Ada Benih yang Sedang Ditanam Djarum di Blibli

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
IPO Blibli
IPO Blibli
grosir-buah-surabaya

Ditanam pada tahun 2021, sampai sekarang belum banyak yang menyadarinya. 8 November 2022, lonceng bursa berdentang untuk kode baru: BELI. Blibli akhirnya melantai, e-commerce ketiga setelah Bukalapak dan GoTo, mengumpulkan Rp 8,2 triliun.

Euforianya cuma bertahan beberapa hari, sampai orang membaca prospektusnya sampai halaman yang biasanya dilewati. Rp 5,5 triliun dari uang itu langsung dipakai membayar utang bank.

Bukan untuk ekspansi. Bukan untuk riset. Bukan untuk gudang dan armada yang selama ini mereka sebut sebagai kekuatan utamanya.

Di media sosial tuduhannya langsung muncul: gali lubang, tutup lubang. IPO yang cuma memindahkan beban perusahaan ke kantong investor. Tapi ada pertanyaan yang lebih dulu perlu dijawab. Utang itu dipakai untuk apa?

Ini seluruh ceritanya dalam satu tarikan, biar tidak tersesat.

Tahun 2021 Blibli meminjam Rp5,5 triliun ke bank. Uang itu dipakai membeli jaringan supermarket Ranch Market. Setahun kemudian Blibli IPO, dan uang investor dipakai melunasi pinjaman tadi. Tiga langkah. Sisanya detail yang bikin ceritanya menarik.

Langkah pertama sudah janggal sejak awal.

Blibli dibesarkan dari suntikan modal ventura sejak 2016, dan perusahaan-seperti itu hampir tidak pernah punya utang bank berbunga. Tapi di 2021 utangnya muncul. Rp2,75 triliun dari BCA, Rp2,75 triliun dari BTPN.

Startup menggunakan utang apalagi dengan histori non-utang merupakan pola yang cukup jarang

BCA bukan kreditur sembarangan. Pemiliknya sama dengan pemilik Blibli, keluarga Hartono, yang kerajaannya membentang dari tembakau, perbankan, properti, sampai menara telekomunikasi.

BTPN ada di bawah Sumitomo Mitsui, salah satu bank terbesar Jepang. Dua institusi ini sudah lama akrab, sama-sama membiayai perusahaan Jepang di Indonesia, dan BCA tercatat memegang sekitar satu persen saham BTPN.

Langkah kedua, uangnya dibelanjakan. 30 September 2021, Blibli mengambil 51 persen saham pemilik Ranch Market. Tiga bulan berselang, kepemilikannya naik jadi 70,56 persen.

Tujuh puluh gerai supermarket premium, sebagian besar di Jakarta, berpindah tangan. Harganya Rp2,81 triliun. Sisa pinjaman jadi amunisi menawar saham public.

Yang keluar dari kantong Blibli sendiri Rp 128 miliar. 

Langkah ketiga, November 2022. IPO cair, pinjaman lunas. Selama dua tahun pinjaman berjalan, Blibli cuma membayar bunganya. Rp128 miliar, untuk aset senilai Rp 2,81 triliun.

Buat yang lama mengikuti Djarum, polanya sudah kelihatan. Mereka jarang mengeluarkan uang sendiri kalau ada jalur di dalam grup yang bisa dipakai.

BCA yang meminjami. Bursa yang menutup pinjamannya. Blibli cuma menanggung bunga di tengah. Kas makin rapi, aset juga bertambah. Lalu kenapa supermarket, sementara Blibli perusahaan digital?

Karena Blibli belum untung, dan jualan online itu mahal. Perang diskon tidak ada habisnya, dan penggunanya, meski setia di elektronik, masih kalah besar dari raksasa e-commerce lain.

Ranch Market punya yang tidak dimiliki aplikasi: uang tunai masuk setiap hari, dari orang yang belanja beras dan susu..

Uang harian itu yang membuat Blibli sanggup menunggu. Selama kasnya terisi, mereka tidak dipaksa buru-buru membuktikan apa pun ke pasar.

Dan menunggu memang kebiasaan lama di keluarga ini. Polytron dibangun sejak 1970-an melawan merek Jepang, dan sekarang ada di ruang tamu jutaan rumah. BCA diambil tahun 2002 waktu orang masih takut menyimpan uang di bank, dan sekarang jadi bank paling bernilai di bursa Indonesia.

Dan yang sedang viral, Como 1907 dibeli 850 ribu euro waktu klubnya masih di divisi amatir Italia, dan sekarang main di Serie A. BCA, Polytron, Como 1907 dan bahkan Mal Grand Indonesia terlihat seperti pembelian yang aneh di tahun pertamanya.

Djarum tidak pernah mengumumkan apa yang sedang dibangunnya. Mereka menunggu sampai orang sadar sendiri.

Ada peribahasa Tiongkok yang dipopulerkan film Ang Lee dua dekade lalu, Crouching Tiger, Hidden Dragon.

"Harimau yang mendekam, naga yang tersembunyi." yang artinya kekuatan besar yang sengaja disimpan sampai waktunya tiba.

Dan begitulah cara Djarum menyusun langkahnya lewat Blibli, di antara neraca dan catatan kaki, jauh dari sorotan. Tapi harus diakui, sampai hari ini Blibli masih rugi.

Rancangan serapi apa pun tetap bisa berakhir sebagai penundaan dari persoalan yang lebih besar, dan yang menanggungnya orang-orang yang menaruh uang di saham BELI.

Tidak ada aturan yang dilanggar di sepanjang cerita ini. Yang ada cuma cara bermain yang jarang dipakai orang. Jadi apakah Blibli sesuatu yang besar?

Kalau diukur dari untung rugi hari ini, belum.

Blibli baru masuk tahun keempat sejak melantai. Naganya masih mendekam, dan cuma sedikit orang yang tahu kapan ia akan terbang. (*)

*) Source : Investoria