Silsilah Keluarga Osama bin Laden
Kehidupan awal Osama bin Laden lebih banyak dibentuk oleh hak istimewa, perjalanan, dan paparan terhadap Barat daripada ekstremisme yang kemudian ia peluk. Lahir pada tahun 1957 dalam salah satu keluarga terkaya di Arab Saudi, ia tumbuh dikelilingi oleh atribut-atribut kesuksesan: sekolah elit, akses ke budaya global, dan bisnis keluarga yang sangat terkait dengan proyek-proyek modernisasi di seluruh Timur Tengah.
Sebagai remaja, Osama bin Laden pendiam, rajin belajar, dan atletis, lebih dikenal karena kecintaannya pada sepak bola dan kuda daripada semangat politik apa pun.
Pada awal 1970-an, keluarganya mengirimnya ke luar negeri untuk program musim panas, termasuk kursus bahasa Inggris singkat di Oxford. Ia berusia sekitar empat belas tahun, masih bertahun-tahun lagi dari kekakuan ideologis yang akan mendefinisikan kehidupan dewasa.
Catatan dari periode itu menggambarkannya sebagai sopan, tertutup, dan penasaran, bergerak di dunia mahasiswa, guru, dan norma budaya Barat tanpa sedikit pun petunjuk tentang pandangan dunia militan yang kemudian akan ia adopsi. Itu adalah momen dalam hidupnya ketika jalannya bisa mengarah ke arah yang tak terhitung jumlahnya.
Sepanjang akhir remaja dan awal dua puluhan tahunnya, bin Laden tetap terutama fokus pada agama, bisnis, dan keluarga. Ia menikah muda, mengelola proyek konstruksi, dan hidup sebagai pengusaha Saudi yang konservatif tapi konvensional.
Guncangan geopolitik yang akan meradikalisasinya, seperti invasi Soviet ke Afghanistan, munculnya jaringan jihad transnasional, dan pengaruh ideologis ulama ekstremis, belum sepenuhnya merasuk. Kehidupan awalnya bukan kisah seorang teroris yang sedang tumbuh, melainkan seorang pemuda istimewa yang masa depannya masih belum tertulis, lebih dibentuk oleh peluang daripada kekerasan.
Osama sebagai anak dalam keluarga besarnya yang sangat berstatus tinggi. Ayahnya memiliki lebih dari 50 anak, dan Osama, putra dari seorang ibu yang bukan bagian dari rumah tangga inti, tumbuh di pinggiran kerajaan itu.
Guru-gurunya menggambarkannya sebagai sangat pendiam, hampir tertutup, dan sangat bersemangat untuk menyenangkan figur otoritas. Ia tidak memberontak atau politis; ia adalah anak yang duduk di belakang, menghafal bait-bait puisi panjang, dan berusaha menyatu.
Campuran awal dari isolasi, disiplin, dan kerinduan untuk merasa diterima itu membentuknya jauh sebelum ideologi memasuki hidupnya. (*)
Editor : S. Anwar