Achmad Affandi Pencetus Bimas yang Bikin Petani Indonesia Makmur

Reporter : Redaksi
Achmad Affandi

Berbicara tentang era keemasan pertanian Indonesia di tahun 1980-an, ingatan kita pasti langsung tertuju pada keberhasilan bangsa ini mencapai swasembada pangan. Saat itu, jutaan petani di pelosok negeri hidup makmur dengan hasil panen padi yang melimpah ruah.

Namun, jarang yang tahu bahwa kunci utama di balik kemakmuran petani kala itu adalah sebuah program revolusioner bernama Bimbingan Masyarakat (Bimas). Dan di balik lahirnya program legendaris tersebut, ada tangan dingin seorang pakar agraria yang kelak dipercaya menjadi Menteri Pertanian. Nama beliau adalah Achmad Affandi.

Baca juga: Siti Nurhayati Sukses Bertani Kemangi Beromset Puluhan Juta Per Bulan

Berawal dari Karawang, Lahirlah Konsep "Bimas" yang Melegenda

Lahir pada 27 Oktober 1927, Achmad Affandi adalah sosok yang boleh dikata menghabiskan separuh usianya di dalam lumpur sawah dan dunia akademik pertanian. Jauh sebelum dirinya dipanggil ke istana oleh Presiden Soeharto, Affandi bersama rekan-rekannya merintis sebuah proyek percontohan di Karawang, Jawa Barat.

Di sana, mereka menerapkan konsep Panca Usaha Tani secara langsung dan intensif kepada para petani. Program pendampingan turun ke sawah inilah yang kemudian melahirkan sistem Bimbingan Masyarakat (Bimas).

Lewat Bimas, petani tidak lagi dibiarkan berjalan sendiri. Mereka diajarkan cara memilih benih unggul, teknik pengairan yang tepat, pemupukan berimbang, hingga pemberantasan hama. Keberhasilan Bimas di Karawang begitu fenomenal hingga pemerintah pusat memutuskan untuk mengangkat Achmad Affandi sebagai Sekretaris Pengendalian Bimas di Departemen Pertanian demi menerapkan program ini secara nasional.

Baca juga: Kisah Sukses Qomaruzzaman, Petani Melon yang Terlahir Tanpa Tangan

Membangun Ratusan Balai Penyuluhan dan Kampus IPB Dramaga

Karier Affandi terus melesat hingga ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Di posisi inilah ia melakukan lompatan besar dengan membangun 618 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang tersebar di 13 provinsi. Ratusan balai inilah yang menjadi markas para penyuluh lapangan untuk mengedukasi petani secara langsung dari desa ke desa.

Tak hanya sukses di hamparan sawah, visi besar Affandi juga tertanam kuat di dunia pendidikan. Beliau merupakan salah satu tokoh kunci yang membidani lahirnya Fakultas Pertanian di Bogor, yang kelak bertransformasi menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga sosok yang paling berjasa dalam merintis dan memelopori pembangunan Kampus IPB terpadu di kawasan Dramaga, Bogor, yang hingga kini melahirkan ribuan ahli pertanian bangsa.

Baca juga: Kisah Slamet Nuryono, Dari Petani Miskin, Kini Jadi Juragan Kangkung

Menteri dengan 3 Prinsip Kerja

Rekam jejak emas di lapangan membuat Presiden Soeharto tanpa ragu menunjuk Achmad Affandi sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Pembangunan IV (1983–1988). Selama memimpin kementerian, ia dikenal sangat fokus karena hanya memegang teguh tiga prinsip kerja utama: melestarikan swasembada pangan, meningkatkan devisa negara, dan memperluas lapangan kerja bagi rakyat.

Sang bapak penyuluh pertanian ini mengembuskan napas terakhirnya pada 29 Desember 1990 di usia 63 tahun. Kendati jasadnya kini telah tiada, buah pemikirannya berupa sistem Bimas serta megahnya Kampus IPB Dramaga akan selalu menjadi saksi bisu pengabdian besarnya dalam memakmurkan petani dan menjaga perut seluruh rakyat Indonesia. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru