Taj Mahal Riau yang Bikin Semua Mata Terpukau

Reporter : Redaksi
Masjid Raya An-Nur Riau

Bagi siapa saja yang sedang berkunjung atau melintasi jantung Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pandangan mata pasti akan langsung tertambat pada sebuah bangunan suci yang berdiri anggun nan megah. Dialah Masjid Raya An-Nur. Mengunjungi rumah ibadah ini akan memberikan sensasi magis yang luar biasa; arsitekturnya yang memesona membuat setiap pasang mata merasa seolah-olah sedang berdiri di pelataran monumen cinta terkenal di India. Tak heran, masyarakat luas secara kompak menyematkan julukan istimewa untuknya: "Taj Mahal Riau".

Masjid kebanggaan masyarakat Bumi Lancang Kuning ini bukan sekadar tempat bersujud yang tenang, melainkan sebuah mahakarya arsitektur lintas budaya sekaligus episentrum peradaban yang berdiri di atas lahan belasan hektare.

Akulturasi Estetis 4 Budaya Besar Dunia

Daya tarik utama yang membuat Masjid Raya An-Nur begitu memikat adalah desain fisiknya yang sangat memukau. Dirancang oleh arsitek andal tanah air, Ir. Roseno, bangunan utama masjid ini memiliki ukuran 50 x 50 meter yang berdiri kokoh di dalam kawasan lanskap yang luas dan tertata rapi.

Gaya arsitektur bangunan ini tidak monoton, melainkan sebuah simfoni indah yang memadukan unsur estetika dari empat budaya besar dunia: Melayu, Arab, Turki, dan India.

Kombinasi kubah besar di bagian tengah, menara-menara tinggi yang menjulang kokoh di sudut-sudutnya, serta keberadaan kolam air jernih memanjang di bagian halaman depan secara visual sangat identik dengan landmark legendaris Taj Mahal di Agra, India. Keindahan refleksi bangunan masjid di atas permukaan kolam inilah yang kerap diburu oleh para fotografer dan wisatawan karena menyuguhkan pemandangan yang luar biasa estetik dan fotogenik.

Perjalanan Sejarah : Dari 4 Hektare Menuju Kemegahan Sultan

Dibalik kemegahannya yang tampak modern saat ini, Masjid Raya An-Nur sesungguhnya memiliki rekam jejak sejarah yang panjang. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1963, dan baru diresmikan lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1968 oleh Gubernur Riau kala itu, Arifin Achmad.

Seiring perkembangan zaman dan pesatnya pertumbuhan penduduk Kota Pekanbaru, masjid ini mengalami perombakan dan transformasi total pada tahun 2000 di masa pemerintahan Gubernur Saleh Djasit. Lewat proyek megah tersebut, luas kompleks masjid melonjak drastis hingga tiga kali lipat, dari yang awalnya hanya 4 hektare kini meluas menjadi 12,6 hektar. Perluasan ini seketika mengukuhkan posisi Masjid Raya An-Nur sebagai salah satu kompleks masjid terbesar dan termegah di Indonesia.

Modernisasi kawasan suci ini terus bersolek. Pada tahun 2022, di bawah kepemimpinan Gubernur Syamsuar, wajah masjid kian menawan dengan dimulainya proyek pemasangan 6 unit payung elektrik raksasa di pelatarannya. Keberadaan payung-payung modern ini seketika menghadirkan atmosfer spiritual baru yang membuat jemaah merasa seolah sedang berada di pelataran Masjid Nabawi, Madinah.

Fasilitas Modern dan Sentuhan Seni Kaligrafi Klasik

Masjid Raya An-Nur dirancang cerdas dengan struktur dua lantai yang memiliki pembagian fungsi secara komprehensif:

Lantai Atas (Ruang Utama): Difungsikan khusus sebagai ruang salat utama yang mampu menampung hingga 4.500 jemaah. Area dalam ini terasa sangat syahdu berkat hiasan kaligrafi indah yang digoreskan oleh kaligrafer tersohor Azhari Nur dari Jakarta pada tahun 1970. Untuk menuju ke lantai atas, jemaah dimanjakan dengan fasilitas modern berupa 2 unit eskalator serta akses melalui 13 pintu masuk.

Lantai Bawah: Berfungsi sebagai pusat aktivitas umat dan manajemen, mulai dari kantor pengelola, aula pertemuan, hingga ruang-ruang khusus untuk pendidikan Islam yang dapat diakses melalui 4 pintu utama.

Kenyamanan tidak berhenti di dalam ruangan. Di bagian luar, terhampar lapangan luas berlapis granit mewah seluas 11.000 m². Area pelataran yang kini dinaungi payung elektrik tersebut mampu menampung hingga 10.000 jemaah tambahan dan rutin digunakan untuk kegiatan syiar publik berskala besar, seperti pelaksanaan salat Id, tabligh akbar, hingga pengajian akbar.

Episentrum Pendidikan dan Pencetak Generasi Qurani

Sejak awal fajar berdirinya, Masjid Raya An-Nur sudah mendedikasikan diri sebagai mercusuar ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat, di awal masa pendiriannya hingga tahun 1973, bangunan bawah masjid ini bahkan pernah dipinjamkan sebagai ruang kampus sementara bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.

Kini, komitmen dalam membangun generasi islami yang cerdas diwujudkan melalui kehadiran klaster pendidikan anak yang terintegrasi di dalam kompleks masjid, mulai dari jenjang anak usia dini hingga sekolah dasar, seperti TK Islam An-Nur, Taman Kanak Kanak BPMAA, SD An-Nur, dan SDIT BPMAA.

Dengan perpaduan sejarah yang kaya, arsitektur megah berkelas dunia, serta fasilitas penunjang yang modern, Masjid Raya An-Nur Pekanbaru sukses membuktikan dirinya bukan sekadar tempat ritualitas ibadah semata. Ia adalah representasi nyata dari wajah Islam Melayu di gerbang Sumatra yang maju, berbudaya, berpendidikan, dan selalu terbuka bagi siapa saja yang datang mencari keteduhan jiwa. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru