Alasan Jangan Mebuang Gigi Copot

Reporter : Redaksi
Gigi Copot

Gigi murid yang copot karena jatuh jangan dibungkus tisu. Dan jangan digosok sampai bersih. Kamu sedang memegang sel yang masih hidup. Seperti apa penjelasnanya ?

Namanya Ligamen Periodontal. Julukannya Si Tali Gigi. Itu serat-serat halus yang mengikat akar gigi ke tulang rahang. Tipis, tapi itulah yang membuat gigi tetap kokoh saat mengunyah.

Baca juga: Maesa Dental Clinic Berikan Layanan Kesehatan Gratis bagi Ratusan Warga Tangerang

Satu rahasia : saat gigi terlepas utuh, sebagian darinya ikut menempel di akarnya, dan masih hidup, untuk sementara.

Contoh kasus. Pukul 09.15, jam olahraga, bermain bola di lapangan. Seorang anak kelas 8 bertabrakan dengan temannya dan jatuh tertelungkup. Mulutnya berdarah. Di rumput, tergeletak satu gigi depan atas yang terlepas utuh, lengkap dengan akarnya. 

Orang dewasa yang ada di lapangan memungut gigi itu dengan cepat.

"Wah, kotor kena tanah."

Dia menggosok akarnya dengan tisu sampai bersih, lalu membungkusnya rapat-rapat dengan tisu kering.

"Nanti dikasih ke orang tuanya. Sekarang kumur dulu, ke UKS, istirahat."

Dari tempat itu, ini yang terjadi : di permukaan akar, sel-selnya masih hidup. Mereka bisa menempel kembali ke tulang bila gigi segera dipasang kembali oleh dokter gigi.

Tapi gosokan tisu merobeknya. Udara kering membuat sel-sel itu cepat mati. Setiap menit di dalam tisu kering, peluangnya menyusut.

Orang tua baru bisa datang sore hari. Gigi itu sudah berjam-jam kering di dalam tisu.

Dokter gigi tetap berusaha, tapi peluang gigi itu bertahan jauh lebih kecil dibanding bila ditangani dalam hitungan menit. Padahal gigi depan permanen itu seharusnya menemani dia seumur hidup.

Bayangkan bibit tanaman yang dicabut dari pot. Kalau akarnya langsung dimasukkan ke tanah basah, dia bisa hidup lagi. Kalau akarnya digosok bersih lalu dijemur seharian, bibit itu mati, sekalipun daunnya masih tampak hijau.

Gigi yang copot juga begitu. Yang harus diselamatkan adalah akarnya.

Baca juga: Lion Wings Luncurkan Bus Periksa Gigi Keliling di Surabaya

Di sekolah lain, kejadian serupa ditangani berbeda. Seorang guru memegang gigi di bagian mahkotanya, bukan akarnya. Gigi yang kotor dia celupkan sebentar ke susu. Lalu dia menaruhnya di gelas berisi susu dingin dari kantin, menelepon orang tua, dan membawa anak itu langsung ke dokter gigi terdekat.

Semua dalam waktu kurang dari satu jam.

Dalam sains, ini disebut avulsi gigi, yaitu gigi yang terlepas utuh dari tulang rahang.

Untuk gigi permanen, peluang berhasil ditanam kembali sangat bergantung pada waktu dan apakah sel ligamen di akar tetap lembap. Susu sering dianjurkan sebagai media penyimpanan sementara. Gigi susu umumnya tidak ditanam kembali.

Wahai Guru:

Pegang gigi di bagian mahkota, jangan sentuh akarnya. Bila kotor, bilas sebentar dengan susu atau air bersih. Jangan digosok, jangan dibungkus tisu kering. Simpan dalam susu, hubungi orang tua, dan segera ke dokter gigi. Bila ada benturan kepala, pingsan, atau muntah, ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) dulu.

Ayah, Bunda. Ingat satu kalimat: gigi copot masukkan ke susu, langsung ke dokter gigi. Untuk anak yang lebih besar dan tenang, gigi bisa disimpan di dalam mulut di sisi pipi, asal tidak berisiko tertelan. 

Baca juga: Polrestabes Bandung Tangkap Pelaku Penyerangan Dokter Gigi

Untuk anak yang aktif bermain bola atau bela diri, tanyakan ke dokter gigi tentang pelindung mulut. 

Gigi yang copot bukan sekadar sisa daging di akar gigi. Itu jembatan yang bisa menyambungkan gigi itu kembali ke rumahnya.

Yang dibutuhkan bukan tisu yang bersih. Butuh susu, sentuhan di mahkota, dan orang dewasa yang bergegas.

Fakta vs dramatisasi :

Cerita ini fiksi, dan ligamen periodontal tidak benar-benar berbicara.

Yang nyata: gigi permanen yang copot bisa ditanam kembali, dan peluangnya lebih baik bila ditangani cepat dengan akar tetap lembap.

Keterbatasan: hasil akhir bergantung pada banyak faktor. Keputusan penanganan ada di tangan dokter gigi. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru