Lambert Simnel, Penipu Terbesar dalam Sejarah Inggris

Reporter : Redaksi
Lambert Simnel

Lambert Simnel adalah salah satu tokoh paling unik dalam sejarah Inggris. Ia bukan seorang pangeran, bangsawan, atau pewaris kerajaan. Ia hanyalah seorang anak biasa dari Oxford yang kemudian digunakan sebagai alat politik dalam salah satu upaya perebutan takhta paling berani setelah berakhirnya Perang Mawar (Wars of the Roses).

Lahir sekitar tahun 1477, Simnel diyakini merupakan putra seorang pengrajin alat musik atau pembuat organ. Hidupnya berubah ketika ia menarik perhatian seorang pendeta bernama Richard Symonds. Pendeta tersebut melihat bahwa Simnel memiliki penampilan yang cukup mirip dengan beberapa anggota keluarga kerajaan dan dapat dijadikan alat untuk kepentingan politik.

Baca juga: Kajian Dampak Pandemi COVID 19 terhadap Pengendalian Tuberkulosis

Pada masa itu, Inggris baru saja mengalami pergantian kekuasaan besar. Raja Henry VII dari Wangsa Tudor berhasil merebut takhta setelah mengalahkan Raja Richard III dalam Pertempuran Bosworth tahun 1485. Namun banyak pendukung Wangsa York yang masih menolak pemerintahan baru tersebut dan berharap dapat mengembalikan kekuasaan keluarga York ke takhta Inggris.

Richard Symonds kemudian melatih Lambert Simnel dalam tata krama bangsawan, cara berbicara, dan berbagai kebiasaan istana kerajaan. Awalnya Simnel dipersiapkan untuk menyamar sebagai Richard, Duke of York, salah satu pangeran yang hilang secara misterius di Menara London. Namun rencana tersebut berubah ketika muncul kabar bahwa Edward Plantagenet, Earl of Warwick, masih hidup.

Karena banyak rakyat tidak pernah melihat Earl of Warwick secara langsung, Simnel kemudian diperkenalkan sebagai Edward, Earl of Warwick yang "berhasil melarikan diri" dari tahanan Raja Henry VII. Padahal Earl of Warwick yang asli sebenarnya masih dipenjara oleh sang raja.

Klaim tersebut mendapat dukungan dari sejumlah bangsawan Yorkis yang ingin menggulingkan Henry VII. Dukungan juga datang dari Irlandia, wilayah yang saat itu menjadi basis kuat pendukung Wangsa York.

Pada Mei 1487, Lambert Simnel yang baru berusia sekitar sepuluh tahun dinobatkan sebagai "Raja Edward VI" di Katedral Christ Church, Dublin. Penobatan ini menjadikannya salah satu penipu takhta paling terkenal dalam sejarah Inggris. Meskipun hanya seorang anak, ia secara simbolis diakui sebagai raja oleh para pendukung York di Irlandia.

Setelah penobatan tersebut, pasukan pendukung Simnel mengumpulkan tentara dan bersiap menyerbu Inggris. Mereka dipimpin oleh tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk John de la Pole, Earl of Lincoln, yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan York.

Invasi tersebut berujung pada Pertempuran Stoke Field pada 16 Juni 1487. Pertempuran ini sering dianggap sebagai pertempuran terakhir dari Perang Mawar. Pasukan pemberontak mengalami kekalahan telak di tangan tentara Raja Henry VII. Banyak pemimpin pemberontakan tewas di medan perang, sementara Simnel berhasil ditangkap hidup-hidup.

Setelah kemenangan tersebut, Henry VII menghadapi pilihan penting. Ia dapat menghukum mati Simnel sebagai pengkhianat atau menjadikannya contoh bagi para pemberontak lainnya. Namun sang raja mengambil keputusan yang tidak biasa.

Henry VII menyadari bahwa Simnel hanyalah seorang anak yang dimanfaatkan oleh orang-orang dewasa untuk kepentingan politik mereka. Karena itu, ia memilih untuk mengampuninya.

Alih-alih dipenjara atau dihukum mati, Simnel diberi pekerjaan di dapur istana kerajaan sebagai pelayan. Seiring berjalannya waktu, ia memperoleh kepercayaan dan kemudian diangkat menjadi falconer kerajaan, yaitu orang yang bertugas merawat dan melatih burung elang untuk kegiatan berburu.

Tidak banyak catatan mengenai kehidupan Simnel setelah itu. Namun diketahui bahwa ia hidup dengan tenang selama bertahun-tahun dan kemungkinan masih hidup setelah tahun 1534.

Kisah Lambert Simnel menjadi salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana seorang anak biasa hampir digunakan untuk mengubah arah sejarah Inggris. Dari seorang putra pengrajin menjadi "raja" selama beberapa minggu, lalu berakhir sebagai pelayan istana yang diampuni oleh raja yang ingin ia gantikan, perjalanan hidupnya tetap menjadi salah satu episode paling aneh dalam sejarah monarki Inggris. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru