Asal Sumber Air Bening di Desa Kunci Bojonegoro

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sumber mata air di Desa Kunci, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro
Sumber mata air di Desa Kunci, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro
grosir-buah-surabaya

Sumber mata air di Desa Kunci, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, menarik untuk diteliti dari berbagai sisi, mulai dari sejarah, budaya, foklore, hingga manfaatnya bagi masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Jawa, sumber air tidak sekadar dipandang sebagai tempat keluarnya air, tetapi juga memiliki makna simbolik dan fungsi sosial. 

Sebutan seperti sumber bening, sumber biru, atau sendang putra maupun sendang putri menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna terhadap keberadaan sumber air sekaligus memanfaatkannya bagi kehidupan sehari-hari.

Dari mana sumber tersebut berasal?

Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam cerita tutur masyarakat. Menurut penuturan Bapak Budi, Mbah Setyo Kromo merupakan seorang teleksandi Majapahit, semacam pengintai kerajaan. Setelah Majapahit runtuh, ia mengabdi di Jipang Panolan (Cepu), yang saat itu dipimpin Aryo Penangsang dengan Patih Mentaun, Sekitar 1549-1554 Masehi terjadi konflik antara Jipang dan Pajang yang berakhir dengan tewasnya Aryo Penangsang dan Patih Mbah Setyo Kromo kemudian melarikan diri bersama seorang perempuan ke arah selatan.

Dalam perjalanan, mereka berhenti di sebuah kawasan yang banyak ditumbuhi pohon jati dan belimbing, yang kemudian dikenal sebagai Jati Belimbing. Perjalanan dilanjutkan hingga mereka menemukan sebuah sumber air kecil yang terus memancar. Sumber tersebut dikelilingi pohon kunci yang tumbuh di bawah pepohonan jati. 

Menurut cerita masyarakat, keberadaan pohon-pohon kunci Inilah yang kemudian menjadi asal-usul nama Desa Kunci. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar 1554 Masehi.

Cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur yang menarik untuk dibandingkan dengan kisah dalam Babad Tanah Jawi, karya sastra yang berkembang di lingkungan keraton dan kemudian disunting oleh W.L. Olthof pada 1941. Namun, kisah tentang Mbah Setyo Kromo dan asal-usul Desa Kunci tida idak serta-merta dapat dianggap sebagai fakta sejarah. 

Cerita ini lebih tepat dipahami sebagai folklore atau ingatan kolektif masyarakat, yang mencerminkan cara suatu masyarakat menjelaskan dan memberi makna terhadap asal-usul wilayahnya

Di sisi lain, cerita tersebut menarik untuk dicermati karena berkaitan dengan Jipang, yang dalam catatan Thomas Stamford Raffles melalui The History of Java (1817) disebut sebagai nama lama yang mencakup seluruh wilayah Bojonegoro dan sebagian wilayah Blora (Cepu). Maka, tidak mengherankan apabila kisah-kisah tentang Jipang, termasuk tokoh dan peristiwa yang menyertainya, berkembang dalam tradisi tutur masyarakat di berbagai wilayah Bojonegoro dan kemudian menjadi bagian dari cerita mengenai asal-usul suatu tempat

Keberadaan sumber mata air di Desa Kunci tidak hanya hidup dalam cerita masyarakat, tetapi juga tercatat dalam beberapa literatur, pada masa kolonial. Dalam laporan Kepala Insinyur Snell tahun 1925, sumber-sumber air di wilayah Bodjonegoro turut diteliti untuk kepentingan pengembangan irigasi, termasuk Mata Air Kunci, Pirang, dan Dander. Air dari sumber-sumber tersebut dikenal jernih dan menjadi bagian dari pertimbangan dalam perencanaan tata air wilayah Bodjonegoro.

Pemanfaatan sumber Kunci bahkan telah berlangsung melalui tata kelola masyarakat.

Sekitar tahun 1915, air sumber tersebut dikelola melalui sistem tradisional. Sebuah saluran irigasi dibangun menggunakan dana kas masjid. Pada musim hujan, air dialirkan ke kawasan kota sekitar pukul 06.00 hingga 17.00, sementara pada malam hari alirannya dibagi secara bergiliran untuk mengairi lahan pertanian warga. Hal ini mer ini menunjukkan bahwa sumber air bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga telah menjadi bagian dari sistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Pada tahun 1927, pemerintah kolonial juga mempertimbangkan pemanfaatan sumber air Kunci untuk memasok kebutuhan air Bodjonegoro. Namun, kondisi medan yang relatif landai antara wilayah Kunci dan Bodjonegoro mengharuskan penggunaan pompa untuk menaikkan dan mengalirkan air. Dengan perkiraan biaya sekitar f150.000, pembangunan sistem tersebut dinilai terlalu mahal dibandingkan kemampuan masyarakat untuk membiayai layanan air.

Di sisi lain, pemerintah kolonial mengembangkan kawasan irigasi yang memanfaatkan sumber-sumber air di selatan Bodjonegoro. Dalam pemberitaan mengenai Solovalleiwerken (Proyek Lembah Solo), kawasan irigasi tersebut antara lain mendapat pasokan dari Mata Air Dander, Pirang, dan Kunci. Ketiga sumber tersebut berada sekitar 10-11 kilometer di sebelah selatan pusat Bodjonegoro dan secara bersama-sama diperkirakan mampu mengairi sekitar 5.000-6.000 hektare lahan.

Pekerjaan irigasi kawasan tersebut dimulai pada tahun 1925 dan berkembang cukup pesat. Salah satu peninggalannya adalah Dam Pirang, yang kini berada di wilayah Desa Jatiblimbing. Maka Sumber Mata Air Kunci bukan sekadar sumber air, melainkan bagian dari sejarah, folklore, dan kehidupan masyarakat yang memperlihatkan hubungan antara alam, tradisi tutur, tata kelola air, dan perkembangan irigasi di Desa Kunci. (*)