Angin pagi Uhud masih dingin ketika barisan kaum Muslimin mulai bergerak. Di antara mereka, tampak seorang lelaki bertubuh kuat, wajahnya keras, dan matanya menyala seperti bara: Quzman.
Quzman bukan dikenal sebagai sahabat yang taat-tidak pula sebagai penuntut ridha Allah. Tapi hari itu, ia menghunus pedang dengan kemauan yang membuncah.
"Demi kaumku... demi tanahku... aku akan menumpas mereka," gumamnya.
Bukan untuk surga. Bukan untuk iman. Tapi untuk kebanggaan suku dan keberanian dirinya.
Di medan tempur ketika perang berkobar, Quzman menerjang seperti singa yang dilepas dari kandangnya. Musuh-musuh Quraisy jatuh satu demi satu di hadapannya. Para sahabat yang melihat keberaniannya sempat takjub.
"Tidak ada yang bertarung seperti dia!" seru salah seorang dari kaum Anshar.
Pedangnya berputar, darah memercik, langkahnya tak pernah mundur. Quzman terluka di bahu, di lengan, di sisi tubuhnya-namun ia terus bergerak, seakan rasa sakit tidak mampu mengejarnya.
Hingga akhirnya, pasukan Quraisy mundur dari posisinya. Tubuh Quzman roboh, penuh luka, namun dadanya masih naik-turun melawan maut.
Setelah Perang
Kaum Muslimin menemukan Quzman terbaring. Tubuhnya robek oleh pedang dan tombak. Mereka membawanya ke tempat perlindungan di Madinah.
"Engkau telah berjihad dengan hebat hari ini, wahai Quzman," kata seseorang.
Quzman membuka matanya, wajahnya pucat dan berpeluh. Dari bibirnya keluar kata-kata yang membuat para sahabat tertegun.
"Aku berperang... bukan karena agama kalian. Aku hanya ingin membela kaumku. Jika bukan karena itu, aku tidak akan ikut."
Ungkapan itu menggantung di udara, dingin dan berat. Sebagian mulai mengingatkan, sebagian berharap ia menarik kembali ucapannya. Tapi Quzman tetap diam, menahan rasa sakit yang semakin menggigit tubuhnya.
Akhir yang Tragis
Ketika malam tiba, luka-lukanya semakin parah. Tubuhnya bergetar, napasnya berat, dan nyeri yang merobek-robek membuatnya tak berdaya.
Dalam keputusasaan, Quzman mengambil sebuah anak panah-dan menusukkannya ke dirinya sendiri. Keesokan paginya, kabar itu sampai kepada Rasulullah.
Beliau bersabda tentang Quzman: "la termasuk penghuni neraka." (riwayat Sahih dari Al-Bukhari)
Para sahabat terperanjat. Mereka yang melihat keberaniannya di Uhud tak pernah membayangkan akhir seperti itu. Tapi Rasulullah menegaskan bahwa Allah menilai niat, bukan sekadar tindakan lahiriah. Quzman mati sebagai pejuang yang gagah... tapi tidak sebagai hamba yang ikhlas.
Demikianlah kisah tragis Quzman: Seorang lelaki yang tampak sebagai pahlawan di mata manusia, namun hatinya tidak pernah berjalan bersama niat yang benar. la menggoreskan namanya dalam sejarah Uhud dengan keberanian-namun juga dengan pelajaran pahit bahwa amal tanpa ikhlas tidak mengantar kepada kemuliaan di sisi Allah.
Riwayat ini muncul dalam literatur sirah tulisan Ibnu Ishaq, dan diperkuat dengan hadits dari Bukhari dan Muslim.
Sering pula disebutkan dalam literatur sejarah Islam, termasuk dalam kitab Hayatus Sahabah karya Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi. (*)
Editor : Bambang Harianto