Kisah Nyata Pembajakan Pesawat Merpati Nusantara
Banyak yang menulis tentang tragedi Merpati Nusantara Penerbangan 171 (MZ-171), namun saya, Henro Clemmens Richardo, ingin menceritakan kembali apa yang sebenarnya kami alami di atas landasan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, saat saya masih berusia 6 tahun bersama adik saya, Brandly Greogorey James (5 tahun).
"Ibu... Ibu.. lempar anak-anaknya!" Kalimat histeris dari petugas landasan Bandara Adisutjipto Yogyakarta itu selalu melekat dalam ingatan sejarah keluarga kami. Saya adalah Henro Clemmens Richardo.
Pada tanggal 5 April 1972, saat masih berusia 6 tahun, saya dan adik saya, Brandly Greogorey James (5 tahun), berada di dalam pesawat Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 171 yang menjadi korban pembajakan pesawat pertama dalam sejarah Indonesia.
Di tengah kepanikan massal saat penumpang berebutan melompat dari pintu belakang setinggi 3 meter tanpa tangga, Ibu kami, Ny A.H. Hendriksz adalah penumpang terakhir yang bertahan di pintu karena ketakutan membawa kami yang masih balita. Demi menyelamatkan nyawa kami dari ancaman ledakan granat, Ibu mengambil keputusan paling nekat : melempar kami berdua ke bawah untuk ditangkap oleh petugas bandara, sebelum akhirnya beliau ikut melompat.
Lewat postingan ini, saya ingin membagikan kisah nyata, ketegangan, dan perjuangan luar biasa dari Ibu kami, pramugari yang sigap, serta Kapten Pilot Hindiarto Sugondo dalam tragedi mencekam tersebut...
Pembajakan Pesawat Terbang Petama Dalam Sejarah Penerbangan Indonesia
Tahukah Anda kapan pembajakan pesawat terbang pertama kali terjadi di Indonesia? Jauh sebelum tragedi Garuda Woyla yang terkenal di tahun 1981, langit Indonesia sudah diguncang aksi teror yang tak kalah menegangkan pada tahun 1972.
Pembajakan pesawat terbang pertama dalam sejarah penerbangan Indonesia terjadi pada tanggal 5 April 1972 terhadap pesawat Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 171 (MZ-171).
Pesawat jenis Vickers Viscount bernama "Merauke" yang membawa 36 penumpang dan 7 awak pesawat dengan rute Manado–Makassar–Surabaya–Jakarta ini terpaksa mengalihkan pendaratan ke Bandara Adisutjipto, Yogyakarta akibat ancaman granat dari seorang pelaku tunggal bernama Hermawan.
Kronologi dan Drama Kepanikan di Pintu Belakang
Saat pesawat sudah berhenti di landasan, situasi di dalam kabin berubah menjadi sangat menegangkan sekaligus menjadi momen penyelamatan massal yang dramatis :
- Pramugari Mengambil Celah : Ketika pembajak masuk ke dalam kokpit pesawat dan sibuk berkomunikasi secara tegang dengan pihak pemerintah di darat untuk menuntut uang tebusan, pramugari dengan sigap memanfaatkan momentum kelengahan pelaku. Ia langsung membuka pintu darurat bagian belakang pesawat.
- Perintah untuk Melompat : Pramugari menginstruksikan seluruh penumpang untuk segera melompat keluar demi menyelamatkan nyawa mereka sebelum granat diledakkan.
- Kepanikan Massal di Landasan : Akibat pintu dibuka tanpa adanya tangga bandara, para penumpang panik dan saling berebutan untuk keluar. Mereka harus melompat dari ketinggian sekitar 2 hingga 3 meter langsung ke aspal landasan. Akibatnya, para penumpang jatuh saling bertumpukan dan tumpang tindih di landasan pacu.
- Dilema Sang Ibu : Di tengah kekacauan itu, seorang penumpang wanita bernama A.H. Hendriksz menjadi penumpang terakhir yang tertinggal di pintu pesawat. Ia sangat ketakutan dan tidak berani melompat karena membawa kedua putranya yang masih sangat kecil, yaitu Henro Clemmens Richardo (6 tahun) dan Brandly Greogorey James (5 tahun).
