Nama Dr. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. kerap menghiasi lini masa media massa maupun media sosial. Bagi sebagian orang, ia mungkin lebih dikenal sebagai politikus senior yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi. Namun, jika kita menilik lebih dalam rekam jejak digitalnya, pria kelahiran Ambon, 18 Agustus 1947 ini memiliki perjalanan hidup yang sangat kaya, mulai dari dunia pergerakan mahasiswa, jurnalistik, hingga menjadi benteng etika di lembaga antikorupsi.
Banyak generasi muda saat ini yang belum tahu bahwa karakter kepemimpinan Abdullah telah ditempa di masa-masa sulit sejarah Indonesia. Berikut adalah sisi lain rekam jejak digital Abdullah Hehamahua yang jarang diketahui publik:
Baca juga: Isi Surat Edaran KPK Jelang Penerimaan Murid Baru
1. Singa Podium di Masa Keemasan HMI
Jauh sebelum terjun ke politik praktis, Abdullah adalah tokoh kunci gerakan mahasiswa. Ia aktif dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang legendaris. Puncak kepemimpinannya di dunia aktivis terjadi saat ia dipercaya menakhodai Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) sebagai Ketua Umum periode 1978–1981. Di era inilah mentalitasnya sebagai pengawal keadilan dibentuk.
2. Berawal dari Penyiar Radio Perjuangan
Tidak banyak yang tahu bahwa Abdullah memiliki latar belakang literasi dan komunikasi yang tajam. Pada medio 1975–1976, ia aktif sebagai wartawan sekaligus penyiar di Radio Arief Rahman Hakim. Bagi generasi eks-komponen '66 dan '77/'78, radio ini dikenal sebagai corong perjuangan mahasiswa yang sangat berani. Kemampuan menulisnya kemudian membawa Abdullah dipercaya menjadi editor di Majalah Cipta Kementerian Pekerjaan Umum (1976–1979).
3. Mengembara dan Berkarier di Malaysia
Rekam jejaknya sempat melintasi batas negara. Setelah menyelesaikan studi D-3 Teknik Elektro di Universitas Hasanuddin, Makassar, Abdullah merantau ke Malaysia. Di sana ia menyelesaikan S-1 di Institut Teknologi Bintang dan S-2 di Institut Teknologi Megatec, Kuala Lumpur. Tak hanya kuliah, pada tahun 1993 ia juga sempat bekerja profesional di negeri jiran sebagai editor sekaligus Manajer Pemasaran di Penerbitan Pustaka Dini, Selangor.
Baca juga: Walikota Madiun Dibawa ke Jakarta, Tertangkap Operasi Senyap KPK
4. Benteng Etika di KPKPN dan KPK
Sekembalinya ke tanah air pasca-Reformasi, integritas Abdullah dilirik negara. Pada tahun 2001, ia ditunjuk menjadi Wakil Ketua Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN)—lembaga krusial yang menjadi cikal bakal berdirinya KPK.
Ketika KPK resmi berdiri, Abdullah direkrut menjadi penasihat lembaga antirasuah tersebut selama dua periode (2005–2013). Selama delapan tahun di sana, ia dikenal sebagai sosok di balik layar yang super ketat menjaga kode etik dan integritas para penyidik serta pimpinan KPK.
5. Kolektor Gelar Akademik di Usia Matang
Baca juga: Oknum Jaksa Ditangkap KPK, Disita Uang Rp 900 Juta
Meski sibuk di dunia pergerakan dan birokrasi, perhatiannya pada pendidikan tidak pernah surut. Uniknya, setelah kenyang di dunia teknik elektro, Abdullah justru beralih mendalami ilmu hukum dan manajemen di usia matang. Ia meraih gelar Sarjana Hukum (2008) dan Magister Manajemen (2011) dari Universitas Krisnadwipayana, sebelum akhirnya merengkuh gelar Doktor Manajemen dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2013.
Dari Ambon, ke dunia pergerakan, hingga menjadi saksi sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia—jejak digital Abdullah Hehamahua adalah potret perjalanan seorang tokoh yang konsisten bergerak di jalurnya. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar