Satu Kilogram Pakan Bukan Hanya Makanan Udang Ia Juga Tagihan Oksigen
Kita sering bicara FCR (Feed Conversion Ratio). FCR 1,2 dianggap bagus. FCR 1,8 mulai membuat kita berpikir. Tapi pernahkah kita menghitung berapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan pakan yang tidak menjadi daging udang?
Mari kita lihat sederhana. Setiap 1 kg pakan yang masuk ke tambak akan mengalami dua perjalanan :
Sebagian menjadi biomassa udang. Sebagian menjadi feses, sisa pakan, dan bahan organik yang harus diuraikan mikroorganisme. Di sinilah persoalannya.
Bakteri heterotrof membutuhkan oksigen untuk menguraikan bahan organik tersebut. Semakin banyak bahan organik yang menumpuk, semakin besar potensi kebutuhan oksigen tambak.
Sekarang, mari kita hitung. Dengan asumsi komposisi pakan dan neraca massa tertentu, kebutuhan oksigen potensial untuk mengoksidasi bahan organik dan nitrogen dari pakan dapat berada di kisaran 1,2 kg O₂ per kg pakan.
Ini bukan angka kebutuhan aerator secara langsung. Namun, angka tersebut memberi gambaran besarnya beban yang harus dikelola oleh ekosistem tambak.
Bayangkan dua tambak menghasilkan 1 ton udang.
Tambak A memiliki FCR 1,6.
Kebutuhan pakan: 1.600 kg.
Tambak B memiliki FCR 2,4.
Kebutuhan pakan: 2.400 kg.
Selisihnya 800 kg pakan.
Dengan estimasi kasar 1,2 kg O₂ per kg pakan, selisih tersebut membawa potensi beban oksigen sekitar 960 kg O₂. Belum termasuk faktor lain seperti akumulasi sedimen, plankton, dan respirasi udang. Artinya, FCR bukan hanya soal biaya pakan. FCR juga berkaitan dengan beban oksigen dan limbah biologis.
Apa yang bisa kita lakukan?
Jangan hanya mengevaluasi feeding rate berdasarkan nafsu makan udang. Evaluasi juga :
FCR dan efisiensi pemanfaatan pakan.
DO minimum menjelang subuh.
Akumulasi bahan organik dan kondisi sedimen.
Kapasitas aerasi terhadap beban pakan harian.
Karena setiap kali kita menambah pakan, kita bukan hanya memberi makan udang. Kita juga menambah pekerjaan bagi seluruh ekosistem tambak.
Menurut saya, masa depan budidaya intensif bukan tentang siapa yang paling banyak memberi pakan, tetapi siapa yang paling mampu mengubah setiap kilogram pakan menjadi biomassa dengan beban lingkungan serendah mungkin.
*) Source : Rico Wisnu Wibisono (Aquaculture Operational Consultant)
Editor : S. Anwar