Street Fighter Hidupkan Pertarungan Legendaris Ryu hingga Chun Li
Dari mesin arcade hingga layar lebar, Street Fighter kembali mengajak para penggemarnya memasuki arena pertarungan yang telah mewarnai budaya pop selama hampir empat dekade. Tayang di bioskop Indonesia mulai 14 Oktober 2026, film terbaru yang disutradarai Kitao Sakurai dan diproduksi oleh Legendary Pictures bersama Capcom ini mempertemukan Ryu (Andrew Koji), Ken Masters (Noah Centineo), dan Chun-Li (Callina Liang) dalam sebuah petualangan yang membawa semangat pertarungan klasik ke generasi baru.
Berlatar tahun 1993, ketika Street Fighter II tengah mencapai puncak popularitasnya, film ini menghidupkan kembali atmosfer era yang membentuk kenangan banyak pemain. Gaya, musik, dan nuansa budayanya membawa penonton kembali ke masa ketika memilih karakter favorit dan menguasai jurus andalan menjadi bagian dari keseruan bermain.
Bagi Noah Centineo, pemeran Ken, kenangan tersebut bahkan terasa sangat personal.
“Sepupuku memiliki mesin arcade di basement rumahnya, dan kami biasanya bermain Street Fighter sampai larut malam. Dulu aku selalu memilih Blanka sebagai petarung, karena menurutku dia salah satu karakter yang paling keren di game itu,” ujarnya.
Namun, membawa Street Fighter ke bioskop bukan sekadar memindahkan karakter dan pertarungan dari game ke film. Sutradara Kitao Sakurai ingin membangun dunia yang tetap mempertahankan identitas khas Street Fighter, sekaligus memberikan pengalaman visual yang lebih kaya.
Salah satu wujud pendekatan tersebut terlihat dalam adegan kilas balik Ryu dan Ken yang menggunakan animasi tradisional gambar tangan. Setiap frame dikerjakan secara manual dengan inspirasi dari teknik animasi era 1990-an, memberikan sentuhan visual yang selaras dengan akar dan sejarah franchise ini.
Bagi Andrew Koji, memerankan Ryu juga berarti memahami karakter yang telah lama dicintai penggemar di seluruh dunia. Ia mengaku sempat meragukan kemampuannya untuk menghidupkan sosok petarung tersebut, sekaligus melihat bagaimana Noah Centineo mampu merepresentasikan Ken dengan begitu meyakinkan.
“Ketika bertemu dengan Noah, aku bisa melihat Ken di dalam dirinya. Dia punya karisma dan energi yang memang terasa sangat Ken. Sementara, aku sempat meragukan diriku sendiri untuk memainkan karakter ikonis seperti Ryu yang dicintai banyak orang. Namun, aku berusaha memahami setiap sisi dirinya, termasuk konflik yang ia hadapi, dan mencari cara untuk membuatnya terasa lebih hidup,” kata Koji.
Intensitas pertarungan menjadi bagian penting dari pengalaman sinematik Street Fighter. Film ini menampilkan 14 adegan pertarungan utama yang dirancang untuk menonjolkan karakteristik setiap petarung. Tim stunt memadukan berbagai disiplin bela diri, mulai dari Shotokan, Goju-Ryu, Judo, Wushu, dan Tai Chi hingga Kung Fu, untuk menerjemahkan gerakan khas dalam game ke dalam koreografi aksi yang dinamis di layar.
Persiapan fisik para pemeran turut menjadi kunci untuk mewujudkan pertarungan tersebut. Callina Liang, yang memerankan Chun-Li, menjalani latihan intensif lima hingga enam hari dalam seminggu demi menguasai gerakan khas karakter yang dikenal dengan tendangan cepat dan kuat. Dedikasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan sosok Chun-Li yang tetap setia pada karakter aslinya, sekaligus meyakinkan dalam format film aksi langsung.
“Street Fighter memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai generasi karena setiap orang memiliki preferensi karakter dan kenangannya masing-masing dari game ini. Melalui filmnya, kami ingin membawa kembali energi tersebut ke layar lebar sekaligus memberikan pengalaman baru bagi penonton yang mungkin baru mengenal Street Fighter,” ujar Julius Daniel Suhakri, Head of Marketing Paramount Pictures Indonesia.
Semangat pertarungan Street Fighter juga dibawa keluar dari bioskop melalui rangkaian aktivitas untuk penggemar di Indonesia. Salah satunya adalah Smash the Car di Indonesia Comic Con 2026, yang terinspirasi dari bonus stage Street Fighter II. Dalam tantangan klasik tersebut, pemain harus menghancurkan sebuah mobil sebelum waktu habis—sebuah momen yang kini dihidupkan kembali dalam bentuk aktivitas langsung bagi para penggemar.
Keseruan berlanjut melalui parade cosplay Street Fighter di Car Free Day (CFD) Jakarta, yang turut diramaikan dengan aktivitas olahraga bersama FTL Gym. Melalui rangkaian kegiatan ini, penggemar diajak merasakan semangat kompetisi dan energi para Fighter secara langsung, melampaui pengalaman bermain di depan layar.
Hampir empat dekade sejak pertama kali memikat pemain di mesin arcade, Street Fighter kembali membawa pertarungannya ke panggung yang lebih besar. Dengan karakter-karakter yang dicintai lintas generasi, aksi bela diri yang intens, dan nostalgia yang berpadu dengan pengalaman sinematik baru, pertarungan kini dimulai kembali. Pilih petarungmu, bersiaplah memasuki arena, dan rasakan Street Fighter di layar lebar.
Street Fighter akan tayang di bioskop Indonesia mulai 14 Oktober 2026. (*)
Editor : S. Anwar