KH Aziz Masyhuri Pewaris Ketegasan Denanyar

Reporter : Redaksi
KH Aziz Masyhuri

Lahir dan mengabdi di lingkungan Pesantren Denanyar, Kabupaten Jombang, KH Aziz Masyhuri adalah sosok ulama yang mewarisi kedalaman ilmu dan ketegasan sikap dari para muassis Nahdlatul Ulama. 

Sebagai cucu menantu dari KH Bisri Syansuri, beliau meneladani betul keteguhan prinsip sang kakek dalam menjaga muruah agama. Ketegasan ini terpancar nyata; baik saat beliau berani meluruskan hukum fikih pernikahan di tengah masyarakat berdasarkan hasil Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), maupun saat KH Aziz Masyhuri pasang badan membela nama baik almamater Denanyar dari tulisan-tulisan yang menyudutkan tradisi amaliah pesantren.

​Perhatian KH Aziz Masyhuri terhadap penjagaan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah sungguh luar biasa tajam. Sedari muda, beliau gigih menanamkan dasar-dasar tahlilan, shalawatan, dan tawasul kepada para santri. 

Dedikasi terbesarnya dalam membentengi umat dibuktikan saat beliau menelusuri, menerjemahkan, dan menerbitkan kembali mahakarya KH Faqih Maskumambang berjudul "Menolak Wahabi". Perjuangan ini bahkan diwarnai dengan momen haru ketika KH Aziz Masyhuri menembus rimbunnya ilalang hanya untuk menziarahi makam Kiai Faqih yang nyaris terlupakan.

​Di kancah keilmuan, KH Aziz Masyhuri bukanlah sekadar pembaca kitab kuning yang ulung, melainkan seorang mushannif (penulis) yang etos kerjanya tak kenal lelah. Seringkali, tepat setelah selesai mengajar, KH Aziz Masyhuri langsung kembali menyusun kitab. Berkat kepedulian dan keuletannyalah, kitab-karya ulama Nusantara berhasil dikodifikasi dan diterbitkan. 

Salah satu jasa terbesarnya adalah Kodifikasi kitab-kitab Kiai Hasyim Asy’ari dalam sebuah judul bernama Irsyadu Syari. Hasil tersebut tidak lepas dari campur tangan KH Aziz Masyhuri. Beberapa kitab Kiai Hasyim yang ada di Irsyadus Syari adalah hasil jasa penelusuran KH Aziz Masyhuri, yang kemudian diserahkan pada Gus Ishom, cucu Kiai Hasyim, yang selanjutnya menyusunnya menjadi satu. 

Keluasan literasi ini menjadikan KH Aziz Masyhuri sebagai rujukan utama, bahkan bagi peneliti keislaman internasional sekelas Martin van Bruinessen.

​Di atas segala keilmuannya, integritas KH Aziz Masyhuri adalah teladan utama. Hal ini terbukti pada Muktamar NU ke-33. Demi menjaga kesakralan tanah kelahiran para pendiri NU dari kegaduhan suksesi dan tarik-menarik kepentingan, beliau rela mengusulkan agar acara dipindah demi syiar yang lebih luas. Ketika muktamar tetap digelar di Jombang dan kegaduhan benar terjadi, beliau memilih menepi dan absen dari perhelatan di kotanya sendiri—sebuah protes sunyi dari seorang penjaga prinsip sejati.

​Sang penjaga warisan keilmuan ulama Nusantara ini telah berpulang ke hadirat Allah Swt. KH Aziz Masyhuri meninggalkan bukan hanya tumpukan kitab, tetapi juga uswah tentang bagaimana seorang ulama harus bersikap. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafannya dan menerima amal ibadahnya. Lahumul fatihah...

*) Source : Pecinta Ulama Nusantara

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru