Tanah Kutai bukan sekadar wilayah geografis di Kalimantan Timur. Ia adalah tanah suci warisan leluhur, tempat bertemunya budaya Dayak, Melayu, Bugis, Banjar, dan Jawa. Sejak masa Kerajaan Kutai Martadipura (abad ke-4 Masehi) yang dipimpin oleh Raja Mulawarman, hingga berdirinya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, lima puak besar telah menjadi pilar utama yang membentuk peradaban dan adat Tanah Kutai.
1. Puak Pantun: Leluhur Hulu Mahakam dan Warisan Martadipura
Baca juga: Sejarah Penahanan Sultan
Asal-usul dan wilayah
Puak Pantun dipercaya sebagai keturunan langsung dari masyarakat asli yang hidup di wilayah Muara Kaman, pusat Kerajaan Kutai Martadipura. Wilayah mereka mencakup Muara Kaman, Muara Ancalong, Muara Bengkal, Muara Wahau, Long Mesangat, dan Kombeng.
Kaitan sejarah dan adat
Puak ini diyakini merupakan keturunan dari masyarakat yang sezaman dengan Raja Kudungga dan Raja Mulawarman. Mereka memegang sistem adat tertua, dengan sistem pelapisan masyarakat berdasarkan pemangku adat (kepala kampung, pemangku panat dan sesepuh).
Adat-istiadat
Pantun lisan sakral: Digunakan dalam ritual pengobatan dan adat pernikahan.
Sistem gotong royong: Kuat dalam tradisi membuka ladang, panen, dan upacara adat.
Larangan adat : Menyangkut batas tanah, penggunaan hutan, dan larangan terhadap perusakan sungai yang dianggap keramat.
Filosofi
Puak Pantun adalah penjaga tanah tua, “anak Mahakam” yang menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan leluhur. Dalam masa Islamisasi dan perkembangan Kesultanan, mereka tetap mempertahankan akar adat sebagai bagian dari warisan budaya kerajaan.
2. Puak Kutai Keraton (Puak Melani): Pewaris Kerajaan dan Penjaga Kesultanan
Asal-usul dan wilayah
Puak Melani terbentuk dari perpaduan antara masyarakat lokal Kutai, pendatang Bugis, Banjar, Melayu, dan Jawa yang menetap di pesisir Mahakam, terutama di Tenggarong dan sekitarnya.
Kaitan sejarah dan adat
Mereka tumbuh bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Nama “Melani” diambil dari nama permaisuri Bugis dalam sejarah pernikahan kerajaan. Puak ini adalah tulang punggung birokrasi istana, abdi dalem, hulubalang, hingga ulama Kesultanan.
Adat-istiadat
Hukum adat Panji Selaten & Braja Niti: Menjadi dasar sistem kerajaan dan hukum istana.
Upacara adat Islamik : Seperti Erau, Beluluh, Tepong Tawar, hingga pengangkatan gelar kerajaan.
Kesenian keratin : Mamanda, Jepen, Hadrah, dan seni ukir serta busana adat Tenggarong.
Filosofi
Puak ini menjembatani dunia adat dan Islam. Mereka menjaga keberlanjutan Kesultanan secara spiritual, budaya, dan administratif.
3. Puak Tulur / Sendawar (Tunjung-Benuaq): Penjaga Hutan dan Loyalis Kesultanan
Asal-usul dan wilayah:
Berakar dari Dayak Tunjung dan Benuaq, mereka hidup di daerah tengah Mahakam seperti Kota Bangun, Kenohan, Kembang Janggut, Tabang, Muara Muntai, dan sebagian Kutai Barat.
Kaitan sejarah dan adat:
Melalui tokoh legendaris Aji Tulur Jejangkat, mereka menjalin hubungan kekerabatan dan politik dengan istana. Tulur Jejangkat dianggap sebagai penghubung antara kekuatan lokal Dayak dan Kesultanan.
Adat-istiadat:
Sistem adat lamin: Hidup dalam rumah panjang dengan pembagian peran sosial yang ketat.
Upacara Belian Sentiyu dan Erau lokal: Untuk menyatukan komunitas, menghormati roh, dan menyucikan wilayah.
Gelar adat: Mulai dari petinggi adat, kepala suku, hingga dukun ritual (Balian).
Filosofi:
Baca juga: Kutai dan Janji Sejarah yang Perlu Diluruskan
Hidup berimbang dengan alam, puak ini tetap menjaga semangat leluhur dalam bingkai pengakuan terhadap Sultan sebagai pemangku adat tertinggi di Tanah Kutai.
4. Puak Muara Pahu (Puak Pahu): Dayak Islam dari Hulu Kedang
Asal-usul dan wilayah:
Keturunan Dayak Benuaq di sekitar Muara Pahu dan Sungai Kedang Pahu, mereka menjalani proses Islamisasi sejak awal abad ke-19 melalui ulama dari Kesultanan Kutai.
Kaitan sejarah dan adat:
Kesultanan mengangkat tokoh adat mereka sebagai penguasa lokal, sekaligus sebagai penjaga wilayah perbatasan dan penyeru dakwah. Mereka juga menjaga jalur dagang dan hutan.
Adat-istiadat:
Tradisi kelahiran, kematian, dan perkawinan yang Islamik namun beraroma lokal
Seni ukir, anyaman, dan sulam khas Pahu
Ritual penyucian air dan hutan sebagai bagian dari menjaga keseimbangan spiritual wilayah.
Filosofi:
Menjadi pelanjut adat dalam semangat Islam, puak ini adalah cermin proses harmonisasi adat dan agama yang berjalan damai.
5. Puak Kedang (Puak Punang): Persenyawaan Pantun dan Tunjung-Benuaq
Asal-usul dan wilayah:
Gabungan antara Puak Pantun (Muara Kaman) dan Puak Sendawar (Tunjung-Benuaq), mereka hidup di sepanjang Sungai Kedang dan wilayah Hulu Mahakam.
Kaitan sejarah dan adat:
Dikenal sebagai masyarakat perantara antara kerajaan pusat dan suku-suku pedalaman. Mereka menjadi utusan adat, juru damai, dan penghubung antar puak dalam sistem kerajaan.
Adat-istiadat:
Seni tutur dan mantra adat
Upacara tahunan Kedang Ngangok (menyatu dengan alam dan sungai)
Sistem pengangkatan pemangku adat berdasarkan warisan darah dan adat
Filosofi:
Mereka menjiwai konsep “Bhineka Tunggal Suaka”, yakni bersatu dalam suaka adat, menerima keberagaman sebagai berkah bagi negeri.
Kesimpulan: Mozaik Adat dalam Kesatuan Kutai
Lima puak ini bukan hanya bagian dari etnografi, tapi merupakan penyangga eksistensi adat dan martabat Tanah Kutai. Masing-masing menyumbang corak warna pada peradaban Kutai:
Puak Pantun sebagai akar
Puak Melani sebagai pucuk istana
Puak Sendawar sebagai penjaga tengah
Puak Pahu sebagai perawat iman dan tanah
Puak Kedang sebagai perekat persaudaraan
Di bawah falsafah “Empat Buncu Pasak Bumi” dan “Bhineka Tunggal Suaka”, semua puak berdiri sejajar dalam satu panggilan suci: menjaga marwah, adat, dan warisan leluhur Tanah Kutai.
“Kutai bukan hanya tempat tinggal, tapi tanah sumpah, tanah marwah, dan tanah kasih bagi semua puaknya.”
*) Source : Awang Irwan Setiawan
Editor : S. Anwar