Mantan Kopassus Asal Padang di Pabrik Obat Luka Betadine

Reporter : Redaksi
Kahar Tjandra atau Tjan Ke Hoat

Betadine telah menjadi salah satu merek antiseptik yang akrab di masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Di balik perjalanan merek tersebut, ada sosok Kahar Tjandra atau Tjan Ke Hoat, Dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas sebagai Letnan Satu di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini bernama Kopassus.

Setelah mengakhiri karier militernya, Kahar Tjandra membuka Apotek Mahakam dari ruang tamu rumahnya di Jakarta Selatan pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian, ia mengambil alih perusahaan pemegang lisensi Betadine yang tengah mengalami kesulitan dan mendirikan PT Mahakam Beta Farma. 

Baca juga: Pemilik Apotik Adi Farma Tertipu Jual Beli Produk VIP Albumin

Pada tahun 1980, perusahaan tersebut memperoleh lisensi resmi dari Mundipharma AG, Swiss, untuk memproduksi Betadine di Indonesia.

Dengan strategi memperkenalkan produk kepada dokter dan rumah sakit sebelum beriklan secara luas, Betadine berkembang menjadi salah satu merek antiseptik yang paling dikenal di Indonesia. Kahar kemudian memperluas bisnisnya melalui Mahakam Group ke berbagai bidang, mulai dari farmasi, jaringan apotek, laboratorium klinik, makanan dan minuman, hingga perhotelan.

Siapa Kahar Tjandra?

Kahar Tjandra atau Tjan Ke Hoat lahir di Kota Padang pada 24 November 1929. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini pernah menjadi Letnan Satu di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini bernama Kopassus.

Setelah mengakhiri masa dinasnya, ia menjadi dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekaligus mengajar di Fakultas Kedoketeran Universitas Indonesia (FKUI).

Bisnis Berawal dari Ruang Tamu

Kahar Tjandra memutuskan mundur dari RPKAD agar bisa fokus menjadi dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan mengajar di Fakultas Kedoketeran Universitas Indonesia (FKUI).

Pada tahun 1967, Kahar Tjandra mengubah ruang tamu rumahnya di Jalan Mahakam, Jakarta Selatan, menjadi sebuah apotek. Dari tempat sederhana inilah lahir Apotek Mahakam yang kemudian menjadi awal perjalanan bisnisnya di industri kesehatan. Tapi Kahar bukan penemu Betadine

Banyak orang mengira Kahar menciptakan Betadine. Faktanya, ia bukan penemunya, melainkan sosok yang membawa merek tersebut berkembang di Indonesia.

Saat perusahaan pemegang lisensi Betadine mengalami krisis, Kahar mengambil alih perusahaan beserta utangnya karena melihat peluang di balik produk antiseptik tersebut.

Membawa Betadine Diproduksi di Indonesia

Pada tahun 1977, Kahar Tjandra mengakuisisi PT Daya Muda Agung, pemegang penjualan Betadine di Indonesia. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan PT Mahakam Beta Farma dan memperoleh lisensi resmi dari Mundipharma AG (Swiss) pada 1980 untuk memproduksi Betadine di Indonesia.

Produksi dimulai di pabrik kecil seluas 500 m2 sebelum berkembang ke Kawasan Industri Pulogadung.

Promosi Tanpa Iklan Besar

Dengan modal terbatas, Kahar Tjandra tidak mengandalkan iklan. Ia lebih dulu memperkenalkan Betadine kepada dokter dan rumah sakit agar manfaatnya dikenal tenaga medis.

Strategi ini membantu Betadine mendapat kepercayaan masyarakat dan perlahan menggantikan penggunaan obat merah sebagai antiseptik pilihan. Bahkan kini sudah memiliki beragam produk. Kini hampir semua orang di Indonesia ingat Betadine, bukan obat merah, jika terluka. 

Dari Apotek hingga Hotel

Melalui Mahakam Group, Kahar memperluas usahanya ke berbagai sektor selain farmasi :

Apotek Mahakam

Laboratorium klinik

Gas medis (PT Beta Gasindo Agung)

Bakery & cake (Le Gourmet Bakery & Cake)

Bahan bangunan (PT Perumindo Indah)

Produk plastik (PT Golden Star Plastic Works)

Perhotelan (Hotel Gran Mahakam).

*) Source : Sosokbisnis

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru