Peristiwa September di Madiun, Orang Mojokerto yang Terselamatkan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Peristiwa September di Madiun
Peristiwa September di Madiun
grosir-buah-surabaya

Bulan September adalah masa dimana orang-orang merah bergerak. Ada dua peristiwa yang terjadi, yaitu Peristiwa Madiun dan Peristiwa Gestapu yang meletus pada September. Peristiwa Madiun tahun 1948 menyeret nama beberapa orang yang pernah aktif di Mojokerto. 

Pesindo merupakan salah satu kekuatan kelaskaran yang terkuat pada awal kemerdekaan. Berawal dari Pemuda Republik Indonesia, Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dibentuk di Surabaya bertransformasi menjadi Pesindo yang bermarkas di Mojokerto pada tahun 1946. Dipimpin seorang anak kelahiran Mojokerto bernama Krissubanu. Wikana dan Ibnu Parna yang juga adik Krissubanu, sebagai wakilnya. 

Mengapa Pesindo cukup kuat? Hal itu dikarenakan aktivisnya banyak masuk dalam pemerintahan pada masa Amir Sjarifuddin menjabat Perdana Menteri. Amir Sjarifuddin juga menduduki posisi selaku Dewan Penasehat Pesindo. Maka banyak anggaran kementerian Pertahanan yang memggalir ke Pesindo. 

Markas Pesindo di Mojokerto memang tidak lama yang kemudian dipindahkan ke Madiun. Namun aktivitas Pesindo di Mojokerto masih signifikan karena kedudukannya sebagai Ibukota Karesidenan Surabaya. Rapat-rapat terbuka serang dilakukan Pesindo untuk kepentingan politiknya. 

Pada tahun 1947, usai Mojokerto jatuh ke tangan Belanda, total kekuatan Pesindo dikonsentrasikan di Madiun. Ketika terjadi penataan formasi militer yang mengintegrasikan kelaskaran dalam TNI mereka bergabung dalam Brigade 29 yang dipimpin Letkol Dachlan. Batalyon Mansyur Solichy yang berasal dari Hizbullah juga bergabung pada Brigade itu. Tujuan Mayor Masyur Solichy adalah agar kesatuannya mendapatkan persenjataan dari Kementerian Pertahanan. Tetapi dia tidak ikut larut dalam agenda politik orang komunis di Brigade 29.

Krissubanu masih aktif dalam kegiatan Pesindo hingga bulan Agustus 1948. Dia kemudian digeser menjelang meletusnya pemberontakan PKI di Madiun. Namanya tidak terlihat lagi dalam susunan pemerintahan yang dibentuk di Madiun. Karesidenan Madiun yang dipimpin oleh Residen Samadikoen diambil alih oleh Soemarsono yang didampingi oleh Kolonel Djokosoejono sebagai Gubernur Militer. 

Soepardi yang sebelumnya merupakan wakil walikota Madiun diangkat sebagai Walikota oleh pemerintah Republik Sovyet Indonesia pimpinan Moeso. Kedudukan walikota langsung direspon oleh organisasi yang juga berideologi komunis. Ketua Sobsi Madiun sekaligis Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun, Hasanuddin, Ketua Partai Buruh Madiun, Istam, dan Ketua Pesindo Madiun, Yasmin Singomenggolo, menandatangani pernyataan dukungan. Tidak ketinggalan, Komandan teritorial Madiun, Letkol Soemantri juga tercantum dalam pernyataan itu. 

Sebagai kelengkapan pemerintahan diangkat Isdarto sebagai wakil Residen dan Purbo selalu wakil Walikota Madiun. Sementara untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan Djokosoejono ditunjuk komandan Batalyon Banteng Merah, Mayor Moestafa, guna menjaga ketertiban dalam kota Madiun. 

Kekuatan pemberontak di Kota Madiun menurut informasi berkisar 4.000 personel. Jumlah yang dirasa belum memadahi untuk menahan gempuran TNI. Dalam koran De Locomotief yang terbit pada 23 September 1948, Djokosoejono mengundang semuan kekuatan militer yang bersimpati untuk menggeser pasukannya ke Madiun. Mereka diminta menghadapnya di pendopo Kota Madiun. 

Letkol Dachlan yang bermarkas di Kediri tidak sempat bergabung karena cepat diamankan oleh TNI. Dalam proses pelucutan markas Brigade 29 tersebut, Mayor Mansyur Solichy ikut bertindak. Dia bergerak ke Kediri untuk menyelamatkan Moestofa, pemuda Mojokerto yang menjadi komandan kompi pengawal markas Brigade 29. Mansyur dan Moestofa bersahabat karena sama-sama lahir di Gedeg Mojokerto. 

Setelah berhasil diamankan, Moestofa dimasukkan dalam batalyon Masyur Solichy. Walau kedudukannya tidak lagi sebagai komandan kompi lagi, Moestofa kemudian ikut terlibat dalam perjuangan di sektor Mojokerto, termasuk pada pertempuran di Dlanggu pada Pebruari 1949.

Salah seorang korban kekejaman Peristiwa Madiun adalah Letkol Marhadi. Perwira TNI tersebut pernah menjadi Komandan TKR Mojokerto pasca meninggalnya Soemardjo di pertempuran Surabaya 1945. Marhadi yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staf SPDT Jawa Timur ditangkap di Madiun. Selanjutnya bersama tawanan PKI lainya dibawa ke Kresek Kecamatan Dungus Madiun dan dibunuh disana bersama tawanan lainnya. 

Krissubanu selamat dari kobaran api di Madiun yang banyak menelan korban. Dia diketahui tetap melakukan kegiatan politik, namun tidak lagi menjadi orang komunis. Krissubanu ikut diamakan di Jogjakarta bersama aktivis Pesindo lainnya. Moestofa juga berhasil diselamatkan dan menjadi bagian dari Laskar Hizbullah dalam kesatuan Batalyon Mansyur Solichy. (*)

Tjinde, 2 September 2026.

*) Source : Ayuhanafiq

Pesindo yang ada di Ibukota RI, Jogjakarta, ditangkap dan dilucuti