- Teriakan dari Landasan : Di bawah pesawat, para petugas landasan bandara yang melihat posisi Ny. Hendriksz berteriak histeris, "Ibu... Ibu.. lempar anak-anaknya!"
- Aksi Nekat Melempar Anak : Mendengar instruksi tersebut, Ny. Hendriksz akhirnya memberanikan diri. Satu per satu, Henro dan Brandly dilempar ke bawah dari ketinggian pintu pesawat dan berhasil ditangkap dengan sigap oleh para petugas bandara. Setelah memastikan kedua anaknya aman di tangan petugas, barulah Ny. A.H. Hendriksz melompat turun sebagai penumpang terakhir yang keluar dari kabin belakang pesawat.
Pasca Evakuasi: Kondisi Luka dan Pemulihan di Yogyakarta
Aksi melompat massal dari ketinggian tanpa tangga tersebut menyisakan dampak fisik bagi para korban sandera:
- Banyak Penumpang Cedera: Akibat benturan keras dengan aspal landasan dan posisi jatuh yang saling bertumpukan, sebagian besar penumpang mengalami cedera.
- Kaki Terkilir: Penumpang terakhir, Ny. A.H. Hendriksz, mengalami cedera terkilir pada kakinya. Kondisi serupa berupa kaki terkilir dan memar-memar juga dialami oleh beberapa penumpang lain akibat mendarat dengan posisi yang salah.
- Penanganan Medis: Seluruh korban langsung mendapatkan pengobatan dan perawatan darurat dari tim medis bandara dan aparat setempat untuk memastikan tidak ada luka dalam yang fatal.
- Dievakuasi ke Hotel: Setelah kondisi mereka dinyatakan stabil dan luka-lukanya selesai diobati, seluruh penumpang langsung dibawa dan diistirahatkan di sebuah hotel di Yogyakarta untuk memulihkan trauma serta mendapatkan pengamanan ketat.
Akhir dari Pembajakan di Kokpit
Setelah kabin belakang kosong dari penumpang, fokus penyelamatan beralih sepenuhnya ke kokpit:
1. Penyelundupan Senjata: Melalui jendela kecil kokpit yang dibuka sedikit, petugas keamanan darat berhasil menyelundupkan sepucuk pistol revolver Colt .38 kepada Kapten Pilot Hindiarto Sugondo.
2. Eksekusi Pembajak: Kapten Hindiarto yang berhasil melonggarkan ikatan rantai di tangannya langsung menembak mati Hermawan dari jarak dekat saat pelaku lengah membelakangi kru.
3. Penyelamatan Total: Pelaku tewas seketika di tempat. Tubuhnya jatuh menimpa sumbu granat yang sempat menyala hingga padam, sehingga ledakan besar berhasil digagalkan.
Proses Pemulangan Penumpang ke Jakarta
Setelah drama penyanderaan berhasil diselesaikan sepenuhnya, fokus otoritas bandara dan pihak maskapai beralih pada logistik serta kenyamanan para penumpang:
- Pemenuhan Kebutuhan Penumpang: Sebelum dipulangkan, pihak berwenang memastikan seluruh kebutuhan para penumpang dipenuhi terlebih dahulu selama mereka menginap di hotel Yogyakarta.
- Pengumpulan Barang yang Tertinggal: Petugas melakukan penyisiran ulang di dalam kabin pesawat untuk mengumpulkan barang-barang berharga dan bagasi penumpang yang tertinggal akibat evakuasi darurat yang kacau sebelumnya.
- Penyediaan Alas Kaki Baru: Dikarenakan kepanikan saat melompat massal dari pintu belakang setinggi 3 meter, banyak penumpang yang melepas sandal atau sepatu mereka hingga tercecer. Petugas tidak mengumpulkan kembali alas kaki lama tersebut, melainkan memberikan sandal atau sepatu yang baru untuk para penumpang agar mereka dapat beraktivitas dengan nyaman.
- Pemulangan Esok Hari: Setelah seluruh barang bawaan diidentifikasi dan kondisi psikologis serta fisik penumpang dinilai cukup membaik, proses pemulangan menuju tujuan akhir mereka di Jakarta dilakukan pada esok harinya.
Penumpang diterbangkan menggunakan armada pengganti dengan pengawalan yang memastikan mereka tiba di Ibu Kota dengan selamat. (*)
Editor : Redaksi