KH Hasyim Sirojuddin Pemilik Lisan Bercahaya dari Jombangan

Reporter : Redaksi
KH Hasyim Sirojuddin

Di desa nan asri Jombangan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, terukir kisah luhur seorang ulama tangguh penerus tonggak pesantren, yakni KH Hasyim Sirojuddin. Terlahir dengan nama kecil Abu Amar, beliau adalah putra sulung dari Kyai Sirojuddin. 

Sejak belia, Abu Amar dikenal sebagai pemuda yang sangat tawadhu', menjadikan ketaatan kepada orang tua sebagai kunci utama kesuksesan. Kecerdasannya bersinar lewat penguasaannya yang mendalam terhadap ilmu Nahwu-Shorof, yang beliau yakini sebagai "bapak dan ibu" dari segala ilmu agama.

​Dahaga batinnya akan ilmu membawa Abu Amar muda mengembara jauh dari kampung halaman. Beliau nyantri ke Pesantren Tragal (Jombang), Jampes (Kediri) di bawah asuhan Kyai Dahlan, hingga turut berjuang merintis Pesantren Bendo bersama KH Muhajir. 

Di masa pengembaraan ini, KH Hasyim Sirojuddin membekali diri dengan riyadhah tingkat tinggi; menghidupkan malam untuk bermunajat, sangat membatasi tidur, dan merutinkan puasa Senin-Kamis demi menjernihkan mata batin.

​Puncak rihlah keilmuannya terjadi saat beliau nyantri kepada sang waliyullah, Syaikhona Kholil Bangkalan di Madura. Kedatangan Abu Amar disambut oleh Syaikhona Kholil dengan acungan senjata tajam—sebuah isyarat batin dari sang mahaguru bahwa Abu Amar adalah sosok dengan ketajaman hati dan pendirian baja yang sanggup menebas rintangan seberat apa pun. Benar saja, beliau kelak menjadi salah satu santri kesayangan di Bangkalan.

​Sepulang dari menunaikan ibadah haji pada tahun 1932 (yang mengawali panggilan KH Hasyim Sirojuddin), kiprah dakwahnya di Jombangan semakin menyala. Meneruskan estafet kepengasuhan sang ayah, beliau membangun Masjid Jombangan (1927) dan merintis Madrasah Salafiyah "Miftahul Ulum" (1942) bersama sang menantu, KH Faqih Asy'ari (yang kelak mendirikan PP Darussalam Sumbersari). 

Hari-harinya selalu dihiasi dengan pengajian Tafsir Jalalain, Fathul Qorib, Sahih Bukhari, hingga Fathul Mu'in.

​Di usia senjanya, KH Hasyim diuji dengan kelumpuhan dan kehilangan kemampuan berbicara (bisu). Namun, ujian fisik itu tak sedikit pun mampu menghentikan tegaknya shalat lima waktu dan putaran tasbih di tangannya.

​Sebuah karamah dan tanda husnul khatimah yang luar biasa menggetarkan sanubari terjadi di saat-saat terakhir beliau. Di tengah kondisi nyaris koma, tubuh yang tak berdaya, dan lisan yang lama terkunci, Allah SWT, tiba-tiba memberikan kekuatan. Lisan KH Hasyim Sirojuddin terbuka dan menggemakan kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illalloh" berulang kali dengan sangat keras dan lancar.

​Sang paku bumi Jombangan ini akhirnya menghadap Sang Pencipta dengan damai pada Senin Legi, 30 Juli 1959. Hujan tangis ribuan pelayat mengiringi kepulangannya, namun warisan madrasah dan keteladanannya akan terus abadi. Lahumul fatihah... 

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru