Pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, banyak tokoh nasional muncul dari medan perjuangan bersenjata. Namun, tidak sedikit pula Pahlawan yang berjuang lewat diplomasi, pemerintahan, dan semangat pengabdian kepada rakyat. Salah seorang dari mereka adalah Dr Mohammad Djamil, sosok dokter pejuang sekaligus pemimpin politik yang berperan penting di Sumatra Barat dan Sumatra Tengah.
Mohammad Djamil lahir di Kayu Tanam, Kota Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, pada 23 November 1898 (meskipun beberapa sumber menyebut 28 November). Dari keluarga sederhana, Djamil sudah menampakkan kecerdasan sejak kecil. Ia belajar mengaji, lalu bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Padang Panjang dan lulus lebih cepat dari siswa lain.
Setelah lulus ELS, Mohammad Djamil melanjutkan pendidikan kedokteran di STOVIA di Batavia. Di sana, ia juga terlibat dalam gerakan pergerakan pemuda melalui organisasi Jong Sumatranen Bond.
Djamil tak hanya puas dengan pendidikan lokal. Mohammad Djamil kemudian meraih gelar doktor dua kali: Doctor Medicinae dari Universitas Utrecht (Belanda) pada 1932 dan Doctor Public Health dari Universitas Johns Hopkins (Amerika Serikat) pada 1934.
Setelah menyelesaikan studinya, Dr Mohammad Djamil bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai wilayah Sumatra, termasuk Agam Tua dan Natal, sambil melakukan penelitian medis, misalnya tentang tuberkulosis dan malaria.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), ia dipaksa untuk memimpin rumah sakit umum di Padang. Tapi peranannya sebagai dokter tidak membuatnya pasif terhadap gerakan kemerdekaan, Mohammad Djamil tetap menjadi inspirasi bagi rakyat melalui pelayanan medis dan pemikiran nasionalis.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Dr Mohammad Djamil terjun ke panggung politik yang sangat dinamis dan penuh tekanan. Beberapa poin penting dari “pertarungan” politisnya antara lain :
1. Ketua KNID Sumatera Barat
Ia dipercaya memimpin Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatra Barat pada November 1945, menggantikan tokoh lain dan menghadapi konflik internal dan eksternal.
2. Konfrontasi dengan Front Rakyat
Sebagaimana diungkap dalam liputan sejarah Sumatra Barat, Dr Mohammad Djamil terlibat konflik dengan Front Rakyat (lini kiri) yang menolak strategi pemerintah pusat. Ia bahkan sempat menangkap beberapa pemimpin Front Rakyat.
Sebagai balasan, simpatisan Front Rakyat menahan Mohammad Djamil sendiri pada 17 Mei 1946. Namun, lewat mediasi dan rekonsiliasi, mereka jalin kesepakatan pada 20 Mei 1946: Front Rakyat menyatakan kesetiaan pada kabinet Sjahrir dan membebaskan Djamil.
3. Residen dan Gubernur Muda
Pada Maret 1946, Mohammad Djamil diangkat sebagai Residen Sumatera Barat, tetapi masa jabatannya tidak lama.
Kemudian, pada Juli 1946, Mohammad Djamil ditunjuk sebagai Gubernur Muda Sumatra Tengah, yang mencakup wilayah Sumbar, Riau, dan Jambi.
Penunjukan ini bagian dari restrukturisasi pemerintahan Republik di Sumatra, dan Mohammad Djamil dianggap figur yang mampu menyeimbangkan aspirasi lokal dan tuntutan nasional.
Sebagai pemimpin, Mohammad Djamil dikenal bukan hanya karena latar pendidikannya, tetapi juga karena pidato oratoris dan semangat nasionalisme yang besar. Ketika memimpin KNID, ia kerap tampil di hadapan massa, menyampaikan seruan agar “menghadapi musuh dengan tegas“.
Selama konflik politik, terutama menghadapi Front Rakyat, kapasitas diplomasi dan pemimpinannya diuji. Ia menyeimbangkan antara menjaga stabilitas pemerintahan republik dan meredam perpecahan internal yang bisa melemahkan perjuangan.
Setelah melewati masa perjuangan, Djamil tidak hanya kembali fokus pada dunia medis dan pendidikan. Ia terlibat dalam pembentukan institusi pendidikan tinggi di Sumatra, seperti Sekolah Tinggi Sumatra dan Sekolah Tinggi Pancasila. Ia juga mendirikan Rumah Sakit Sitawa Sidingin di Bukittinggi pada tahun 1953, sebagai wujud pengabdian kesehatan masyarakat.
Atas jasanya, nama Dr M Djamil diabadikan menjadi rumah sakit di Padang : RSUP Dr M Djamil Padang.
Baru-baru ini (2023), ada usulan resmi agar Djamil diangkat sebagai Pahlawan Nasional, yang disuarakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat.
Kehidupan Dr M Djamil adalah bukti bahwa “peperangan” ke
Pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, banyak tokoh nasional muncul dari medan perjuangan bersenjata. Namun, tidak sedikit pula Pahlawan yang berjuang lewat diplomasi, pemerintahan, dan semangat pengabdian kepada rakyat. Salah seorang dari mereka adalah Dr Mohammad Djamil, sosok dokter pejuang sekaligus pemimpin politik yang berperan penting di Sumatra Barat dan Sumatra Tengah.
