Munarman Dari Aktivis HAM Kontras hingga Juru Bicara FPI

Reporter : Redaksi
Munarman

Nama Munarman selama ini kerap menghiasi pemberitaan nasional dengan narasi yang kontroversial. Namun, sebelum dikenal luas sebagai Sekretaris Umum sekaligus Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI).

Pria kelahiran Palembang, 16 September 1968 ini memiliki rekam jejak yang sangat kontras di dunia pergerakan. Ia adalah mantan pengacara dan aktivis Hak Asasi Menusia (HAM) papan atas Indonesia.

Baca juga: Arif Nuryanta di Kasus Kilometer 50

Menanjak Lewat Jalur Advokasi HAM

Munarman mengawali karier hukumnya pada tahun 1995 sebagai sukarelawan di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Palembang. Kariernya melesat cepat berkat keberaniannya. Ia kemudian dipercaya menjadi Koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) di Aceh pada era konflik (1999–2000), sebelum akhirnya ditarik ke Jakarta.

Puncak kariernya di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terjadi pada September 2002, di mana ia terpilih menjadi Ketua YLBHI. Di masa ini, Munarman dikenal vokal membela hak-hak rakyat kecil, termasuk melakukan advokasi penolakan komersialisasi air bersih.

Titik Balik Ideologi

Pergeseran haluan ideologi Munarman mulai terlihat jelang akhir masa jabatannya di YLBHI pada tahun 2006. Ia mulai intens bersentuhan dengan gerakan Islam, salah satunya menjadi bagian dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pandangannya yang mulai radikal dan mendukung sistem khilafah sempat memicu gejolak serta desakan pemecatan dirinya dari struktur YLBHI.

Munarman juga sempat menyedot perhatian internasional pada tahun 2008 saat ia memimpin gerakan penolakan terhadap NAMRU-2, laboratorium riset medis Angkatan Laut Amerika Serikat di Jakarta, yang ia tuduh tidak transparan dan melanggar kedaulatan negara.

Menjadi Motor Penggerak FPI

Pilihan ideologisnya akhirnya melabuhkan Munarman ke Front Pembela Islam (FPI). Dengan latar belakang hukum yang kuat dan kemampuan retorika yang tajam, ia dipercaya menjadi Juru Bicara hingga Sekretaris Umum FPI. Di sinilah sosoknya bertransformasi total di mata publik: dari seorang pembela HAM sekuler menjadi salah satu tokoh sentral dalam berbagai aksi massa berbasis keagamaan di Indonesia. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru