Dalam lembaran sejarah sepak bola nasional, nama Suhatman Imam menempati kasta tersendiri sebagai salah satu putra terbaik yang pernah dilahirkan Ranah Minang. Pria kelahiran 26 Februari 1956 ini adalah sosok genius lapangan hijau yang paripurna. Ia menorehkan tinta emas dalam dua era yang berbeda: menjadi jenderal lapangan tengah yang disegani saat aktif bermain, dan menjelma sebagai pelatih bertangan dingin yang melahirkan deretan bintang legendaris sepak bola Indonesia.
Kapten Timnas Generasi 70-an dan Tragedi Cedera Parah
Baca juga: Kisah Jenderal Agum Gumelar Sebagai Penyelamat PSSI
Bakat besar Suhatman Imam pertama kali mengorbit bersama klub lokal kebanggaan masyarakat Kota Tercinta, PSP Padang. Penampilan impresifnya di lini tengah langsung memikat radar tim pemandu bakat Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Pada tahun 1975, di usia yang masih sangat muda, ia sudah dipanggil untuk memperkuat Tim Nasional Indonesia Senior dalam ajang bergengsi Pra-Olimpiade di Jakarta.
Karier internasionalnya mencapai puncak pada tahun 1977. Dalam Kejuaraan Asia di Bangkok, Thailand, Suhatman diberi kehormatan tertinggi dengan menyandang ban kapten Timnas Indonesia. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tenang namun tegas di dalam lapangan.
Namun, takdir berkata lain. Berada di puncak keemasan, badai cedera parah menghantamnya pada tahun 1978. Cedera lutut yang sangat hebat di masa itu memaksanya mengambil keputusan paling memilukan: gantung sepatu di usia emas dan mengakhiri karier gemilangnya sebagai pemain sepak bola.
Juru Taktik Paling Sukses Sumatera Barat
Kehilangan Suhatman sebagai pemain nyatanya menjadi berkah tersendiri bagi dunia kepelatihan Indonesia. Insting sepak bolanya yang tajam membuat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat langsung mendapuknya menjadi pelatih tim sepak bola Sumbar untuk ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 1981. Kesuksesannya menakhodai tim daerah membuat namanya kian harum, bahkan membuka jalan bagi karier profesionalnya di luar lapangan dengan bekerja di Bank Dagang Negara (BDN) Padang.
Pada tahun 1985, raksasa Sumatera Barat, PS Semen Padang, memanggilnya pulang untuk meracik strategi tim dalam kerasnya kompetisi kasta tertinggi Indonesia saat itu, Galatama. Sentuhan emasnya terbukti nyata pada tahun 1992, ketika ia sukses membawa Semen Padang menjuarai Piala Indonesia (Piala Galatama) setelah menumbangkan Arema Malang di laga puncak.
Arsitek Proyek Legendaris PSSI Primavera di Italia
Reputasi nasionalnya membuat PSSI kepincut. Suhatman ditarik ke Jakarta untuk mendampingi pelatih dunia asal Serbia, Ivan Toplak, sebagai asisten pelatih Timnas Senior.
Puncak kontribusi terbesar Suhatman bagi masa depan sepak bola Indonesia terjadi pada awal dekade 90-an. Ia dipercaya oleh PSSI untuk menakhodai proyek ambisius Tim PSSI Primavera yang digembleng langsung dalam kompetisi pemain muda di Italia. Di bawah asuhan langsung Suhatman Imam di Eropa, lahir gembong pemain legendaris tanah air seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Yeyen Tumena, Bejo Sugiantoro, dan kawan-kawan yang kemudian menjadi tulang punggung Timnas Indonesia selama belasan tahun.
Kembali ke Rumah: Membawa Kabau Sirah Juara Liga
Setelah melanglang buana, pada tahun 2010 Suhatman kembali dipanggil oleh Semen Padang. Kali ini, ia bertindak sebagai Direktur dan Penasihat Teknik guna mengawal mantan anak didiknya sendiri, Nil Maizar, yang tengah merintis karier kepelatihan.
Sinergi guru dan murid ini berjalan luar biasa. Ketika Nil Maizar mendadak dipanggil PSSI untuk melatih Timnas Senior, manajemen langsung menunjuk sang mentor, Suhatman Imam, sebagai pelatih kepala. Hasilnya fantastis, Suhatman sukses membawa tim berjuluk Kabau Sirah itu merengkuh gelar juara Liga Prima Indonesia (LPI) serta menembus babak final Piala Indonesia musim 2011/2012. (*)
Editor : S. Anwar