Mohammad Djamil lahir di Kayu Tanam, Kota Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, pada 23 November 1898 (meskipun beberapa sumber menyebut 28 November). Dari keluarga sederhana, Djamil sudah menampakkan kecerdasan sejak kecil. Ia belajar mengaji, lalu bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Padang Panjang dan lulus lebih cepat dari siswa lain.
Setelah lulus ELS, ia melanjutkan pendidikan kedokteran di STOVIA di Batavia. Di sana, ia juga terlibat dalam gerakan pergerakan pemuda melalui organisasi Jong Sumatranen Bond.
Djamil tak hanya puas dengan pendidikan lokal. Ia kemudian meraih gelar doktor dua kali: Doctor Medicinae dari Universitas Utrecht (Belanda) pada 1932 dan Doctor Public Health dari Universitas Johns Hopkins (Amerika Serikat) pada 1934.
Setelah menyelesaikan studinya, Dr Djamil bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai wilayah Sumatra, termasuk Agam Tua dan Natal, sambil melakukan penelitian medis, misalnya tentang tuberkulosis dan malaria.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), ia dipaksa untuk memimpin rumah sakit umum di Padang. Tapi peranannya sebagai dokter tidak membuatnya pasif terhadap gerakan kemerdekaan, ia tetap menjadi inspirasi bagi rakyat melalui pelayanan medis dan pemikiran nasionalis.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Dr Djamil terjun ke panggung politik yang sangat dinamis dan penuh tekanan. Beberapa poin penting dari “pertarungan” politisnya antara lain :
1. Ketua KNID Sumatera Barat
Ia dipercaya memimpin Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatra Barat pada November 1945, menggantikan tokoh lain dan menghadapi konflik internal dan eksternal.
2. Konfrontasi dengan Front Rakyat
Sebagaimana diungkap dalam liputan sejarah Sumatra Barat, Dr. Djamil terlibat konflik dengan Front Rakyat (lini kiri) yang menolak strategi pemerintah pusat. Ia bahkan sempat menangkap beberapa pemimpin Front Rakyat.
Sebagai balasan, simpatisan Front Rakyat menahan Djamil sendiri pada 17 Mei 1946. Namun, lewat mediasi dan rekonsiliasi, mereka jalin kesepakatan pada 20 Mei 1946: Front Rakyat menyatakan kesetiaan pada kabinet Sjahrir dan membebaskan Djamil.
3. Residen dan Gubernur Muda
Pada Maret 1946, Djamil diangkat sebagai Residen Sumatera Barat, tetapi masa jabatannya tidak lama.
Kemudian, pada Juli 1946, ia ditunjuk sebagai Gubernur Muda Sumatra Tengah, yang mencakup wilayah Sumbar, Riau, dan Jambi.
Penunjukan ini bagian dari restrukturisasi pemerintahan Republik di Sumatra, dan Djamil dianggap figur yang mampu menyeimbangkan aspirasi lokal dan tuntutan nasional.
Sebagai pemimpin, Djamil dikenal bukan hanya karena latar pendidikannya, tetapi juga karena pidato oratoris dan semangat nasionalisme yang besar. Ketika memimpin KNID, ia kerap tampil di hadapan massa, menyampaikan seruan agar “menghadapi musuh dengan tegas“.
Selama konflik politik, terutama menghadapi Front Rakyat, kapasitas diplomasi dan pemimpinannya diuji. Ia menyeimbangkan antara menjaga stabilitas pemerintahan republik dan meredam perpecahan internal yang bisa melemahkan perjuangan.
Setelah melewati masa perjuangan, Djamil tidak hanya kembali fokus pada dunia medis dan pendidikan. Ia terlibat dalam pembentukan institusi pendidikan tinggi di Sumatra, seperti Sekolah Tinggi Sumatra dan Sekolah Tinggi Pancasila. Ia juga mendirikan Rumah Sakit Sitawa Sidingin di Bukittinggi pada tahun 1953, sebagai wujud pengabdian kesehatan masyarakat.
Atas jasanya, nama Dr M Djamil diabadikan menjadi rumah sakit di Padang : RSUP Dr M Djamil Padang.
Baru-baru ini (2023), ada usulan resmi agar Djamil diangkat sebagai Pahlawan Nasional, yang disuarakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat.
Kehidupan Dr M Djamil adalah bukti bahwa “peperangan” kemerdekaan tidak hanya dilakukan di medan fisik, tetapi juga lewat pendidikan, pelayanan publik, dan kepemimpinan moral. Ia adalah figur modern: dokter, ilmuwan, pemimpin, dan pendamaian. Semangat dan karya hidupnya memberi inspirasi bagi generasi baru, bahwa pengabdian pada negara bisa dilakukan dalam banyak cara. (*)
*) Source : Rapakat
merdekaan tidak hanya dilakukan di medan fisik, tetapi juga lewat pendidikan, pelayanan publik, dan kepemimpinan moral. Ia adalah figur modern: dokter, ilmuwan, pemimpin, dan pendamaian. Semangat dan karya hidupnya memberi inspirasi bagi generasi baru, bahwa pengabdian pada negara bisa dilakukan dalam banyak cara. (*)
*) Source : Rapakat
Editor : Bambang Harianto