Ada penyakit yang sudah membunuh puluhan ribu orang Indonesia tiap tahun, tapi baru resmi punya nama ilmiah sejak 58 tahun lalu. Namanya Hepatitis B.
Hepatitis B ialah virus yang ditemukan pada tahun 1967. Sebelum itu, sepanjang masa Hindia Belanda, penyakit hati kemungkinan besar hanya tercatat sebagai “penyakit kuning” biasa — apalagi untuk kelompok yang paling rentan : kuli kontrak di perkebunan, yang baru punya rumah sakit sendiri pada tahun 1872, dan hidup di bawah sistem kerja yang lebih melindungi kepentingan pengusaha ketimbang kesehatan mereka.
Sepanjang masa Hindia Belanda, tidak ada diagnosis bernama "hepatitis". Virusnya baru ditemukan pada tahun 1967. Tapi itu tidak berarti penyakit hatinya tidak ada - ia hanya tersembunyi di balik gejala "penyakit kuning" yang jarang dicatat serius, apalagi untuk penduduk pribumi
Kuli Kontrak : Kelompok yang Paling Rentan, Paling Tak Terdengar
Di perkebunan tembakau Deli, wabah menular datang berulang lewat jalur migrasi buruh – tahun 1819, 1884, 1905. Rumah sakit perkebunan pertama baru berdiri pada tahun 1872, lebih dari seabad setelah sistem kerja paksa berjalan. Sistem hukum kuli (Poenale Sanctie, 1880) melindungi kepentingan pengusaha, bukan kesehatan pekerja.
Indonesia sedang mengalami perubahan epidemiologi hepatitis B. Penularan pada generasi yang memperoleh imunisasi sejak bayi telah menurun drastis, sedangkan beban penyakit pada kelompok usia dewasa masih mencerminkan tingginya penularan yang terjadi pada masa sebelum imunisasi universal diperkenalkan.
Pola ini, beban besar di kelompok dewasa, bukan bayi adalah gema langsung dari ketimpangan akses kesehatan yang berakar sejak lama.
Kenapa Ini Masih Penting Buat Kamu Hari Ini?
Lebih dari 60% penduduk Indonesia belum punya kekebalan terhadap hepatitis B. Dari jutaan pengidap, baru sekitar 56 ribu yang terdiagnosis, sisanya tidak tahu dirinya membawa virus, dan berpotensi menularkan tanpa sadar. Ini bukan cerita masa lalu; ini masih terjadi di sekitar kita, hari ini.
"Hepatitis cuma menular lewat jarum suntik/penyalahgunaan obat, jadi kalau saya hidup sehat, saya aman."
Penularan hepatitis B terbesar di Indonesia justru terjadi secara vertikal - dari ibu ke anak saat kelahiran (90-95% kasus penularan vertikal) - bukan lewat gaya hidup berisiko. Itu sebabnya skrining ibu hamil dan imunisasi bayi baru lahir jadi kunci utama pencegahan, bukan sekadar "hidup bersih".
Tiga hal yang perlu kamu tahu :
1. Prevalensi hepatitis B nasional turun dari 7,1% (2013) jadi 2,4% (2023) — kemajuan besar berkat imunisasi.
2. Tapi lebih dari 60% penduduk Indonesia masih belum punya kekebalan terhadap virus ini.
3. Dari jutaan pengidap, baru sekitar 56 ribu yang terdiagnosis — sisanya tidak tahu dirinya membawa virus.
*) Source : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (SKI 2023, Riskesdas)
WHO, Hans Pols (Nurturing Indonesia, 2025)
Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah.
Editor : Redaksi