Ambisi India untuk Kurangi Impor Urea
India berencana menambah kapasitas produksi urea tahunan sebesar 13,7 juta ton hingga tahun 2030, sehingga meningkatkan kapasitas domestik menjadi sekitar 43,7 juta ton per tahun, menurut laporan yang diterbitkan oleh Mint, India. Tujuannya jelas : mengurangi ketergantungan pada impor urea, melindungi petani dari volatilitas harga pupuk internasional, dan memperkuat ketahanan pangan. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah industri ini mampu mewujudkannya.
Permintaan urea tahunan India mencapai sekitar 40 juta ton, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 5%. Produksi dalam negeri memenuhi sekitar 75�ri kebutuhan tersebut, sementara sisanya, yakni 25%, dipenuhi melalui impor. Menjelang tahun 2030, permintaan diproyeksikan mencapai 48,61 juta ton; artinya, target kapasitas sebesar 43,5–43,7 juta ton secara teoretis akan mampu mencakup sekitar 90�ri kebutuhan domestik.
Ekspansi ini didasarkan pada beberapa inisiatif. Kebijakan Investasi Nasional untuk Urea-2026 (National Investment Policy for Urea-2026/NIPU-2026), yang telah disetujui oleh Kabinet Uni (Union Cabinet), mencakup penambahan kapasitas tahunan sebesar 10 juta ton. Selain itu, terdapat dua proyek domestik lainnya—masing-masing dirancang untuk memproduksi 1,27 juta ton per tahun—serta sebuah usulan usaha patungan yang melibatkan produsen pupuk asal Rusia.
Rangkaian investasi ini tergolong besar, namun tidak semua usulan telah sampai pada tahap pembangunan fisik. Menurut Mint, Departemen Pupuk telah menerima 17 proposal yang melibatkan berbagai perusahaan, termasuk GAIL, Hindustan Urvarak & Rasayan Ltd (HURL), KRIBHCO, Chambal Fertilisers, dan Matix Fertilizers. Usulan-usulan investasi tersebut mencakup proyek-proyek yang saat ini berada dalam berbagai tahapan pemeriksaan.
Dua proyek di antaranya menggambarkan ambisi sekaligus tantangan dalam pelaksanaannya. Talcher Fertilizers—yang diprakarsai oleh GAIL, Rashtriya Chemicals & Fertilizers, Coal India, dan Fertilizers Corporation of India—sedang mengembangkan pabrik baru (greenfield plant) di Odisha dengan kapasitas tahunan sebesar 1,27 juta ton yang menggunakan teknologi gasifikasi batu bara. Penyelesaian proyek diperkirakan akan tercapai pada tahun fiskal 2028. Sementara itu, Assam Valley Fertilizer and Chemical Company tengah mengembangkan pabrik lain berkapasitas 1,27 juta ton di Assam.
Aspek ekonomi menjelaskan mengapa hal ini mendesak. EY India memperkirakan bahwa setiap tambahan kapasitas domestik sebesar 1 juta ton yang menggantikan impor dapat menghemat devisa sekitar $ 500 juta per tahun. Namun, pembangunan pabrik baru memerlukan pendanaan, konstruksi, proses persiapan operasional (commissioning), serta pasokan bahan baku yang andal, sementara konsumsi yang terus meningkat terus mendorong permintaan lebih tinggi.
Bagi pasar urea global, implikasinya cukup signifikan. Jika India mampu merealisasikan kapasitas yang direncanakan sesuai jadwal, kebutuhan impor strukturalnya dapat menurun. Hal ini berpotensi mengubah pola permintaan terhadap urea jenis prilled dari Tiongkok, urea jenis granular dari Timur Tengah, serta pasokan dari negara pengekspor lainnya.
Sebaliknya, jika proyek-proyek tersebut mengalami penundaan, para eksportir mungkin akan terus melihat India kembali ke pasar internasional melalui tender-tender berskala besar, meskipun swasembada domestik tetap menjadi tujuan utama pemerintah pusat.
India telah menetapkan tujuannya. Kini, tantangan sesungguhnya dimulai: bagaimana mencapainya pada tahun 2030. (*)
Editor : S. Anwar