Kiai Abbas Buntet di Garda Depan Perjuangan Kemerdekaan

Reporter : Redaksi
Kiai Abbas

Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari perjuangan panjang para pendiri bangsa. Banyak ulama yang turut berperan besar dalam gerakan perjuangan tersebut, di antaranya datang dari Cirebon, yaitu Kiai Abbas buntet, ulama multi disipliner yang turun langsung ke medan perang untuk mengusir penjajah dari negeri Indonesia.

Siapa Kiai Abbas Buntet?

Baca juga: Sejarah Berdirinya Buntet Pesantren Astana Japura Cirebon

KH Abbas bin Abdul Jamil adalah ulama besar dari Buntet Pesantren, Cirebon. la merupakan putra KH Abdul Jamil, sesepuh Buntet Pesantren. Kiai Abbas adalah santri angkatan pertama KH Hasyim Asy'ari bersama KH Wahab Hasbullah pada tahun 1899. Kiai Abbas bukan hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai salah satu tokoh yang andil dalam mendidik bangsa melalui pesantren dan terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh Penggerak Nasionalisme Cirebon

Kiai Abbas merupakan ulama yang tumbuh dan memimpin lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon. Dalam penelitian Rofii dan Sujati, Kiai Abbas disebut sebagai salah satu pimpinan pesantren terkemuka di Cirebon yang berperan sebagai penggerak nasionalisme di tingkat lokal. Bagi Kiai Abbas, pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren juga menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran kebangsaan.

Perlawanan dimulai dari Lembaga Pendidikan

Pada tahun 1928, Kiai Abbas mendirikan Madrasah Abnaoul Wathan di Buntet Pesantren. Pendirian madrasah tersebut menjadi salah satu bentuk sikap Kiai Abbas terhadap kebijakan kolonial Belanda, khususnya Ordonantie Goeroe (peraturan yang dibuat kolonial belanda untuk mengatur dan mengawasi aktivitas guru agama Islam). Menariknya, pendidikan yang diberikan tidak hanya agama, ada pula pelajaran umum dan sejarah kebangsaan.

Di bawah kepemimpinan Kiai Abbas, Buntet Pesantren berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas perjuangan umat Islam di Cirebon. Kiai Abbas juga aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU) dan memiliki posisi penting dalam jaringan ulama Jawa Barat.

Pada masa pendudukan Jepang, ia menggunakan posisi sosial dan politiknya untuk memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa. Pesantren pun tidak hanya mencetak santri, tetapi juga membangun semangat kebangsaan.

Di bawah kepemimpinan Kiai Abbas, Buntet Pesantren berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas perjuangan umat Islam di Cirebon. Kiai Abbas juga menjadikan pesantren Buntet sebagai pusat pengembangan Nahdlatul Ulama tahap awal untuk wilayah Jawa Barat khususnya Cirebon. Ini yang kemudian diikuti oleh KH. Mas Abdurrahman (Menes Pandeglang Banten), KH. Junaidi (Jakarta), dan KH. Ruhiyat (Tasikmalaya). Atas dasar itulah maka pada 27 Agustus 1931 Buntet Pesantren menjadi lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama ke-6.

Baca juga: Biografi KH Muqoyyim Sang Pendiri Pondok Buntet Pesantren

Memimpin Santri dan Ulama dalam Pertempuran Surabaya

Walaupun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda mengancam kedaulatan Republik Indonesia.

Dalam situasi tersebut, Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu pemantik mobilisasi ulama dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kiai Abbas termasuk ulama yang terlibat dalam Pertempuran Surabaya pada 10-25 November 1945, ia memimpin langsung kalangan ulama-santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah atas perintah Kiai Hasyim Asy'ari.

Dijuluki Singa dari Jawa Barat

Penelitian Baharsyah menemukan bahwa Kiai Abbas berperan dalam menggerakkan kekuatan rakyat dan berbagai milisi di Surabaya. Ia juga menerapkan strategi penyerangan yang menurut penelitian tersebut dilakukan menjelang waktu fajar. Artinya, peran Kiai Abbas bukan sekadar simbol. 

la memiliki fungsi sebagai pemimpin, penggerak massa, sekaligus ulama yang memberikan legitimasi moral bagi perjuangan mempertahankan Republik. Peran besarnya tersebut membuat Kiai Abbas dijuluki Singa dari Jawa Barat dari gurunya.

Kiai Abbas dan Warisan

Perjuangan Kiai Abbas menunjukkan bahwa mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui medan perang. Pendidikan, pesantren, organisasi, kepemimpinan masyarakat, hingga perjuangan bersenjata menjadi bagian dari perjuangannya. 

Dari Buntet Pesantren, Cirebon, Kiai Abbas membangun kesadaran kebangsaan sebelum Indonesia merdeka dan kemudian turun langsung dalam revolusi mempertahankan kemerdekaan. la bukan sekadar kiai dari Cirebon. la adalah bagian dari sejarah perjuangan Indonesia. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru