Tahun 1976, Guruh Soekarno Putra telah memberikan peringatan bahwa bencana komersialisasi dan eksploitasi agama dan budaya menimpa Pulau Dewata (julukan Bali). Peringatannya disampaikan dalam lirik berbahasa Bali berjudul Chopin Larung, lagu dari album Guruh Gipsy (1976).
Salah satu lagu ini berkisah bagaimana Chopin sebagai simbol kebudayaan asing berkontribusi pada hilangnya kesucian pulau. Guruh memperingatkan potensi bencana karma jika nilai spiritual diabaikan dan mengajak masyarakat untuk tetap waspada, serta tetap setia menjaga identitas Bali.
Lewat bait-bait berbahasa Bali halus yang puitis, Guruh momotret realitas kelam pariwisata massal yang mulai mengikis kesucian Bali sejak dekade 1970-an.
Lagu ini berkisah bagaimana si Chopin sebagai simbol kebudayaan asing berkontribusi pada hilangnya kesucian pulau, serta memperingatkan potensi bencana karma jika nilai spiritual diabaikan. Guruh mengajak masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga identitas Bali agar tidak tergerus kepentingan asing.
Lewat bait-bait lirik berbahasa Bali halus yang puitis, Guruh momotret realitas kelam pariwisata massal yang mulai mengikis kesucian Bali sejak dekade 1970-an.
Beberapa petikan lirik lagu Chopin Larung :
Orang Asing Merusak Kesucian |
"Titiang mengenang Bali/Sunantara wong ngrusak-asik negara”
(Saya merenungi dengan sesal Bali dirusak/diacak-acak orang asing).
Guruh Soekarno Putra mengungkapkan keprihatinan yang mendalam saat memikirkan Bali dan frasa "sunantara wong ngrusak-asik negara" secara gamblang menunjuk pada prilaku orang asing (sunantara wong) yang datang tidak untuk menghormati tradisi, melankan mengambil dampak destruktif.
Sesuai kenyataan, kebebasan yang bablas, eksploitasi lahan, dan pengabaian norma lokal telah mengacak-acak tatanan sosial dan merusak kelestarian alam Bali.
Kena Petaka karen Melupakan Widhi |
"Asing lenga lali ring Widi / Tan urung jagi manemu sengkala”
(Jikalau lengah dan lupa kepada Tuhan, niscaya ia akan menemui malapetaka).
Guruh Soekarno Putra memberikan peringatan teologis yang sangat keras melalui lirik ini. Mabuk kesenangan, baik masyarakat lokal yang tergiur materi maupun pendatang yang tidak tahu adat, pasti akan menemui petaka-manemu sengkala.
Pesan ini menegaskan hukum karma : Ketika kesucian pura, ritual, dan alam Bali dikorbankan demi industri pariwisata semata, maka kehancuran moral dan bencana ekologis tinggal menunggu waktu.
Jangan Lengah untuk Menjaga Bali |
"Duh nyama braya ring Bali/Dong sampunang banget nunaning prayatna"
[Wahai saudara-saudaraku di Bali, ayolah jangan sampai kita terlalu menurunkan kewaspadaan (lengah)].
Guruh Soekarno Putra menghimbau semua saudara (nyama braya) Bali agar jangan sampai sekali-kali kehilangan kewaspadaan nunaning prayatna. Masyarakat Bali diminta untuk tetap berdiri tegak, memperkuat benteng spiritual, daß berhati-hati agar Bali tidak dirusak oleh pengaruh orang dan budaya asing. Kalimat ini memberi pesan jelas bahwa kedaulatan budaya dan kesucian tanah kelahiran harus tetap dijaga dengan waspada dan tidak boleh diperjualbelikan kepada siapapun.
Pengaruh Budaya Barat Mencabis-cabik Bali |
Guruh secara cerdas mengambil nama belakang komposer klasik dunia Frederic Chopin, menjadi sosok yang "berperilaku janggal". Chopin digunakan sebagai personifikasi peradaban Barat.
Dalam lagu ini, Chopin sebagai orang asing digambarkan mati lalu dilarung (dihanyutkan) di sebuah pesisir Bali. Kematian simbolis ini menandakan bahwa kebudayaan Barat yang dibawa oleh arus modernisasi telah kehilangan jiwanya, membawa 'leteh' di Bali, menimbulkan benturan budaya, dan membuat masyarakat Bali bingung tergerus silau oleh gemerlap kemajuan material.
Tahun 1976, Guruh Soekarno Putra telah memperingatkan bahwa Bali akan tergoyang dalam menghadapi gemerlap material yang menyilaukan warga Bali.
Bali "jagi manemu sengkala" (akan menemui malapetaka) karena "wong sunantara" (orang asing). Ada banyak si Chopin datang "ngrusak-asik" (mecabik-cabik merusak) Bali dan orang Bali terlena hilang kewaspadaan diri lali ring Widi (lupa pada Hyang Widhi).
Guruh Soekarno Putra telah tegas memberi peringatan bahwa orang asing dan pariwisata punya daya rusak terhadap Bali, dan orang Bali yang terlena akan tertipu kemilau palsu kemajuan material. (*)
*) Source : Catatan Harian Sugi Lanus, 30 Juli 2026.
Editor : S. Anwar