Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun pimpinan Muso dan Amir Syarifudin pada September 1948 menjadi sejarah kelam dalam perjalanan Republik Indonesia.
Orang-orang yang dianggap berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) diculik, lalu dibunuh kemudian korban dibuang ke dalam sumur. Diantara sumur Partai Komunis Indonesia (PKI) yang masyhur adalah sumur kresek di Madiun dan Sumur Soco di Kabupaten Magetan.
Baca juga: Radiogram Rahasia Seusai Lubang Buaya
Ketika situasi Madiun memanas dan pasukan Partai Komunis Indonesia (PKI)mulai bergerak ke Ponorogo, pimpinan Pondok Gontor mengambil keputusan strategis demi keselamatan. Dua dari tiga pendiri Gontor (Trimurti), yaitu KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, memimpin evakuasi ratusan santri mengungsi ke arah timur menuju wilayah Sooko hingga Kediri.
Peristiwa penyelamatan diri ini kemudian dikenal dalam sejarah Gontor sebagai Napak Tilas Sooko. Di kompleks pondok, yang saat itu bangunannya masih sangat sederhana (sebagian besar dari bambu/gedek), hanya tersisa beberapa pengurus. Di antaranya adalah KH Syoiman Lukman Nyoman (Lurah Pondok saat itu) dan KH Rahmat Soekarto (Kepala Desa Gontor).
Baca juga: Akhir Pelarian Brigjen Soepardjo dalam Kejaran Tim Kalong
Pasukan Partai Komunis Indonesia (PKI) kemudian menyerbu dan mengobrak-abrik kompleks pesantren Gontor. Berdasarkan kesaksian sejarah, gerombolan PKI merusak fasilitas, mengancam sisa pengurus yang ada dengan senjata tajam, dan mencari para kiai yang menjadi target penculikan mereka.
Aksi Partai Komunis Indonesia (PKI) di Pondok Pesantren Gontor tidak berlangsung lama karena respons cepat dari militer dan milisi pro-pemerintah. Pasukan Siliwangi bersama Lasykar Hizbullah (salah satunya dipimpin oleh KH Yusuf Hasyim) datang merangsek ke Kabupaten Ponorogo.
Baca juga: Wikana, Pembuat Proklamasi 17 Agustus yang Lenyap Dijemput Serdadu
Serangan balasan ini berhasil mendesak mundur dan mengusir gerombolan PKI dari kawasan Gontor, sehingga pondok berhasil diselamatkan dari kehancuran total. (*)
Editor : S. Anwar