Perjanjian Giyanti (1755) membelah Kerajaan Mataram menjadi dua takhta yang berdaulat : Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian ini turut mengubah peta politik Jawa, terutama bagi Raden Mas Said, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.
Pangeran Mangkubumi, kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I, yang dulu sekutu Pangeran Sambernyawa dalam melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Namun, setelah perjanjian Giyanti, keduanya justru berbalik menjadi lawan.
Baca juga: Raja Perempuan di Kesultanan Yogyakarta
Sejak saat itu, perjuangan Pangeran Sambernyawa semakin berat karena ia harus menghadapi tiga kekuatan besar sekaligus : VOC, Surakarta, dan Yogyakarta, yang bersatu mengejarnya.
Di tengah pengejaran, Sambernyawa justru berniat menyerang Yogyakarta. Patihnya, Kudanawarsa, sempat mengingatkannya untuk menahan diri karena kekuatan pasukannya jauh tidak seimbang dengan kekuatan Yogyakarta. Namun, tekad Pangeran Sambernyawa sudah bulat
300 Kavaleri Menuju Yogyakarta
Pada Oktober 1756, panji-panji pasukan Pangeran Sambernyawa berkibar di wilayah Yogyakarta.
Dengan mengerahkan 300 pasukan kavaleri (penunggang kuda), ia melancarkan serangan kejutan yang membuat serdadu VOC maupun penduduk setempat terperanjat. Sebagian penduduk bahkan sempat mengira pasukan kavaleri itu adalah rombongan Putra Mahkota R.M. Entho, yang baru pulang dari medan laga
Gempuran di Yogyakarta
Dalam serangan ini, pasukan Pangeran Sambernyawa berhasil menjarah pos-pos VOC di Yogyakarta dan merusak bangunan Keraton Yogyakarta yang baru saja berdiri.
Baca juga: Sultan Hamengkubuwono Serahkan Hartanya Demi Gaji Pegawai Bung Karno
Kepala juru tulis keraton Tg. Sindusastra, turut tewas saat sedang berada di kediaman R. Ad.
Jayaningrat saat serangan terjadi. Pangeran Sambernyawa juga kehilangan 30 pasukannya yang gugur
Akhir dari Serangan
Serangan baru berhenti setelah meriam-meriam VOC diletuskan, Pangeran Sambernyawa pun menarik mundur pasukannya. Sultan Hamengkubuwono I, yang saat itu tengah mengejarnya jauh dari keraton, murka begitu mengetahui musuh yang dicarinya menyerang pusat kekuasaannya sendiri.
Dampak Serangan
Baca juga: Soetidja, Seniman Tari Pertama yang Tembus Industri Hiburan Amerika Serikat
Serangan kilat ini menjadi salah satu aksi paling dramatis dalam perjuangan Pangeran Sambernyawa dan membawa keberuntungan bagi pihak Mangkunegaran.
Keberhasilannya memperkuat posisi tawar Pangeran Sambernyawa dalam perundingan damai yang kelak berlangsung di Salatiga, sekaligus mengangkat semangat juang dan moral pasukannya.
Refleksi
Di tengah kehidupan modern yang penuh gejolak dari dalam dan luar negeri ini. jangan sampai kita kembali terjebak dalam sejarah yang sama, Gercerai berai dan diadu domba untuk memuaskan hasrat segelintir pihak yang merugikan rakyat. Jangan ada Devide et Impera di antara kita, jangan beri ruang bagi siapapun untuk memecah belah. (*)
Editor : S. Anwar