Pada dini hari 1 Oktober 1965, Jakarta diliputi ketegangan. Sejumlah jenderal Angkatan Darat Ahmad Yani, S Parman, Suprapto, Haryono MT, Pandjaitan, dan Sutoyo diculik dan dibunuh oleh kelompok bersenjata yang menamakan diri Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia(G30S PKI).
Aksi ini dilakukan oleh unsur Cakrabirawa, pasukan dari beberapa divisi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), serta anggota Pemuda Rakyat yang diduga berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Baca juga: Radiogram Rahasia Seusai Lubang Buaya
Jenazah para jenderal kemudian ditemukan di Lubang Buaya, menandai tragedi berdarah dalam sejarah bangsa.
Kekacauan Fajar 1 Oktober 1965
Pagi itu, rumah para jenderal diserbu dengan dalih “dipanggil Presiden”. Tanpa perlawanan berarti, mereka ditangkap dan dibawa ke Lubang Buaya. Sementara itu, suasana di ibu kota penuh ketakutan. Tidak ada kepastian siapa yang memegang kendali pemerintahan.
Di tengah kekacauan itu, Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, tampil sebagai sosok yang cepat, tegas, dan terukur dalam bertindak. Ia menjalankan empat taktik utama untuk memadamkan pemberontakan G30S/PKI.
1. Menguasai Pusat Komando
Soeharto segera mengambil alih kendali Kostrad dan mengonsolidasikan seluruh pasukan di bawah satu komando. Langkah ini mencegah perpecahan internal dan memastikan koordinasi militer berjalan efektif di tengah situasi genting.
2. Menenangkan Pasukan dan Masyarakat
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Alih-alih bereaksi secara emosional, Soeharto menenangkan pasukannya dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kondisi masih terkendali dan menunggu informasi akurat mengenai keberadaan Presiden Soekarno serta dalang di balik penculikan para jenderal. Sikap ini memperlihatkan wibawa dan ketenangan seorang pemimpin di masa krisis.
3. Menguasai RRI dan Telekomunikasi
Soeharto kemudian mengambil alih Radio Republik Indonesia (RRI) dan kantor telekomunikasi yang sempat dikuasai pasukan G30S. Melalui penguasaan media tersebut, ia mengumumkan bahwa TNI Angkatan Darat masih memegang kendali negara, serta menyatakan bahwa gerakan G30S merupakan bentuk pemberontakan terhadap pemerintahan sah Republik Indonesia.
4. Melancarkan Operasi Pembersihan
Setelah situasi di Jakarta terkendali, Soeharto memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Halim Perdanakusuma dan Lubang Buaya dua pusat kekuatan G30S PKI. Dalam beberapa hari, pasukan di bawah komandonya berhasil menumpas pemberontakan dan memulihkan keamanan nasional.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Langkah-langkah ini dilakukan secara bertahap dan sistematis, tanpa menimbulkan perang terbuka di ibu kota.
Akhir dari G30SPKI dan Awal dari Orde Baru
Keberhasilan Soeharto dalam menumpas G30S/PKI menjadikannya figur yang sangat disegani. Dalam waktu singkat, kepercayaan militer dan rakyat menguat di tangannya membuka jalan menuju lahirnya era Orde Baru, menggantikan kekuasaan Presiden Soekarno.
Soeharto menghadapi tragedi nasional ini dengan strategi yang tenang, tegas, dan bertahap. Empat taktik yang ia jalankan bukan hanya menyelamatkan negara dari kekacauan, tetapi juga mengubah arah sejarah Indonesia selamanya. (*)
Editor : S. Anwar