Air Mata Nabi : Tragedi Husain di Karbala
Langit Madinah malam itu bertabur bintang. Di dalam rumah kecil yang sederhana, cahaya lentera memantul hangat di wajah Rasulullah Muhammad SAW yang sedang mengayun-ayun pelan seorang bayi mungil dalam pelukannya. Bayi itu adalah Husain bin Ali, cucu tercintanya, putra dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.
“Ya Allah, bisik Nabi pelan sambil menciumi ubun Husain. Ini adalah bagian dari hatiku… darahku… dagingku…”
Fatimah berdiri di samping beliau, tersenyum sambil menatap sang ayah dan anaknya. Tapi senyum itu tak berlangsung lama, karena air mata mulai menetes dari sudut mata Rasulullah Muhammad SAW.
“Ayah… mengapa engkau menangis?” tanya Fatimah, suaranya menggetar.
Rasulullah Muhammad SAW memandang Fatimah, lalu menjawab dengan lirih, “Jibril datang kepadaku hari ini. Ia bawa tanah dari sebuah tempat bernama Karbala… dan ia katakan, bahwa di sanalah anak ini akan wafat…”.
Fatimah terdiam. Tanah berwarna merah yang diletakkan di kain putih tampak begitu nyata. Tangan Fatimah bergetar saat menyentuhnya.
“Ayah… tidak mungkin umat ini… yang engkau ajari dengan cinta dan air mata… akan membunuh anakku…”.
Rasulullah Muhammad SAW memeluk Husain erat, dadanya bergetar.
“Wahai Fatimah, aku pun berharap begitu. Tapi takdir telah ditulis. Umat ini akan diuji. Dan ujian itu adalah darah anakmu.”
---
Husain kecil tumbuh menjadi anak yang lembut dan pemberani. Ia sering naik ke punggung Rasulullah Muhammad SAW saat sujud. Bahkan di atas mimbar, Rasulullah kadang memangku Husain dan Hasan, dan berkata dengan lantang: “Hasan dan Husain adalah pemimpin para pemuda surga.”
“Ya Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah orang yang mencintai mereka.”
Para sahabat tersenyum melihat kelucuan mereka, tetapi di mata Rasulullah ada bayang kesedihan. Kadang, ketika Husain memeluk leher beliau, air mata jatuh diam-diam ke pipinya.
---
Rasulullah Muhammad SAW sedang sujud panjang, begitu lama hingga para sahabat mengira beliau wafat. Ketika mereka mengintip, ternyata Husain kecil sedang duduk di punggung beliau. Setelah shalat selesai, sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak bangkit dari sujud tadi?”
Rasulullah Muhammad SAW tersenyum pahit.
“Cucuku sedang bermain di punggungku. Aku tidak ingin membuatnya jatuh. Karena akan datang hari di mana ia akan jatuh dari punggung kuda, dengan darah membasahi bumi…”. Semua terdiam.
Malam itu, setelah semua tertidur, Rasulullah Muhammad SAW bangkit dari pembaringannya. Ia mendatangi kamar Fatimah, lalu duduk di sisi ranjang kecil Husain yang sedang tidur. Beliau menyentuh pipi kecil itu, berbisik: “Wahai cucuku… andai kau tahu… aku lebih ingin tubuh ini yang dipotong-potong daripada tubuhmu. Tapi Allah telah memilihmu untuk menjadi lentera bagi umat setelahku. Karbala menunggumu, Husain… Dan aku tidak akan ada di sana untuk melindungimu.”
Tangisan Rasulullah pecah. Ia menangis seperti seorang ayah yang tahu anaknya akan pergi ke medan yang tak bisa dicegah. Di balik pintu, Fatimah menyaksikan itu dalam diam. Air matanya jatuh, tanpa suara.
Hari Itu Akan Datang, Wahai Husain
Hari-hari menjelang wafatnya, Rasulullah Muhammad SAW terasa murung di Madinah. Langit seperti redup, udara lebih sunyi. Para sahabat merasakan sesuatu… sesuatu yang tak biasa.
Di rumahnya, Rasulullah Muhammad SAW mulai semakin lemah. Tubuh beliau yang dulu gagah, kini sulit berdiri tanpa bantuan. Namun, satu hal tak pernah berubah: Setiap kali Husain datang, wajah beliau bersinar Suatu sore, Husain kecil masuk ke kamar beliau. Dengan langkah lincah, ia langsung naik ke dada kakeknya. Rasulullah tersenyum, meski tubuhnya menggigil menahan sakit. “Husainku…” bisik beliau.
“datanglah ke sini, peluk aku.”
Husain mencium pipi kakeknya dan menyenderkan kepalanya ke dada beliau. Tangan Rasulullah gemetar menyentuh rambut cucunya.
“Wahai anakku,” gumam Nabi.
“Akan datang hari… ketika dada ini tak bisa lagi kau sandarkan. Hari itu, kau akan berada di padang pasir… tak ada air, tak ada tempat bernaung… hanya langit dan debu, dan pedang-pedang yang haus darah…”
Husain kecil menatap wajah kakeknya yang mulai menangis.
“Kakek… mengapa engkau sedih?” tanya Husain polos.
Rasulullah memeluknya lebih erat.
“Karena aku tahu, dunia tidak akan memperlakukanmu seperti aku memperlakukanmu…”
---
Beberapa hari kemudian, Rasulullah jatuh sakit. Tubuh beliau panas, matanya sembab. Fatimah menangis setiap hari. Hasan dan Husain selalu berada di sampingnya. Di malam menjelang wafatnya, beliau memanggil cucunya itu.
“Husain… mendekatlah…”
Husain yang kala itu masih bocah, duduk di tepi ranjang. Rasulullah menggenggam tangannya dengan lemah, dan berkata, “Wahai cucuku… jagalah kebenaran, meski kau sendiri yang berdiri di sana. Jika dunia meninggalkanmu, jangan takut. Allah bersamamu.” Tapi bersiaplah… karena dunia akan menelan darahmu, seakanakan engkau bukan cucuku…”
Tangisan mulai terdengar. Sayyidah Fatimah jatuh bersimpuh di kaki ayahnya.
“Ayah… cukup… jangan katakan lagi tentang darah Husain. Hati ini sudah tak sanggup…”
Rasulullah menarik napas panjang. Air mata mengalir terus.
“Putriku… aku tidak berkata karena ingin menyakitimu… tapi karena aku ingin engkau bersiap. Karena luka ini akan diturunkan padamu, bukan karena kehinaan… tapi karena ketinggian. Cinta akan diuji… dan engkau, wahai Husain, akan menjadi ujian terbesar umat ini.”
Malam itu, dalam tidurnya yang berat, Rasulullah bermimpi. Ia melihat dirinya berada di sebuah padang tandus. Di hadapannya, Husain tergeletak bersimbah darah. Tubuhnya penuh luka. Di sekelilingnya, anak-anak kecil menangis, wanita-wanita menjerit.
“Ya Rabb… apa ini?” tanya Rasulullah dalam mimpi.
Sebuah suara menjawab: “Inilah Karbala… dan itu adalah darah dari darahmu.”
Rasulullah jatuh berlutut dalam mimpinya. Ia menggenggam tanah di bawah jasad Husain. Tanah itu berwarna merah… basah… hangat…
“Wahai Tuhan… wahai Tuhan… jangan cabut cahaya umatku hanya karena mereka membunuh pelitaku… Tapi jangan biarkan mereka melupakannya. Jangan biarkan nama Husain dilupakan…”
---
Pagi itu, Rasulullah membuka mata terakhir kalinya. Nafasnya pendek. Wajahnya pucat. Tapi ada senyuman yang tipis.
“Ummati… ummati…”
Lalu pelan… sangat pelan… beliau berkata: “Husain… Husain…” Lalu sunyi.
Fatimah menjerit. Hasan memeluk tubuh ayahnya yang sudah tak bergerak. Husain mengguncang bahu kakeknya sambil berkata: “Kakek… bangun… jangan tinggalkan aku… kakek…” Tapi tak ada jawaban.
Malaikat telah menjemput sang Nabi, dan membawa serta air matanya atas apa yang akan terjadi di Karbala.
Karbala, Air Mata dan Pedang
Debu Karbala berputar di udara. Matahari menggantung berat di langit, tapi hawa terasa dingin dalam hati yang pedih. Di tengah padang, berdiri Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, wajahnya penuh luka, tapi matanya menyala oleh api iman.
Ia menatap para pasukan musuh yang mengelilinginya, dan berkata dengan suara tegar, namun lirih: “Kalian tahu siapa aku. Aku Husain, putra Fatimah, cucu Nabi. Aku bukan musuh kalian, aku adalah darah yang sama yang mengalir dalam tubuh kalian.”
Seorang prajurit mendekat, tertawa sinis, “Kau cucu Nabi? Maka, kau akan mati sebagai pengkhianat.”
Husain menunduk, menatap tanah yang kering, kemudian mengangkat kepalanya dengan penuh keyakinan, “Jika kematian adalah harga kebenaran, aku rela membayarnya.”
---
Teriakan perang memecah keheningan. Pedang dan tombak bersahutan, tubuh-tubuh suci tumbang satu per satu. Abbas, tangan kanan Husain, berteriak sambil membawa air untuk saudaranya, “Minumlah, Husain! Jangan biarkan dahagamu mengalahkanmu!”
Tapi Husain menggenggam lengan Abbas, “Abbas, air ini untukmu, aku akan bertahan sampai nafas terakhir.”
Tubuh Husain tersayat luka. Darahnya membasahi pasir. Ia jatuh, tapi matanya masih menatap ke arah langit, seolah mencari wajah Rasulullah.
---
Dalam detik-detik terakhirnya, Husain memanggil dengan suara hampir hilang, “Ya Rasulullah… dengarlah aku… aku menanggung semua ini untukmu, untuk umatmu.”
Seorang prajurit kejam datang menghunus pedang ke leher Husain. Dengan nafas terakhir, Husain berkata, “Ampunilah mereka, wahai Allah… karena mereka tidak tahu…”
---
Di langit, Rasulullah merasakan pedih yang tak terlukiskan. Air matanya mengalir deras, “Husainku… darahmu adalah darahku. Aku merasakan setiap luka yang kau derita.”
Sayyidah Fatimah meraih tangan suaminya, “Bagaimana kami bisa hidup tanpa dia?”
Rasulullah tersedu, “Kita hidup dalam doa dan cinta, anakku. Dia telah menjadi cahaya bagi umat yang tersesat.”
Di Madinah, Fatimah dan Hasan duduk termenung, membiarkan air mata mereka mengalir. Fatimah berkata pelan, “Husain bukan hanya cucu Nabi, dia pengorbanan suci. Kita harus menjaga namanya, menjaga cintanya.
Hasan mengangguk, “Namanya akan hidup dalam setiap jiwa yang mencari kebenaran.” (*)
Editor : Zainuddin Qodir