Seorang munafik mengolok-olok Nabi Muhammad (SAW) karena seekor unta yang hilang, lalu Nabi (SAW) mengungkapkan tepat di mana unta yang hilang itu berada. Selama ekspedisi yang sulit ke Tabuk, kaum Muslimin menahan panas yang ekstrem, perjalanan yang panjang, dan kesulitan yang parah.
Ini juga merupakan perjalanan di mana keikhlasan dan kemunafikan menjadi terlihat dengan jelas. Menurut riwayat yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq dalam biografinya tentang Nabi (SAW), unta Nabi hilang saat pasukan sedang dalam perjalanan.
Baca juga: Ayub, Warga Krembangan Bhakti Surabaya Gelar Aqiqah, Dihadiri Habib Musthofa Jamal Al Aydrus
Para Sahabat mencarinya, sementara Amarah bin Hazm (RA) berada di dekat Nabi (SAW). Di antara orang-orang yang bepergian bersama mereka ada Zaid bin Al-Lusait Al-Qainuqai, seorang pria yang kemunafikannya tersembunyi di balik permukaan.
Ketika Amarah (RA) pergi, Zaid dengan sarkastik berkata: “Apakah Muhammad (SAW) tidak mengklaim sebagai nabi yang menerima berita dari langit? Padahal dia bahkan tidak tahu di mana untanya sendiri!”
Ucapan itu bukan sekadar olok-olok, melainkan serangan terhadap klaim Nabi (SAW) atas kenabian-Nya. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya membalikkan kata-kata Zaid sendiri ke arahnya. Nabi (SAW) memberitahu orang-orang di sekitar-Nya bahwa seseorang telah mengatakan hal seperti itu.
Kemudian Beliau (SAW) bersabda: “Aku hanya mengetahui apa yang Allah beritahukan kepadaku.”
Allah telah memberitahu-Nya (SAW) tentang unta itu. Nabi (SAW) menggambarkan tepat di mana letaknya: di sebuah lembah pegunungan, dengan kendalinya tersangkut di sekitar pohon. Para Sahabat pergi ke tempat itu. Dan di sana unta itu berada. Unta itu tepat berada di tempat yang digambarkan oleh Nabi (SAW), dengan kendalinya tersangkut di pohon.
Baca juga: Air Mata Nabi : Tragedi Husain di Karbala
Ketika Amarah bin Hazm (RA) kembali ke perkemahan, ia memberitahu orang-orang yang hadir tentang apa yang baru saja dikatakan Nabi (SAW).
Salah seorang di antara mereka menjawab: “Demi Allah, Zaid bin Al-Lusait mengucapkan kata-kata itu tadi.”
Kebenaran kini menjadi jelas. Amarah (RA) menghadapi Zaid, mengusirnya dari perkemahan, dan menolak membiarkannya melanjutkan perjalanan bersama mereka. Ini jauh lebih dari sekadar pemulihan seekor unta yang hilang. Hal ini menunjukkan prinsip dasar kenabian : Nabi (SAW) tidak mengklaim pengetahuan independen tentang yang gaib.
Beliau hanya mengetahui apa yang Allah wahyukan kepada-Nya (SAW).
Baca juga: Bani Shaybah Penjaga Kunci Kabah
Al-Quran menjelaskan perbedaan ini dengan jelas : “Dialah Yang Maha Mengetahui yang gaib, dan Dia tidak membuka rahasia-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada seorang rasul yang Dia pilih.” — Al-Quran 72:26–27
Dan Allah berfirman: “Dan tidaklah dia (Muhammad) mengucapkan (ajaran itu) menurut kehendaknya sendiri. (Al-Quran) itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” — Al-Quran 53:3–4
Munafik itu mengira ia telah menemukan kelemahan. Sebaliknya, Allah mengubah olok-oloknya menjadi tanda. Ia mengolok-olok Nabi (SAW), namun justru perkara yang ia gunakan untuk merendahkan-Nya (SAW) menjadi kesaksian atas kebenaran kenabian-Nya. (*)
Editor : Redaksi