Jimat Hidup Kiai Nasirun Semasa Hidup

Reporter : Redaksi
Kiai Nasirun

Banyak orang tertarik pada cara Kiai Nasirun menjalani kehidupan. Waktu kecil tidur di depan Mushola. Nasirun kecil biasanya pura-pura tidur di depan pintu mushala Mbah Bustam itu. 

"Saya mendengarkan 'Hasbunallah wa ni'mal wakil' dirapal Mbah Bustam sampai waktu subuh," kata Nasirun. 

Baca juga: Pendiri Yayasan Panca Wahana Tuding Pemilihan Rektor UNUBA Cacat Hukum

Begitu membuka pintu, Mbah Bustam membangunkannya dengan suara agak keras dan menyuruhnya pulang. Hardikan Mbah Bustam diyakininya sebagai berkah.

Dalam kehidupan Nasirun, tiga orang yang sering kali diceritakannya kepada saya (Pak Hasan Basri) dan penting disinggung di sini, terutama (adalah) :

1) KH. Bustamul Karim

2) ayah, dan

3) ibunya

Suatu sore ke rumahnya kisaran tahun 2017. Ada beberapa tamu bule waktu itu. Setelah tamu pamit, kami ngobrol di bagian belakangan rumahnya. Dengan vulgar ia mengatakan, "Saya ini perwujudan paling remeh dari doanya KH Bustamul Karim (Mbah Bustam), bapak dan ibu saya."

Tamu bule yang baru pergi itu seorang yang kaya dari Selandia Baru dan berkeinginan membeli banyak lukisannya dan berniat menzakatinya sejumlah karya perupa terkenal dunia. Lanjutnya sore itu "Alam bekerja karena doa orang saleh."

Baca juga: Pelantikan Pengurus Nahdlatul Ulama Burneh Bangkalan

Sosok ibunya yang paling mempengaruhi Kiai Nasirun. la tak pernah menolak keinginan apalagi melawan ibunya. Sang ibu adalah jimat hidupnya. Berkali-kali ia mengatakan kepada bahwa ibunya bukan perempuan biasa. 

"Titis", katanya. 

Tidak berlebihan kalau kemudian pada tahun 2009, ia menggelar pameran tunggal "Salam Bekti" di Galeri milik perupa Putu Sutawijaya di Nitiprayan.

Ketika pembukaan pameran itulah, Nasirun menegaskan siapa dirinya. la ingin memberikan persembahan kepada ibunya sekaligus ingin mengatakan, "Rusak-rusak begini saya ini santri." 

Waktu itu, ketika semua tamu undangan sudah duduk rapi dalam pembukaan pamerannya, panitia kebingungan karena Nasirun belum keliatan. Tiba-tiba dia muncul naik sepeda ontel, memakai kopiah, sarungan, dan (terpenting) memakai baju kemeja seragam Ma'arif Nahdlatul Ulama di kampungnya.

Baca juga: Surat Terbuka untuk Gus Ulil dari Social Movement Institute

Kiai Nasirun 'telah tiada' meninggakan kita.

Ratapan dan tangisan sama sekali tidak beliau butuhkan. Lalu, apa yang sekarang dibutuhkan Kiai Nasirun?

Doa dan kemauan untuk melanjutkan pengabdian, perjuangan, dan kebijaksanaannya. Meski Kiai Nasirun sudah di alam lain, namun doa dari kita, peninggalan baik beliau, insyaallah akan selalu mengalirkan pahala dan ampunan kepadanya.

Sugeng tindak, Pak Kiai Nasirun.

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru