Tiga Kelompok yang Membuat Ciputra Jadi Perusahaan Besar

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ciputra
Ciputra
grosir-buah-surabaya

Ciputra membangun tiga kelompok usaha besar sepanjang hidupnya. Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Menariknya, hampir tak satu pun dimulai dengan uangnya sendiri.

Kekuatan Ciputra bukan terletak pada modal. Ia tahu siapa yang harus dipertemukan agar sebuah kota dapat dibangun. 

Di satu meja, Ciputra dapat mempertemukan Pemerintah yang memiliki lahan, pengusaha yang memiliki uang, dan profesional yang mengerti cara membangun.

Ia tidak selalu menjadi pemegang saham terbesar. Namun berkali-kali, ia menjadi orang yang menyusun arah permainannya.

Kali ini akan membedah jaringan itu satu per satu.

Jaringan pertama Ciputra lahir di Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat masih kuliah arsitektur, ia membuka biro konsultasi bersama Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Usahanya memang kecil. Namun hubungan mereka bertahan jauh lebih lama daripada biro tersebut.

Belasan tahun kemudian, ketika Ciputra membangun Metropolitan Development, Brasali dan Sofyan kembali duduk di sisinya. 

Pada tahun 1961, Ciputra masuk ke orbit Hasjim Ning, salah satu pengusaha pribumi terbesar pada masa itu. Mereka bersama sejumlah investor membangun Pembangunan Jaya dengan Pemerintah DKI Jakarta.

Hasjim membawa nama dan modal. DKI membawa kewenangan serta kebutuhan pembangunan.

Ciputra dipercaya menjalankan semuanya. Kepercayaan itu diuji melalui Proyek Senen.

Setelah proyek tersebut menunjukkan hasil, Ali Sadikin mulai menyerahkan pekerjaan yang lebih besar kepada Pembangunan Jaya. Ancol, lima terminal kota, gedung pemerintahan, dan berbagai proyek Jakarta kemudian masuk ke tangan mereka.

Beberapa diberikan tanpa lelang. Ali tetap membelanya ketika keputusan tersebut dipersoalkan pemerintah pusat.

Ali Sadikin ingin Jakarta memiliki perusahaan seperti Jepang memiliki Mitsui dan Mitsubishi. Pembangunan Jaya dipersiapkan untuk memainkan peran itu. Namun Ciputra bukan pemilik utamanya. Ia adalah pengelola yang kemudian memperoleh saham karena kontribusinya.

Pengaruhnya jauh lebih besar daripada porsi kepemilikannya. Di sinilah pola bisnis Ciputra mulai terlihat.

Ciputra pernah menggambarkan dirinya sebagai kuda, sementara gubernur Jakarta adalah penunggangnya. Selama kudanya kuat, siapa pun gubernurnya akan tetap membutuhkan dirinya. Dan memang begitu yang terjadi.

Ali Sadikin pergi, tetapi Ciputra tetap dapat bekerja dengan pemerintahan berikutnya. Hubungannya tidak bergantung pada satu tokoh, melainkan pada reputasi sebagai orang yang mampu menyelesaikan proyek.

Pada tahun 1970, Ciputra membangun kerajaan kedua. Bersama Ismail Sofyan, Budi Brasali, Budiman Kusika, Subagdja Prawata, Soekrisman, dan Secakusuma, ia mendirikan Metropolitan Development.

Mereka punya pengetahuan dan pengalaman, tetapi modalnya terbatas.

Sampai suatu hari, Liem Sioe Liong dan Djuhar Sutanto datang membawa sebuah tawaran. Liem dan Djuhar ingin Ciputra mengembangkan lahan di Sunter. Ciputra menolak.

Ia justru mengajak mereka melihat Pondok Pinang, kawasan yang saat itu masih dipenuhi kebun karet dan sawah. Ciputra melihat calon perumahan elite. Liem melihat orang yang memahami bisnis properti lebih baik darinya. Kesepakatan pun tercapai, dengan pembagian yang cukup mengejutkan

Seluruh modal ditanggung Liem dan Djuhar. Namun 50 persen saham tetap diberikan kepada Ciputra dan kelompok Metropolitan.

Liem juga membawa Ibrahim Risjad serta Sudwikatmono. Bersama-sama mereka membentuk Metropolitan Kentjana, perusahaan di balik Pondok Indah. Liem membawa uang dan jaringan. Ciputra membawa konsep, eksekusi, serta kemampuan membaca arah pertumbuhan Jakarta.

Anthony Salim pernah mengatakan bahwa ia belajar bisnis properti dari Ciputra. Sebaliknya, jaringan Salim membawa Ciputra bertemu S.P. Tao, Henry Kwee, dan Simon Keswick dari Jardine.

Pertemuan mereka melahirkan PT Jakarta Land dan Wisma Metropolitan di Jalan Sudirman. Bersama Tao, Ciputra kemudian terlibat dalam pengembangan Marina Square di Singapura.

Kemampuan Ciputra menyusun aliansi mencapai bentuk terbesarnya di Bumi Serpong Damai. Proyek itu terlalu besar untuk satu kelompok.

Sebelas perusahaan akhirnya bergabung. Di dalamnya ada Pembangunan Jaya, Metropolitan Kentjana, Salim Group, dan Sinar Mas milik Eka Tjipta Widjaja.

Empat kerajaan bisnis berada dalam satu proyek. Ciputra kembali berdiri di tengahnya. Namun nama besar tidak selalu menjamin keberhasilan.

Ciputra dan Liem pernah masuk ke PT Cold Rolling Mill Indonesia Utama, proyek baja yang kemudian bermasalah dan membutuhkan campur tangan negara. Pondok Indah membuat mereka kaya. Pabrik baja memberi pelajaran berharga.

Relasi dapat membuka pintu menuju sebuah bisnis. Namun relasi tidak dapat membuat bisnis yang buruk menjadi sehat. Hubungan Ciputra dan Liem juga melahirkan sesuatu yang tidak berbentuk gedung.

Pada tahun 1980, keduanya terlibat dalam Yayasan Prasetiya Mulya bersama sejumlah pengusaha lain. Konglomerasi Indonesia sedang tumbuh cepat, sementara jumlah manajer profesional masih terbatas.

Mereka sudah memiliki banyak perusahaan. Sekarang mereka membutuhkan orang-orang yang sanggup menjalankannya

Pada tahun 2021, Ciputra Development membeli 15 persen saham Metropolitan Land senilai sekitar Rp367,4 miliar. Metropolitan Land berasal dari lingkungan Metropolitan Development, perusahaan yang dibangun Ciputra bersama enam rekannya pada tahun 1970.

Setengah abad kemudian, kerajaan keluarga Ciputra kembali membeli bagian dari kerajaan lamanya.

Ciputra telah tiada. Namun garis yang pernah ia tarik masih menghubungkan semuanya. (*)