Sejarah mencatat Indonesia pernah diselamatkan oleh segelintir pemikir jenius yang dijuluki "Mafia Berkeley"—geng elite teknokrat lulusan Amerika Serikat yang dipercaya merestorasi ekonomi yang hancur pasca-era 1965. Di antara para raksasa ekonomi itu, terselip satu nama ikonik : Prof. Dr. Johannes Baptista Sumarlin.
Lahir di Blitar pada 7 Desember 1932 dan wafat pada 6 Februari 2020 di usia 88 tahun, pria Katolik yang taat ini memiliki perawakan kecil yang selalu dihiasi senyuman menyejukkan. Namun di balik pembawaannya yang kalem, J.B. Sumarlin adalah salah satu arsitek ekonomi paling bertangan dingin yang pernah dimiliki Republik ini.
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Kisah 'Anak Kecil' di Belakang Kursi Widjojo Nitisastro
Sebelum menjadi menteri andalan, Sumarlin pernah mengalami momen unik sekaligus canggung yang tak pernah ia lupakan sepanjang hidupnya. Kisah ini terjadi pada permulaan tahun 1969, di awal kebangkitan Orde Baru.
Sebagai Deputi Bappenas yang baru direkrut, Sumarlin diminta mendampingi sang Ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro, untuk menghadiri Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi di Istana Negara—sebuah rapat super-elite yang hanya boleh dihadiri para menteri.
Saat duduk tenang di belakang Widjojo, Sekretaris Kabinet saat itu, Sudharmono (Pak Dhar), yang terkenal dengan gayanya yang tegas, seram, dan blak-blakan, tiba-tiba menunjuk ke arah Sumarlin. Dengan nada tinggi, Pak Dhar bertanya kepada Widjojo :
"Siapa anak kecil yang duduk di belakang kursi Pak Widjojo itu?"
Mendengar pertanyaan sarkas tersebut, Sumarlin sempat kaget dan tawar hati. Ia merasa bersalah dan minder karena lancang ikut duduk di ruang sidang sepenting itu. Usai rapat, Sumarlin bahkan meminta izin kepada Widjojo untuk tidak ikut lagi di sidang berikutnya.
Namun, Widjojo justru membesarkan hatinya. Ramalan Widjojo terbukti tepat; "bocah kecil" yang sempat diremehkan itu di kemudian hari justru menjelma menjadi salah satu menteri yang paling dipercaya dan diandalkan oleh Presiden Soeharto. Hubungannya dengan Sudharmono pun kelak berubah menjadi kerja sama tim yang sangat solid dalam menyusun Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Repelita.
Anak Buruh Tani yang Menembus Universitas Amerika Serikat
Melihat menterengnya karier J.B. Sumarlin, banyak orang mengira ia lahir dari keluarga elite. Nyatanya, Sumarlin adalah anak dari pasangan Sapoean Pawirodikromo dan Karmilah, yang berprofesi sebagai buruh tani miskin di kaki Gunung Kelud, Blitar.
Jiwa patriotisme Sumarlin muda sudah menyala sejak masa revolusi fisik, di mana ia ikut bergerilya sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI) sekaligus gerilyawan TNI di Jawa Timur. Usai perang, ia tekun belajar hingga lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) pada tahun 1958.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Kecerdasannya membawa anak buruh tani ini terbang ke Amerika Serikat. Ia meraih gelar Master of Arts (MA) dari University of California, Berkeley (1960) dan puncaknya menyabet gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) dari University of Pittsburgh pada 1968.
Pendobrak Aturan Tabu dan Duet 'Menteri Bersih' BPK
Rekam jejak Sumarlin di pemerintahan Orde Baru terbilang legendaris karena ia menguasai hampir seluruh lini krusial:
Menteri PAN & Ketua Opstib (1973–1983): Selama sepuluh tahun, ia membenahi aparatur negara dan dianggap sebagai pahlawan bagi para guru karena sukses menaikkan harkat, martabat, serta kesejahteraan guru di seluruh Indonesia.
Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas (1983–1988): Menjadi otak utama perancang arah pembangunan nasional.
Menteri Keuangan (1988–1993): Menjaga benteng fiskal dan moneter negara dengan kebijakan-kebijakan makro yang terukur.
Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar
Menariknya, saat ditunjuk menjadi Mendikbud ad interim pada tahun 1985 menggantikan Prof. Nugroho Notosusanto yang wafat, Sumarlin membuat keputusan berani yang mendobrak aturan tabu era itu. Melalui Instruksi Presiden (Inpres), ia mencabut Surat Keputusan Bersama (SKB) warisan Adam Malik dan Sjarif Thajeb yang melarang mahasiswa Indonesia kuliah di luar negeri. Sumarlin menilai aturan tersebut membelenggu kemajuan intelektual bangsa.
Puncak integritas seorang Sumarlin diuji ketika Presiden Soeharto menunjuknya memimpin lembaga tinggi negara sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada periode 1993–1998.
Di BPK, ia berduet dengan mantan Kapolri Kunarto sebagai Wakil Ketua. Pasangan Sumarlin-Kunarto dijuluki pengamat sebagai "Duet Ideal dan Bersih". Sumarlin adalah penganut Katolik yang taat, sementara Kunarto adalah Muslim yang rajin puasa Senin-Kamis. Keduanya dikenal kokoh, jujur, dan tidak bisa disuap atau dibengkokkan oleh kepentingan politik mana pun.
Akhir Hayat Sang Jenderal Ekonomi
Atas dedikasinya yang tanpa pamrih, Sumarlin dianugerahi penghargaan tertinggi Bintang Mahaputera Adipradana III pada tahun 1973 oleh pemerintah RI, serta penghargaan internasional Grand Cross of the Order of Leopold II dari Kerajaan Belgia pada 1975.
Setelah mengabdikan seluruh hidupnya untuk ekonomi negara dan dunia pendidikan sebagai Guru Besar Emeritus FEUI, J.B. Sumarlin mengembuskan napas terakhirnya di RS Carolus Jakarta pada 6 Februari 2020 di usia 88 tahun. Jasad sang arsitek ekonomi ini kini beristirahat dengan damai di San Diego Hills, meninggalkan legasi emas bagi arah perekonomian Indonesia modern. (*)
Editor : S. Anwar