Dunia politik sering kali diidentikkan dengan perebutan kekuasaan, pengaruh, dan fasilitas mewah. Ketika seseorang sudah berhasil menduduki kursi empuk di Senayan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, sangat jarang ada yang rela melepaskannya begitu saja. Namun, pengecualian besar itu ada pada sosok Habib Nabiel Al Musawa.
Ulama kharismatik kelahiran pada 5 Mei 1967 ini memilih jalan yang berbeda. Setelah sempat merasakan riuh rendah dan kemewahan panggung politik parlemen, ia memilih putar haluan. Habib Nabiel Al Musawa memutuskan mundur dari panggung politik praktis demi kembali ke khittah asalnya: mengabdi sepenuhnya untuk umat melalui jalur dakwah.
Karib dengan Dunia Pergerakan Sejak Kecil
Kepekaan sosial dan ketertarikan Habib Nabiel Al Musawa pada persoalan bangsa tidak tumbuh dalam semalam. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan diskusi-diskusi berat mengenai situasi negara. Hal ini tidak lepas dari pengaruh besar sang ayah, Fuad Al-Musawa.
Sang ayah bukan orang sembarangan; Habib Nabiel Al Musawa merupakan salah satu tokoh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) pada zamannya, sekaligus seorang dosen di IAIN Cipanas. Tumbuh di lingkungan yang agamis namun kritis, membuat Nabiel kecil terbiasa melihat masalah masyarakat dengan sudut pandang yang peka. Ditambah lagi, keluarga besar Al Musawa kala itu dikenal memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan partai Islam berlambang Ka'bah (PPP). Kombinasi lingkungan inilah yang membentuk karakter kepemimpinan dalam dirinya sejak dini.
Memasuki bangku kuliah, jiwa pergerakannya semakin matang. Habib Nabiel aktif di berbagai organisasi eksternal dan internal kampus, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan gerakan Kerohanian Islam (Rohis). Di wadah-wadah inilah ia memperdalam konsepsi pemikiran tentang bagaimana Islam memandang politik sebagai alat untuk menebar maslahat, bukan sekadar meraih kekuasaan.
Kiprah di Parlemen dan Kepedulian yang Tak Luntur
Karier politik formalnya kemudian berlabuh di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di struktur partai, Habib Nabiel dipercaya mengemban amanah di Biro Luar Negeri dan Bidang Kaderisasi. Ia dikenal sebagai sosok yang tangguh dan aktif berkeliling ke berbagai wilayah di Indonesia untuk melakukan kaderisasi dan penguatan pemikiran kader.
Puncaknya, pada Pemilu 2009, Habib Nabiel berhasil terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009–2014. Ia maju dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Selatan II, yang melingkupi Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Tanah Bumbu, Kota Banjarmasin, dan Kota Banjarbaru.
Selama menjabat sebagai wakil rakyat, Habib Nabiel tetap membawa warna dakwah dalam setiap langkahnya. Ia dikenal tetap memantau perkembangan daerah binaannya. Bahkan, kepada kepala daerah yang diusung oleh partainya, Habib Nabiel tidak segan-segan memberikan atensi khusus dan "menitipkan" persoalan-persoalan krusial di tengah masyarakat agar segera diselesaikan demi kesejahteraan rakyat.
Melanjutkan Estafet Dakwah Sang Adik
Kendati karier politiknya terbilang cemerlang, panggilan hati untuk berdakwah secara total tidak bisa dibendung. Habib Nabiel Al Musawa, yang juga merupakan kakak kandung dari pimpinan sekaligus pendiri Majelis Rasulullah, almarhum Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih meninggalkan percaturan politik praktis.
Sepeninggal sang adik yang berpulang ke Rahmatullah, Habib Nabiel mengambil tanggung jawab besar untuk menjaga dan merawat jemaah. Kini, ia mendedikasikan seluruh waktunya sebagai sesepuh yang memimpin Majelis Rasulullah Pusat Indonesia. Selain mengasuh majelis yang memiliki jutaan jemaah tersebut, ia juga aktif menyumbangkan pemikiran dan tenaganya di Rabithah Alawiyyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Menembus Batas Negara, Menyejukkan Layar Kaca
Keputusan Habib Nabiel untuk fokus di jalan syiar Islam membuat jangkauan dakwahnya semakin meluas. Tidak hanya menggema di berbagai pelosok nusantara, pesan-pesan damai yang dibawanya juga telah menembus panggung internasional.
Tercatat, Habib Nabiel pernah diundang untuk berdakwah di berbagai negara lintas benua, antara lain:
Asia: Jepang dan Yaman Selatan
Eropa: Jerman dan Turki
Australia
Bahkan, pada tahun 2007, ia pernah melakukan safari dakwah yang luar biasa dengan berkeliling di 11 negara bagian di Amerika Serikat untuk menyebarkan keindahan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Bagi masyarakat di dalam negeri yang merindukan tausiyahnya, kehadiran Habib Nabiel kini secara rutin dapat disaksikan melalui layar kaca. Ia menjadi da'i tetap di berbagai program religi utama televisi nasional, seperti Damai Indonesiaku (TV One), Islam itu Indah (Trans TV), serta Cahaya Hati (iNews).
Kisah perjalanan hidup Habib Nabiel Al Musawa memberikan sebuah teladan yang bikin adem di tengah riuhnya ambisi kekuasaan saat ini. Beliau membuktikan bahwa jabatan penasihat umat dan penjaga moral bangsa melalui jalur dakwah, memiliki nilai yang jauh lebih tinggi ketimbang kilau fasilitas di kursi parlemen. (*)
Editor : Bambang Harianto