Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan

Reporter : Redaksi
Abdul Kadir

Abdul Kadir yang dianugerahi gelar Raden Tumenggung Setia Pahlawan adalah sosok pejuang kemerdekaan dan pemimpin lokal yang gigih menentang penjajahan Belanda di wilayah Kalimantan Barat. Ia dilahirkan pada tahun 1771 di Sintang, di tengah lingkungan masyarakat yang kental dengan adat istiadat dan kedaulatan lokal.

Ayahnya bernama Oerip dan ibunya bernama Siti. Sejak muda, ia dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

Pada tahun 1845, Raja Sintang menunjuknya sebagai kepala pemerintahan di wilayah Melawi, sebuah peran strategis yang kelak menjadi basis perjuangannya melawan kolonialisme Belanda.

Perjuangan Abdul Kadir dimulai ketika Belanda mulai menunjukkan niat untuk menguasai dan mencampuri urusan pemerintahan serta perdagangan di wilayah pedalaman Kalimantan Barat, termasuk Melawi. Menyadari ancaman tersebut, Abdul Kadir tidak langsung menunjukkan perlawanan terbuka. Sebaliknya, ia menerapkan strategi perang ganda (diplomasi sekaligus perlawanan tersembunyi).

Secara resmi, ia tetap menjaga hubungan baik dengan Raja Sintang yang berada di bawah pengaruh Belanda, namun secara diam-diam ia menghimpun kekuatan rakyat dan mempersatukan suku Melayu dan suku Dayak untuk melawan penjajah. Penyatuan dua suku besar ini merupakan pencapaian penting dalam menggalang kekuatan lokal.

Puncak perlawanan terjadi dalam peristiwa Perang Melawi yang berlangsung dari tahun 1867 hingga 1875. Selama periode ini, Abdul Kadir memimpin laskar perlawanan rakyat dengan menerapkan strategi perang gerilya yang efektif, memanfaatkan kondisi geografis hutan dan sungai di Kalimantan.

Taktik ini membuat pasukan Belanda kesulitan dan menderita kerugian besar. Pada tahun 1866, Belanda bahkan sempat mencoba meredam perlawanan dengan memberinya hadiah uang dan gelar "Setia Pahlawan" dengan harapan ia akan menghentikan aksinya, namun upaya ini gagal dan gelar tersebut justru melekat sebagai simbol perjuangannya.

Abdul Kadir gugur sebagai pahlawan dalam salah satu pertempuran melawan Belanda pada usia yang sangat lanjut, sekitar 104 tahun.

Keberaniannya, kepemimpinannya, dan pengorbanannya dalam membela tanah air diakui oleh pemerintah Indonesia. Berkat jasa-jasanya, ia secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia dari Provinsi Kalimantan Barat yang Diberikan Oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, dan menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan dari Kalimantan Barat. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru