Sejarah baru saja ditorehkan di bumi Maluku Utara. Di balik gemuruh politik lokal, muncul sosok perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia yang memecahkan mitos dan melangkah anggun menuju kursi kepemimpinan tertinggi. Ia adalah Sherly Tjoanda Laos, gubernur perempuan pertama dalam sejarah Provinsi Maluku Utara yang resmi dilantik pada 20 Februari 2025.
Namun, perjalanannya menuju puncak kepemimpinan ini bukanlah karpet merah yang bertabur bunga, melainkan sebuah kisah tentang ketegaran, cinta, dan kebangkitan dari sebuah tragedi yang memilukan.
Bangkit dari Puing Tragedi
Bagi masyarakat Maluku Utara, ingatan tentang peristiwa kelam pada 12 Oktober 2024 masih basah. Sebuah kecelakaan perahu cepat (speedboat) merenggut nyawa Benny Laos, mantan Bupati Pulau Morotai yang saat itu tengah berjuang sebagai calon gubernur Maluku Utara. Kehilangan sang suami secara mendadak di tengah masa kampanye menjadi pukulan batin yang luar biasa hebat bagi Sherly Tjoanda Laos.
Di tengah kedukaan yang mendalam dan kondisi fisik yang sempat terluka akibat insiden tersebut, sebuah tanggung jawab besar diletakkan di pundaknya. Koalisi delapan partai politik dan masyarakat meminta Sherly Tjoanda Laos untuk berdiri, menggantikan posisi mendiang suaminya melanjutkan perjuangan yang belum usai.
Banyak orang mengira ia akan menyerah. Namun, perempuan kelahiran 8 Agustus 1982 ini memilih menyeka air matanya. Menggandeng Sarbin Sehe sebagai calon wakil gubernur, Sherly Tjoanda Laos melangkah ke gelanggang Pilgub Maluku Utara 2024 dengan satu misi: menuntaskan mimpi almarhum suaminya untuk menyejahterakan rakyat Maluku Utara.
Kemenangan Mutlak dan Simbol Persatuan
Keberanian Sherly mengetuk hati ratusan ribu pemilih. Hasil rekapitulasi resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi bukti nyata dari gelombang simpati dan kepercayaan masyarakat. Pasangan Sherly-Sarbin berhasil meraup 359.416 suara atau setara dengan 51,68% suara sah.
Kemenangan ini tidak hanya menjadikannya sebagai gubernur perempuan pertama di Maluku Utara, tetapi juga simbol persatuan yang kuat. Pada pelantikan serentak kepala daerah se-Indonesia, anak dari pasangan Paulus Tjoanda dan Maria Margetha Liem ini terpilih untuk mewakili seluruh kepala daerah beragama Kristen Protestan di Indonesia. Di tengah keberagaman Maluku Utara, kepemimpinannya menjadi bukti bahwa dedikasi tidak mengenal sekat-sekat perbedaan.
Berbekal Pendidikan Global dan Jiwa Sosial
Pesona Sherly tidak hanya terletak pada ketegarannya, tetapi juga pada kapasitas intelektual dan rekam jejaknya. Alumnus SMA Katolik Swastiastu Denpasar ini mengantongi gelar sarjana di bidang International Business Management dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Ia juga memiliki wawasan global berkat program double degree di Inholland University, Belanda, yang diselesaikannya pada tahun 2004.
Sebelum terjun ke politik praktis, ibu dari Edbert, Edelyn, dan Edrick ini sudah lama mendedikasikan hidupnya untuk aksi sosial. Sebagai Ketua Yayasan Bela Peduli, Sherly aktif turun tangan membantu anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu. Ketertarikannya pada nasib wong cilik juga membawanya memimpin Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Maluku Utara, berjuang demi kesejahteraan para petani lokal.
Dianugerahi Anugerah Srikandi Indonesia 2025
Langkah awal Sherly Tjoanda Laos dalam memimpin Maluku Utara langsung menuai apresiasi di tingkat nasional. Atas komitmennya yang tinggi dalam menjaga kualitas layanan publik serta keberaniannya mendorong percepatan pembangunan daerah pasca-tragedi, ia dianugerahi penghargaan bergengsi Anugerah Srikandi Indonesia 2025. (*)
Editor : S. Anwar