikan sejak awal. Sebagai angkatan pertama dari sekolah bergengsi SMA Taruna Nusantara, ia ditempa dengan disiplin militer dan keunggulan akademik.

Setelah lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1996, Barito pernah menempati sejumlah jabatan strategis.

Dia pernah menjadi Kapolsek di Purwokerto, Kasat Intelkam di Cilacap dan Singkawang, hingga Kapolres di Konawe. Dia juga sempat menjabat sebagai Wakil Direktur Intelkam Polda Jawa Barat.

Lalu ditugaskan sebagai Staf Ahli di Badan Intelijen Negara (BIN) di Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kini menjadi Analis Kebijakan Utama Bidang Sespimti Lemdiklat Polri.

Pengalamannya ini memberinya pemahaman mendalam tentang realitas sosial di masyarakat. Namun, disisi lain, naluri intelektual nya terus bekerja.

Dia bukan sekedar Jenderal dengan deretan bintang dipundak, melainkan seorang pemikir, akademisi, dan penulis yang telah lama membedah ancaman terbesar abad ini: hoax dan perang informasi.

Saat banyak perwira fokus pada karier penindakan, Barito justru menenggelamkan diri dalam dunia kajian ilmu. Puncaknya adalah ketika ia meraih gelar Doktor dari program studi Kajian Budaya dan Media di Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 2013 dengan predikat cumlaude.

Baca juga: 8000 Orang Sudah Daftar Rekrutmen Akpol

Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian atau PTIK (2005), Sespimmen (2011), dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I Lembaga Administrasi Negara (2020). Sebuah pencapaian langka bagi seorang perwira polisi aktif, yang menandakan kegelisahannya terhadap fenomena sosial dan media yang sedang berubah dratis.

Kombinasi antara pengalaman lapangan dan ketajaman akademis inilah yang menjadi kekuatannya.

Kegelisahannya terhadap ancaman diruang Siber ia tuangkan dalam serangkaian penelitian dan buku yang relevan dengan kondisi kekinian.

Jauh sebelum istilah post-truth menjadi perbincangan umum, Barito telah menulis karya-karya penting seperti :

- Cyber-hoaxes dan implikasinya bagi Stabilitas Keamanan Nasional (2018)

- Kebohongan di Dunia Maya (2018)

Baca juga: Jadwal Pendaftaran AKPOL 2025 dan Syaratnya

- Demokrasi di Era Post Truth (2021)

- Medsos di Antara Dua Kutub (2021).

Buku-buku ini bukan sekedar tulisan, melainkan analisis strategis tentang bagaimana berita bohong dan perang narasi di media sosial dapat mengancam stabilitas negara dan memicu potensi disintegrasi bangsa. Ia membedah anatomi hoax, dari isu ideologi Pancasila hingga berita palsu seputar vaksin Covid-19, menunjukan betapa berbahayanya ancaman tak terlihat ini.

Dari ruang-ruang diskusi di UGM, jalanan sebagai Kapolsek, hingga koridor senyap Badan Intelijen Negara, perjalanan karier Irjen Barito adalah cerminan dari tantangan zaman.

Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono adalah sosok jenderal yang tidak hanya memegang senjata, tetapi juga pena dan gagasan untuk melawan musuh terbesar demokrasi modern: kebohongan. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru