Indonesia sesungguhnya memiliki sebuah “harta karun” penting bagi keberlanjutan industri gula: plasma nutfah tebu. Bukan sekadar koleksi tanaman, tapi bank gen berisi ribuan jenis tebu—liar, lokal, dan komersial—yang menjadi fondasi utama perakitan varietas unggul.
Mengapa penting?
Karena setiap jenis tebu membawa keunggulan berbeda: ketahanan penyakit, toleransi banjir, daya tumbuh di tanah marginal, kadar gula tinggi dan banyak lagi. Keragaman inilah yang dimanfaatkan pemulia tanaman untuk menciptakan varietas baru yang adaptif dan produktif di kondisi Indonesia.
Sejarah bahkan menunjukkan manfaat besar dari kekayaan ini. Varietas POJ 2878, hasil persilangan tebu budidaya dan tebu liar pada awal 1900-an, menjadi penyelamat perkebunan tebu Jawa dari penyakit sereh. Contoh konkret bahwa solusi masa depan sering ada dalam sumber daya genetik yang sudah kita miliki.
Namun kini, koleksi plasma nutfah P3GI—yang dulu lebih dari 5.000 aksesi—menyusut hingga sekitar separuhnya karena keterbatasan pendanaan. Kehilangan ini berarti hilangnya potensi genetik yang mungkin sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan iklim, hama, dan penyakit di masa depan.
Sementara itu, kepemilikan koleksi plasma nutfah terbesar dunia kini bergeser ke :
Sugarcane Technology Center (CTC), Brazil
Sugarcane Breeding Institute (SBI), Coimbatore – Tamil Nadu, India
Keduanya kini menjadi pusat konservasi dan pemuliaan tebu terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Di Indonesia sendiri, kini beredar berbagai varietas luar negeri—baik masuk secara legal maupun non-legal—seperti VMC 7616, ROC 6243, F 154, Uthong, HW, dan beberapa lainnya. Namun hampir semuanya menunjukkan keragaan yang tidak jauh berbeda dengan varietas lokal seri PS. Artinya, varietas yang unggul di negara asal tidak otomatis unggul di agroekosistem Indonesia.
Hal ini menegaskan bahwa ketahanan dan produktivitas tebu harus dibangun dari plasma nutfah yang sesuai dengan kondisi tropis kita sendiri.
Dengan tantangan iklim yang makin ekstrem, plasma nutfah menjadi semakin strategis. Ditambah teknologi pemuliaan modern—seperti GWAS, marker-assisted breeding, hingga CRISPR—pemanfaatan kekayaan genetik ini dapat dipercepat untuk menghasilkan varietas tebu yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Kesimpulannya: menjaga plasma nutfah berarti menjaga masa depan gula Indonesia. Konservasi dan riset bukan sekadar melestarikan koleksi, tetapi memastikan kemandirian dan daya saing industri gula nasional di tengah dinamika global. (*)
*) Source : Aris Toharisman
Editor : Bambang Harianto