Narasi sektarian yang selama ini diproduksi dan direproduksi, baik oleh kekuatan eksternal maupun kelompok internal yang tidak sadar telah dijadikan alat, hanya melayani satu agenda, yaitu melemahkan umat Islam agar tidak pernah bersatu.
Saya bukan pakar, tapi saya lumayan mengikuti dinamika di Timur Tengah. Kita di Indonesia sebetulnya pernah mengalami fase ketika perbedaan Sunni-Syiah nyaris tidak menjadi isu. Pada dekade 2000-an, Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad justru dipuja sebagai simbol keberanian melawan hegemoni Barat dan Israel.
Baca juga: Analisis China Tidak Ikut Campur dalam Perang Iran Israel dan Amerika Serikat
Namun, perang saudara di Suriah (dimulai tahun 2011) menjadi titik balik yang menyebarkan narasi sektarian ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Saat ini, dengan serangan langsung Amerika Serikat - Israel ke Teheran (Ibu Kota Iran), urgensi persatuan umat Islam seharusnya menjadi semakin nyata.
Pada masanya, Ahmadinejad dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap imperialisme Barat. Kesederhanaannya, nyalinya yang tinggi menentang Amerika Serikat, dan keinginannya “menghapus Israel dari peta dunia” menjadikannya idola di kalangan umat Islam, termasuk di Indonesia.
Pada era itu, fakta bahwa Ahmadinejad adalah seorang Syiah nyaris tidak dipermasalahkan sama sekali. Enggak ada perdebatan sektarian yang berarti. Orang Indonesia pada masa itu lebih fokus pada narasi “perlawanan terhadap ketidakadilan global” daripada identitas pemimpinnya.
Perang saudara di Suriah yang dimulai tahun 2011 bisa dibilang menjadi katalis utama merebaknya narasi sektarian di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Konflik yang awalnya bersifat politik, rakyat menuntut dicabutnya undang-undang darurat dan reformasi pemerintahan Bashar al-Assad, langsung berubah menjadi perang bernarasi sektarian.
Berbagai kelompok yang bertikai di Suriah (pemerintah Assad [didukung Iran dan Rusia], ISIS, Jabhat al-Nusra, oposisi Suriah, hingga pasukan Demokratik Suriah) masing-masing membawa kepentingan dan narasi yang berbeda.
Keterlibatan negara-negara luar, seperti Arab Saudi, Iran, Turki, Israel, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis pun makin memperumit konflik dan mempertebal garis pemisah sektarian.
Sejak tahun 2011, Indonesia pun mengalami peningkatan kekerasan berbasis sektarian. Komunitas Syiah dan Ahmadiyah menjadi sasaran. Puncaknya adalah konflik Sunni-Syiah di Kabupaten Sampang, Madura, pada tahun 2012.
Narasi “Syiah bukan Islam” mulai menyebar secara luas. Padahal, secara historis, praktik-praktik keagamaan yang dekat dengan tradisi Syiah sudah lama menyatu dalam ritual keagamaan masyarakat Nusantara yang Sunni.
Jurnal Al-Jāmi'ah dari Cornell University mencatat bahwa secara historis, ada banyak “common ground” antara praktik devosional Sunni dan Syiah di Indonesia, dan polarisasi tajam baru terjadi dalam dekade terakhir.
Masalahnya, sekarang, perpecahan Sunni-Syiah bukan sekadar persoalan teologis, melainkan telah menjadi alat geopolitik. Dalam setiap konflik antara Sunni dan Syiah, yang paling diuntungkan adalah Israel dan sekutunya.
Ketika Saudi dan Iran berseteru, Palestina terlupakan. Ketika umat Islam sibuk mengafirkan satu sama lain, agresi Israel terhadap Gaza terus berlanjut tanpa perlawanan berarti.
Seorang dosen Universitas Hasanuddin menulis, “Zionisme sebagai ideologi penjajahan modern menyadari bahwa kekuatan terbesar yang bisa menggoyahkan dominasi mereka adalah kesatuan umat Islam. Karena itu, strategi memecah belah menjadi senjata utama.”
Narasi sektarian yang direproduksi terus-menerus, baik melalui media, media sosial, maupun propaganda terselubung, bertujuan agar umat Islam tidak pernah bersatu menghadapi musuh bersama mereka.
Mungkin salah satu fakta yang paling sering diabaikan dalam diskursus sektarian adalah bahwa Hamas itu gerakan Sunni, bagian dari Ikhwanul Muslimin, tapi justru didukung oleh Iran yang Syiah.
Poros Perlawanan (al-Muqawwamah) yang dipimpin Iran mencakup Hizbullah (Lebanon), milisi Irak, Ansharullah/Houthi (Yaman), semuanya Syiah, kecuali Hamas yang Sunni.
Baca juga: Cerita di Balik Perundingan Mediasi Amerika Serikan dan Iran di Oman
Kalau Iran dan Syiah benar-benar “musuh Islam” seperti yang dinarasikan sebagian pihak, mengapa mereka justru menjadi kekuatan utama yang membela Palestina secara militer? Mengapa justru Hamas yang Sunni bekerja sama dengan mereka?
Nah, sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza. Data Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 67.000 warga Palestina tewas dalam 2 tahun, termasuk 20.000 anak-anak, sementara 1,9 juta jiwa (80% populasi Gaza) terpaksa mengungsi.
Dalam konteks ini, Iran menjadi satu-satunya negara yang secara langsung melakukan serangan militer ke Israel. Pada 13—14 April 2024, Iran melancarkan serangan kombinasi drone, rudal jelajah, dan rudal balistik ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus.
Pada 1 Oktober 2024, Iran kembali melancarkan serangan dengan sekitar 200 rudal balistik yang menyebabkan sirene berbunyi di seluruh Israel.
Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan berskala besar ke Iran dan kali ini menargetkan fasilitas nuklir, instalasi militer, dan kediaman pejabat tinggi. Setidaknya 585 orang tewas dan lebih dari 1.300 terluka.
Dalam banyak momen sejarah, Sunni dan Syiah pernah bersatu melawan musuh bersama, misalnya pada masa Perang Salib dan penaklukan Mongol.
Imam Khomeini bahkan pernah menyerukan persatuan umat Islam melalui Hari Quds Internasional.
Dr. Ali Shariati, cendekiawan Iran, pernah berkata, “Syiah dan Sunni adalah laksana dua sayap burung yang sama. Jika satu dipatahkan, umat Islam takkan bisa terbang.”
Baca juga: Hari Hari Yang Menentukan Sejarah Amerika Dan Iran: Perang Atau Damai?
Perbedaan Sunni-Syiah pada dasarnya adalah perbedaan ijtihad politik dan sejarah, bukan perbedaan agama. Dan sebagaimana ditegaskan oleh berbagai kalangan, musuh umat Islam tidak pernah memilih apakah target mereka Sunni atau Syiah.
Bom-bom Israel di Gaza enggak bertanya mazhab apa yang dianut korbannya. Genosida yang berlangsung enggak membedakan Sunni dari Syiah.
Ketika Gaza dibombardir dan banyak pemimpin negara muslim memilih diam, justru Iran, Hizbullah (Lebanon), dan Ansharullah (Yaman), yang mayoritas bermazhab Syiah, berada di garis terdepan, menghujani Israel dengan rudal.
Kenyataan ini seharusnya menjadi bahan refleksi: siapa yang benar-benar berjuang membela Palestina, dan siapa yang hanya sibuk memecah belah?
Pada akhirnya, umat Islam bisa berbeda dalam perkara furu' (cabang), tetapi enggak boleh terpecah dalam menghadapi kezaliman.
Narasi sektarian yang selama ini diproduksi dan direproduksi, baik oleh kekuatan eksternal maupun kelompok internal yang tidak sadar telah dijadikan alat, hanya melayani satu agenda, yaitu melemahkan umat Islam agar tidak pernah bersatu.
Sementara Israel terus memperluas agresinya dan Amerika Serikat terus memberikan perlindungan penuh secara militer, finansial, dan diplomatik, perdebatan Sunni vs Syiah saya kira menjadi kemewahan yang umat Islam tak mampu bayar. (*)
*) Source L Fauzan Al-Rasyid (Master's degree in linguistics)
Editor : S. Anwar