Kisah Panjang Tentang Perjuangan dan Kekuasaan di Balik Foto Keluarga Sudono Salim
Sekilas, foto keluarga Sudono Salim mungkin hanya terlihat seperti potret keluarga biasa. Seorang ayah berdiri tenang di samping istrinya, sementara sang anak berdiri di sisi mereka.
Namun, jika kita mengenal siapa sosok di dalamnya, foto sederhana ini membawa kita kembali pada salah satu perjalanan bisnis paling menarik dalam sejarah Indonesia. Pria dalam foto ini adalah Liem Sioe Liong, yang kemudian dikenal luas sebagai Sudono Salim, pendiri Salim Group.
Lahir di Fuqing, Fujian, Tiongkok, pada 16 Juli 1916, Liem datang ke Jawa pada 1938 dan memulai kehidupannya sebagai perantau serta pedagang. Dari perjalanan yang jauh dari kemewahan itulah, perlahan ia membangun jaringan usaha yang kelak berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.
Di sampingnya adalah sang istri, Lie Las Nio, yang dikenal pula sebagai Liem Kiem Nio atau Lilani Salim. Mereka menjalani kehidupan keluarga selama puluhan tahun dan dikaruniai empat orang anak, yakni Albert, Andre Halim, Anthony Salim, dan Mira. Tetapi perjalanan Sudono Salim bukanlah jalan yang selalu mulus.
Pada September 1949, ketika melakukan perjalanan dari Kudus menuju Semarang, taksi yang ditumpanginya bertabrakan dengan sebuah truk militer Belanda. Kecelakaan itu menewaskan sejumlah orang di dalam kendaraan. Liem sendiri mengalami patah kaki dan luka di kepala, tetapi berhasil selamat.
Dan ada satu bagian lain dari kisah hidupnya yang membuat nama Liem Sioe Liong begitu lekat dengan sejarah Indonesia pada masa Orde Baru.
Pada era 1950-an, ketika masih berada di Semarang, Liem berkenalan dengan seorang perwira militer bernama Soeharto. Hubungan tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan personal dan bisnis yang bertahan hingga berakhirnya Orde Baru.
Ketika Soeharto menjadi Presiden, bisnis Liem berkembang sangat pesat. Bogasari, misalnya, menjadi salah satu tonggak penting Salim Group.
Sejumlah kajian sejarah bisnis juga mencatat adanya hubungan usaha antara Liem dengan anggota keluarga Soeharto, termasuk Sigit Harjojudanto dan Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut).
Anak-anak Soeharto juga tercatat pernah memiliki kepentingan di BCA pada periode tersebut.
Buku Richard Borsuk dan Nancy Chng tentang Salim Group bahkan secara khusus menggambarkan hubungan dan keterkaitan bisnis Liem dengan Soeharto, para jenderal, serta keluarga Soeharto sebagai bagian penting untuk memahami perjalanan kelompok usaha tersebut.
Karena itu, kisah Sudono Salim tidak hanya berbicara tentang bagaimana seorang perantau membangun kerajaan bisnis.
Dia juga menjadi bagian dari cerita yang lebih besar tentang hubungan antara dunia usaha, jaringan kekuasaan, dan perubahan ekonomi Indonesia pada era Orde Baru. Namun sebelum semua itu menjadi sejarah, ada kehidupan keluarga yang sederhana di baliknya.
Ada seorang istri yang mendampingi perjalanan panjang sang suami. Ada anak-anak yang kemudian tumbuh dan melanjutkan perjalanan keluarga. Dan ada sebuah foto yang kini menjadi jendela untuk melihat kembali sebuah zaman yang sudah berlalu.
Sudono Salim wafat di Singapura pada 10 Juni 2012, Lilani Salim menyusul pada 4 Maret 2016. Kini, yang tersisa adalah nama, jejak bisnis, dan foto-foto lama. (*)
Editor : Pak RW