Bagi masyarakat Padang Pariaman, nama Kolonel TNI (Purn.) H. Anas Malik Datuak Rangkayo Majo Basa akan selalu menempati ruang tersendiri dalam sejarah pembangunan daerah. Memimpin sebagai Bupati Padang Pariaman selama dua periode (1980–1985 dan 1985–1990), sosoknya dikenang sebagai pemimpin yang progresif, legendaris, dan berkarakter kuat.
Pria kelahiran 21 Desember 1929 ini tidak hanya sukses membangun sarana dan prasarana fisik di wilayahnya, tetapi juga berhasil menggembleng mental, kedisiplinan, dan karakter masyarakat Padang Pariaman.
Dari Menjaga Ibu Kota hingga Membangun Kampung Halaman
Sebelum mengabdikan diri di ranah birokrasi pemerintahan daerah, Anas Malik meniti karier sebagai perwira militer di ABRI Angkatan Darat. Salah satu amanah penting yang pernah diembannya adalah menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan Kodam (Kapendam) V/Jakarta Raya (kini Kodam Jaya) dengan pangkat Letnan Kolonel pada medio 1974 hingga 1980.
Pengalaman memimpin di lingkungan militer ibu kota inilah yang membentuk karakter ketegasan, kedisiplinan, namun tetap membumi saat ia pulang ke Sumatra Barat untuk memimpin Padang Pariaman. Dalam kehidupan pribadinya, Anas Malik didampingi oleh sang istri, Juwita Anas Malik, dan dianugerahi sembilan orang anak.
Mantan Bupati Padang Pariaman, Ir. Nasrul Syahrun, pernah memberikan kesaksian mendalam mengenai sosok seniornya tersebut.
"Anas Malik semasa menjabat sebagai Bupati Padang Pariaman merupakan seorang pemimpin yang bijaksana dan disiplin, dan prestasi kerjanya sulit dilukiskan dengan kata-kata," ujarnya.
Meski dikenal tegas, Anas Malik adalah figur yang sederhana dan gemar membaur tanpa sekat dengan seluruh lapisan masyarakat.
Menghapus Julukan "WC Terpanjang" dan Menggagas AMD
Salah satu warisan terbesar Anas Malik yang paling membekas dalam ingatan publik adalah keberaniannya merevolusi kawasan Pantai Pariaman. Kala itu, kawasan pesisir tersebut sempat mendapatkan sindiran tajam sebagai "WC Terpanjang di Dunia" karena kebiasaan buruk sanitasi masyarakat setempat. Lewat pendekatan yang gigih dan konsisten, Anas Malik berhasil mengubah total wajah pantai tersebut menjadi kawasan yang bersih dan tertata.
Di samping itu, ia juga merupakan salah satu konseptor utama di balik lahirnya program ABRI Masuk Desa (AMD) di tingkat lokal, sebuah program padat karya terintegrasi yang di kemudian hari disinergikan dengan program lokal Manunggal Sakato (Manunggal Juang dan Manunggal Bhakti). Melalui gerakan manunggal ini, pembangunan infrastruktur pedesaan di Padang Pariaman bergerak masif melibatkan gotong royong TNI dan rakyat.
Visioner di Bidang Pendidikan dan Perekat Kaum Perantau
Kepedulian Anas Malik tidak berhenti pada urusan infrastruktur dan sanitasi. Beliau merupakan sosok visioner yang memikirkan masa depan generasi muda lewat jalur pendidikan. Ia tercatat sebagai pendiri sekaligus Ketua Yayasan LP-3 Esida Sumatra Barat.
Dari yayasan inilah lahir berbagai lembaga pendidikan penting di ranah Minang, seperti:
AKOP/STEKOP Padang
Aperta Sumbar di Lubuk Alung
Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Pemda Padang Pariaman (yang kini telah bertransformasi menjadi Program Studi D3 Keperawatan Universitas Negeri Padang/UNP).
Selain itu, Anas Malik menyadari betul potensi besar yang dimiliki oleh para perantau Minang. Ia memainkan peran krusial sebagai jembatan yang menghubungkan perantau untuk ikut serta membangun kampung halaman. Atas dedikasinya tersebut, ia didaulat menjadi Ketua Persatuan Keluarga Daerah Padang Pariaman (PKDPP), organisasi paguyuban yang di kemudian hari berkembang pesat menjadi Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) se-Indonesia.
Hingga akhir hayatnya pada 18 Oktober 1994, Anas Malik telah menuntaskan tugasnya dengan gemilang. Ia meninggalkan sebuah standar kepemimpinan yang tinggi: tegas dalam prinsip, nyata dalam bekerja, dan selalu dekat di hati rakyat. (*)
Editor : Bambang Harianto