Pada tanggal 28 Agustus 2026, sebuah pabrik pupuk mineral senilai $ 260 juta yang didukung oleh Tiongkok (China) dibuka di Torobai Kulatov, wilayah Osh. Lini produksi pertamanya saat ini beroperasi dalam tahap uji coba dengan kapasitas tahunan sebesar 100.000 ton.
Tahap berikutnya diperkirakan akan mencapai kapasitas 300.000 ton, sementara pemerintah menargetkan produksi sebesar 1 juta ton pada tahun 2028.
Baca juga: Impor Pupuk Amerika Serikat dari Rusia Catatkan Rekor Tertinggi
Skala ini menjadi sangat signifikan jika dibandingkan dengan pasar domestik. Pada Maret 2025, Kementerian Pertanian memperkirakan permintaan tahunan pupuk mineral mencapai sekitar 287.000 ton, yang terdiri dari 163.500 ton pupuk nitrogen, 105.800 ton pupuk fosfat, dan 17.200 ton pupuk kalium (potash).
Dengan demikian, rencana kapasitas tahap menengah sebesar 300.000 ton tersebut sudah hampir setara dengan permintaan domestik saat ini. Jika mencapai 1 juta ton, jumlah produksi akan lebih dari tiga kali lipat ukuran pasar tersebut.
Namun, kapasitas semata tidak serta-merta berarti penggantian impor. Pabrik ini diperkirakan akan memproduksi ammophos (pupuk nitrogen-fosfor) serta pupuk majemuk NPK. Kyrgyzstan mengimpor berbagai kategori pupuk, sehingga komposisi produk, kualitas, harga, dan distribusi akan menentukan seberapa besar produksi dalam negeri benar-benar dapat menggantikan produk impor.
Pada tahun 2025, Kyrgyzstan mengimpor pupuk senilai sekitar $44 juta. Rusia memasok senilai $20,9 juta dan Uzbekistan senilai $19 juta; keduanya secara gabungan mencakup sekitar 91�ri total nilai impor.
Antara bulan Januari dan April 2026, Kyrgyzstan mengimpor 12.700 ton pupuk mineral senilai $7,8 juta, dengan volume yang meningkat 13,5% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year). Rusia memasok 9.100 ton, atau lebih dari 71�ri total impor tersebut.
Kesepakatan investasi senilai $ 260 juta dengan perusahaan Tiongkok, Hebei Bai Dou Jia, ditandatangani pada Mei 2023. Konstruksi dimulai pada tahun 2024, dan peralatan senilai sekitar $15 juta didatangkan dari Tiongkok. Ada satu angka yang patut dicermati pasar: 500.000 atau 1 juta ton?
Baca juga: OCP North America dan CHS Bentuk Usaha Patungan Bangun Pabrik Fosfat
Pemerintah Kirgistan menyatakan bahwa kapasitas produksi akan mencapai 1 juta ton per tahun pada tahun 2028, sementara Baidoujia mengatakan kepada China Daily bahwa produksi penuh akan mencapai 500.000 ton. Laporan-laporan awal dari pihak Kirgistan juga menyebutkan angka 500.000 ton.
Pada tingkat produksi 500.000 ton, hasil produksi akan melampaui permintaan domestik saat ini sebesar sekitar 213.000 ton. Jika mencapai 1 juta ton, potensi surplusnya akan melebihi 700.000 ton, kecuali jika konsumsi pupuk meningkat tajam.
Selain itu, ada proyek lain yang juga sedang direncanakan. Pada bulan Juli, perusahaan milik negara Kyrgyz Agroholding menandatangani nota kesepahaman dengan China National Electrical Engineering Corporation untuk pembangunan pabrik pupuk lainnya, dengan usulan kapasitas urea hingga 600.000 ton per tahun.
Baca juga: Tren Perdagangan Pupuk China pada Juli 2026
Inilah sebabnya mengapa persoalan ini lebih dari sekadar pembangunan satu pabrik baru. Kirgistan berpotensi beralih dari negara yang bergantung pada impor pupuk menjadi pemasok bagi kawasan Asia Tengah.
Peluangnya bahkan lebih besar lagi: jika produksinya kompetitif, ketergantungan pada impor di masa lalu bisa berubah menjadi basis ekspor.
Ujian sesungguhnya terletak pada harga pupuk Kirgistan saat sampai ke tangan petani—dan pada akhirnya, saat memasuki pasar regional. (*)
Editor : Redaksi