Ranah Minang tidak pernah kehabisan stok perempuan tangguh yang menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa. Salah satu sosok yang paling bersinar namun bersahaja adalah Hj. Syamsiyah Abbas (17 Desember 1911 – 14 Januari 2006). Sepanjang hampir satu abad usianya, Syamsiyah bergerak melintasi tiga zaman sebagai seorang pendidik visioner, politikus ulung, sekaligus aktivis perempuan Muslimah yang sangat disegani di Indonesia.
Lahir dari Rahim Ulama Besar Tarbiyah
Darah pejuang dan intelektual mengalir kental dalam diri Syamsiyah. Nama "Abbas" yang tersemat di ujung namanya merupakan penghormatan kepada sang ayah, Syekh Abbas Qadhi. Ayahnya adalah ulama besar kharismatik pendiri Arabiah School di Bukittinggi sekaligus salah satu pilar utama pendiri organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) bersama para sahabatnya seperti Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Jamil Jaho, dan Syekh Abdul Wahid Asshalihi.
Syamsiyah juga merupakan adik kandung dari K.H. Sirajuddin Abbas, ulama terkemuka yang sangat produktif menulis kitab, pemimpin tertinggi PB Perti, serta mantan Menteri Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I. Didikan lingkungan keluarga yang relijius dan intelektual inilah yang membentuk karakter kuat Syamsiyah sejak belia.
Mendirikan MTI Bangkaweh: Satu-satunya Pesantren Khusus Putri
Sumbangsih terbesar Syamsiyah di dunia pendidikan bermula pada tahun 1938. Dibantu oleh sang kakak, Sirajuddin Abbas, ia mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Putri di kampung halamannya, Bangkaweh.
Langkah ini tergolong sangat revolusioner pada zamannya. Terbukti, dari 360 MTI yang berdiri di seluruh Indonesia pada tahun 1954, MTI Bangkaweh menjadi satu-satunya lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri untuk kaum putri. Di madrasah ini, para santriwati tidak hanya ditempa ilmu agama yang mendalam dan pendidikan umum, melainkan juga dibekali keahlian praktis dalam mengurus rumah tangga (home economics) agar siap menjadi pilar peradaban di keluarga mereka.
Sebelumnya, Syamsiyah juga sudah aktif mengajar sebagai Guru Besar Kuliah Syur'iah Wanita Perti Bangkaweh sejak 1939. Di kemudian hari, dedikasinya pada pendidikan tinggi dibuktikan dengan mendirikan STKIP Abdi Pendidikan Bangkaweh (yang kini berpindah ke Kota Payakumbuh) serta STKIP Ahlussunnah Tarok.
Geliat di Organisasi dan Singa Politik Konstituante
Kiprah Syamsiyah tidak berhenti di dalam dinding kelas. Di ranah sosial-keagamaan, ia menjadi motor penggerak kaum perempuan dengan menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar (PB) Wanita Perti selama hampir dua dekade (1937–1954). Pengaruhnya yang kuat membawanya duduk di tampuk pimpinan elite sebagai Ketua II PB Partai Islam Perti sejak tahun 1950.
Saat Indonesia memasuki masa-masa awal kemerdekaan, Syamsiyah menjadi bagian dari tokoh nasional yang merumuskan arah bangsa. Rekam jejak politiknya sangat mentereng:
Anggota Majelis Islam Tinggi Sumatera Tengah (1942–1945).
Pendiri dan Penasihat Lasykar Muslimat Indonesia (sejak 1946).
Anggota Dewan Partai Tertinggi Partai Islam "Perti" (sejak 1949).
Anggota Konstituante Republik Indonesia, duduk bersama para tokoh bangsa lainnya untuk merumuskan Konstitusi negara.
Di tingkat regional, kepiawaian dan ketajaman analisisnya membuat Syamsiyah dipercaya menjadi Penasihat Gubernur Sumatera Barat selama tiga tahun, serta mendedikasikan diri sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Barat selama lima tahun.
Warisan Abadi Sang Pejuang
Hj. Syamsiyah Abbas berpulang pada 14 Januari 2006 di usia 94 tahun. Ia meninggalkan warisan yang tak ternilai berupa ribuan lulusan perempuan yang cerdas, berakhlak mulia, dan berdaya. Lewat keteguhannya, Syamsiyah telah membuktikan bahwa perempuan Muslimah mampu berdiri tegak di garis depan pendidikan dan politik tanpa sedikit pun kehilangan identitas keagamaannya. (*)
Editor : Bambang Harianto