Pada 11 Januari 2000, ketika konflik komunal di Ambon memasuki fase yang semakin keras, sebuah foto karya fotografer AFP, Oka Budhi merekam pemandangan yang menggambarkan suasana penuh ketegangan di kota tersebut. Dalam foto itu, seorang warga Ambon memperlihatkan sebuah senjata tiruan M-16 kepada teman-temannya di kawasan Muslim Simpang AJ Pati, Ambon. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari kawasan yang dihuni komunitas Kristen.
Foto tersebut bukan sekadar gambaran tentang sebuah senjata palsu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana konflik telah menciptakan suasana ketakutan dan kewaspadaan yang luar biasa di tengah masyarakat. Pada saat itu, bentrokan antara komunitas Muslim dan Kristen telah berlangsung sejak tahun 1999 dan menyebar ke berbagai wilayah Maluku. Pemerintah dan aparat keamanan bahkan menemukan ratusan senjata rakitan yang dibuat masyarakat sendiri sebagai bagian dari persenjataan dalam situasi konflik.
Baca juga: Satreskrim Polres Bangkalan Ungkap Kepemilikan Senjata Api Ilegal di Banyuajuh
Di tengah kekacauan tersebut, senjata rakitan maupun senjata tiruan memiliki makna psikologis yang tidak kalah penting. Bagi masyarakat yang hidup hanya beberapa ratus meter dari wilayah yang dianggap sebagai daerah lawan, memiliki sesuatu yang menyerupai senjata dapat memberikan rasa percaya diri atau perlindungan, meskipun secara militer tidak memiliki kemampuan seperti senjata api sebenarnya. Foto ini dengan demikian memperlihatkan bagaimana konflik telah mengubah kehidupan sehari-hari masyarakat sipil, bahkan hingga mendorong munculnya budaya persenjataan darurat.
Baca juga: Kota Metro Diteror 2 Orang Bersenjata Api
Konflik Ambon sendiri berawal pada Januari 1999 dan kemudian berkembang menjadi kekerasan komunal yang berlangsung selama beberapa tahun. Penyebabnya tidak dapat dijelaskan hanya sebagai pertentangan agama.
Persaingan sosial-ekonomi, perubahan demografis, ketegangan politik, lemahnya pengendalian keamanan, serta berkembangnya mobilisasi identitas keagamaan ikut memperburuk keadaan. Dalam perkembangannya, kekerasan menyebabkan ribuan orang meninggal dunia, banyak lainnya terluka atau mengungsi, sementara rumah, tempat ibadah, fasilitas umum, dan kawasan permukiman mengalami kehancuran.
Baca juga: Penjaga Tambang Bawa Pistol Menakuti Warga
Foto bertanggal 11 Januari 2000 itu menjadi salah satu potret penting dari masa ketika Ambon terbelah secara sosial dan geografis. Jarak sekitar 300 meter antara kawasan Muslim dan Kristen menunjukkan betapa dekatnya dua komunitas yang secara bersamaan hidup dalam suasana saling curiga dan takut. Sebuah benda yang secara teknis hanya merupakan senjata tiruan pun dapat menjadi simbol dari realitas yang jauh lebih besar: ketika rasa aman masyarakat runtuh, warga sipil mulai mencari cara sendiri untuk menghadapi ancaman. (*)
Editor : S. Anwar